Puisi-puisi Azizi Sulung (Media Indonesia, 24 Desember 2017)

Aku Lupa Jalan Pulang, Sampah, Aku Tersesat di Sebaris Senyummu, dan Lainnya ilustrasi Pata Areadi - Media Indonesia.jpg
Aku Lupa Jalan Pulang, Sampah, Aku Tersesat di Sebaris Senyummu, dan Lainnya ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

Aku Lupa Jalan Pulang

 

pada sekian jarak

yang telah usai kupijaki

bersisa waktu

 

batu-batu bergelayut merebut bayangmu

memanggul rindu

memunguti sisa-sisa masa lalu

 

kembali kau mengajakku

menidurkan segala gelisah

pada seluruh langkahku yang tak tentu arah.

 

Rumah Belimbing, 2017

 

Waktu (I)

:faiqurrahman

 

tak ada yang lebih perih dari sebuah pertemuan

selepas kita sempurna menunaikannya

kita akan kembali menanggalkannya sebagai asal

mula

 

pada garis-garis tangan kita

tersimpan banyak rencana teramat rahasia

takdir sebagai pelarian

dan doa tak cukup upaya sebagai ikhtiar

 

dari sekian panjang perjalanan ini

waktu kita pijaki bertubi

sudah tak terhitung

berapa tebal air mata ini berderai

seberapa deras

keringat ini berkucur

 

mari,

berlayarlah membentur gelombang

sambil lalu kita mengasah keyakinan ini

: habis gelap terbitlah terang

 

Rumah Belimbing, 2017

 

Waktu (II)

 

suaramu parau

terpantul dari balik telepon genggam

mengecup pilu

diamini batu-batu

pada belukar

kita belajar kedalaman sabar

dan pada langit

kita mengutuk kesetiaan

atas segala sakit dan pahit.

 

Rumah Belimbing, 2017

 

Menyambangimu lewat Sebuah Pesan Singkat

 

sempurna sudah jarak ini membentang

mengubur segala gelisah

pada daun-daun

kita melepas gundah

pada keretap angin

kita menitipkan segala ingin

 

lewat sebuah pesan singkat

aku masih sangat utuh menyimpannya

tak ada kabar berarti tak sayang

rindu yang terpendam adalah cemburu yang

mematikan.

 

Rumah Belimbing, 2017

 

Kepergian Nenek

 

lalu-lalang waktu

tiba-tiba tersendat

meretas: mencipta pisah seumpama belati

 

kita pun tak kuasa menerka waktu

 

tatap mata ini begitu lama

membaca masa lalu

mengurai nasib yang masih teramat raib

 

kepal tanganmu di tanganku

menitipkan waktu

menunjuk jalan masing-masing

kita pun belum bertukar tahu

bahwa ajal adalah akhir segala temu.

 

Rumah Belimbing, 2017

 

Tanyakan pada Malam

 

tanyakan pada malam

apakah ia akan bertandang

melepas dingin

melepas resah

merapikan segala gelisah

dan riak rindu yang kian pecah

 

tanyakanlah pada malam

seberapa dalam mengubur dendam

menyimpan rahasia: masa-masa silam

yang kerap kita sanksikan

 

tanyakanlah pada malam

masihkah hati ini menjadi muara atas segala rasa.

 

Rumah Belimbing, 2017

 

Selamat Malam, Sayang

 

di basah malam

aku melempar penat

menatap ke langit lepas

lengang: menyiratkan segala kenang

 

hembus angin menyentuh jendela

hinggap dengan sangat terbata

berkabar tentang rindu seseorang di ujung seberang

 

selamat malam sayang

ucap malam pada sisa-sisa gamang

dan sudut kamarku yang sudah mulai remang.

 

Rumah Belimbing, 2017

 

Aku Tersesat di Sebaris Senyummu

 

malam-malam kembali perawan

awan menipis

merangkul mesra dawai angin

memecah gerimis

 

sepasang mataku tak lagi pandai

bagaimana cara berkedip

setelah diam-diam

senyummu terlempar

menabuh degub jantungku

yang sudah sekian lama mati

dan haus rindu ini

yang telah berulang kali kukebiri.

 

Rumah Belimbing, 2017

 

Sampah

 

adakah yang lebih setia dari kehadiranmu?

merindukan segala sempat

menghinggapi seluruh tempat

datang tak diundang

diusir pun kau lebih setia memilih bertandang

 

kerapkali kau lahir prematur

dari tangan-tangan jalang

dan niat usang para pembuang

 

kau cipta segala kesetiaan

tapi tak kalah setia kau lahirkan kebosanan

 

Rumah Belimbing, 2017

 

 

Azizi Sulung, lahir di Sumenep, 7 Juli 1994. Santri Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, Madura. Kumpulan puisinya yang telah terbit, Accident: Malapetaka Terencana (2012), Simposium (2012), Solitude (2012), Luka-luka Bangsa (2016), dan Rampai Luka (2016).

 

 

Redaksi menerima kiriman puisi orisinal dan belum pernah diterbitkan media massa lain. Kirim ke puisi@mediaindonesia.com

Advertisements