Oleh UK Aditya Supriyanto (Pikiran Rakyat, 24 Desember 2017)

Adalah ilustrasi Google.jpg
Adalah ilustrasi Google

KITA sangat mudah menjumpai kata “adalah” dalam esai alias tulisan-tulisan nonfiksi. Cobalah minta murid sekolah atau mahasiswa menulis tentang masjid, misalnya. hampir semuanya akan memulai dengan “masjid adalah…” Itu terjadi beberapa kali ketika saya mendampingi murid sekolah dan mahasiswa belajar menulis esai. Adalah sudah menjadi kata andalan yang setidaknya dapat membantu penulis menyelesaikan kalimat pertama.

Kecenderungan memakai adalah dalam esai bukan hanya terjadi pada penulis baru dan yang baru berniat menulis. Kecenderungan menggunakan adalah juga terjadi pada penulis-penulis kondang. Kita dapat menilik buku kumpulan esai Muhammadiyah Kini dan Esok (1990) sebagai contoh. Buku tersebut berisi esai-esai penulis kondang dan dua di antaranya, Azyumardi Azra dan Din Syamsuddin, memunculkan adalah sejak kalimat pertama. Azyumardi Azra menulis, “sejarah gerakan pembaharuan Islam di Indonesia adalah bidang kajian yang sangat menantang,” sedangkan Din Syamsuddin menulis, “Orde Baru adalah sebuah episode dalam perjalanan sejarah Bangsa Indonesia yang muncul sebagai antitesis terhadap apa yang disebut dengan Orde Lama.”

Kamus Umum Bahasa Indonesia (1976) susunan WJS Poerwadarminta memuat adalah sebagai kata turunan dari kata ada, dengan definisi: (pada permulaan cerita) ada: atau (untuk menghubungkan pokok kalimat dengan sebutan yang bersifat penjelasan, berarti:) ialah. Kamus Bahasa Indonesia (2008) memberi definisi lebih banyak, yakni: kata untuk menegaskan hubungan sub jek dan predikat yang bersifat penjelasan; sama maknanya dengan; termasuk; dan identik dengan. Dua kamus kiranya sudah cukup untuk memberi definisi dan penjelasan. Namun anehnya, meski adalah kerap digunakan murid sekolah, Kamus Bahasa Indonesia Sekolah Dasar (2003) maupun Kamus Pelajar Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (2003) sama-sama tidak memuat kata adalah!

Penyair paling kondang dan dipuja di zaman ini, M Aan Mansyur, amat gandrung pada adalah. Kata itu melimpah dalam buku puisi terbarunya, Perjalanan Lain Menuju Bulan (2017). Adalah sudah muncul sejak sajak pertama di babak pertama (“Ibu yang Menunggu”) dan letaknya pun di kalimat pertama: Pergi adalah kemestian/ bagi seorang anak. Pergilah./Bertualanglah. Jangan hilang. Adalah kembali muncul pada sajak ketujuh: Cinta adalah bahasa yang takut/bicara. Ia menyerahkan lidahnya/ kepada kata-kata yang hampa:/ kesedihan dan sepi, kerelaan/ dan kecemasan, juga// kepengecutan dan segala/ yang tidak bisa kau pastikan/isi dan warnanya.

Pada babak kedua (“Lelaki yang Anjing”), adalah malah muncul dua kali dalam satu kalimat. Pada sajak ketiga di babak kedua, M Aan Mansyur menulis: Kesetiaan adalah takdirku dan cinta adalah kutukan.

M Aan Mansyur baru meminimalkan adalah pada babak ketiga. Tentu terlambat, karena kita telanjur kenyang dengan adalah. ***

Advertisements