Puisi-puisi Mahwi Air Tawar (Jawa Pos, 24 Desember 2017)

No Title Aceh ilustrasi Google.jpg
No Title: Aceh ilustrasi Google

Aceh: No Title

Dengan selempang hangat Sabang

kuselipkan rencong berulu petang

pada rambatan akar pohon nyeri

di linangan Aceh bahtera negeri:

Kulihat bintang dari ladang kerontang

angin desaukan serbuk mesiu, juga gema zikir

orang-orang menggelar sajadah belukar

merentangkan bayang diri di bawah bulan

yang piatu, yang dihunjam pisau rindu

yang terpikat pesona merah belenggu

di ladang tumpuan, di nyeri negeri.

Suar Aceh saman senyuman,

salam rencong hangat pelukan

Selamat datang Tuan Puan

silakan sulam baju badan

Dengan perahu bahasa kulayari cerlang matamu

Isyarat layar tak pernah lekang, kian terkembang

Dalam kitaran pasang perang

berkecai masai sudah ke tubir kesunyian.

Maka, di bawah bintang, di langit impian

kurajut selendang daun pala

kulayangkan pandang sulaman selongsong

dari ladang harapan hijau yang silam

biarpun peluru tembusi kelam

‘kan terus kuburu bayang cintamu

hingga dapat dibelai

dan kudekap samudera hatimu.

Kububungkan ini serbuk

agar bulir kopi tak sehitam nasib

dirimbun buruan saudara serabu

kuseduh hitam pandangan di tungku

kukunyah riap harap dari sela kayu

hingga nanar mata-mata nanar tinggal kerlip

di lembar daun pensedap lapar, juga dahaga.

Kumasuki lubang keheningan

meski di sini, kesunyian lebih nyaring

dari gema ledakan senjata dan desir zikir

menyusup ke bilik cintaku, ke pintu kerinduan

dekapan hangat tanah kelahiran:

Mari Tuan Puan ke mari, nikmati kopi dan tari

Tepuk dada dukana, belai hati merana

Di atas meja dan taplak dari peta tak berskala

buah pala, lada, dan aroma kopi

kujumpai Aceh bertukar sajian

dalam lumatan bibirmu, Kekasih

dalam dekapan lautan Cintamu, aduhai

: alangkah lezat dan pedas menu doa tersaji.

Tapi pada pagi yang ranum

ketika impian mekar terkulum

suaramukah mengaum dari tubir serambi?

lantak dan rancak menepuk punggung

adakah Aceh madahkan marwah agung

sampai tak kudengar lagi kepak sayap ayam tangkap

juga riwayatmu dari Saman se Iman se lingkaran?

Saman semadi Gayo puisi

Puisi Saman pekati saksi

Kesaksian iman kepada Ilahi

Hendaklah lebur dalam hati.

 

Dalam kerlip gelap rinduku

lepas pandangku berarak awan

dari titian puisi dendangkan

Saman tarian, Saman dekapan

Ketika wajahmu senyap membayang

kuselipkan rencong di punggung

kupanjati pala dada hingga pelepah

di sela ranting kusesap nira rempah

dan bibirmu yang semerah darah.

Dan, jauh di kelam sejarah,

ada rantai sepanjang pandang

di pergelangan kaki tonggak Sabang

daun terlarang pembatas halaman

di kitab herbal mujarab belaian.

Tapi telanjur.

Hitam cerita telah dilaburkan

di punggung pagi kesenduan

warna-warni kenangan membayang

dalam dekapan pagi tsunami.

Aku menari ikuti ayunan pohon rempah

di Serambi, di Serambi selembar daun mengigil

mencari akar jauh ke batas keheningan meditasi:

dalam mabuk

tegak Aceh

dalam meditasi

Suar Aceh

selembar surat peringatan berlepasan

dari pohon azimat rempah

Aceh kejayaan.

 

Himbauan

 

Pengumuman ini saya rangkum

dari gumpalan awan, merah belukar

dan retakan pintu sebelum tangan petang

menggaris arah jalan ke kelokan

jendela pembingkai langit pagi:

 

Kepada semua pasukan berompi pagi

Diharap segera memasukkan lembaran minimal

ke dalam map berwarna kuning keemasan

dan menyimpannya di sulur fajar

sampai hangat pelukan terangkum senyum

dalam berita acara, juga kelopak bunga

di beranda selapang dada.

 

Masih adakah belaian di retakan dada tertinggal?

segera panjati menara menusuk gelap

dengan derap cahaya dukana

yatim masa depan, dan janda yang diabaikan.

 

Kita saudara sekalbu serabu

Dalam puisi rindu bertalu

Kita sedarah senafas seseru

Dalam dekapan rebah pilu

 

Peperangan sudah lama dimulai

Kepada semua pasukan berompi air mata ibu

harap segera bergegas mengoyak moyak

kabut dalam diri, dan tak kunjung berpaling

kesenduan dan kebahagiaan bertaut

ditapal batas usia.

 

Apabjla ada-hal yang menyebabkan

hati menderai masai ke kabut pandangan

Kepada pasukan segera

menarik diri ke dalam jantung kesunyian.

 

Di titik nol Indonesia,

hitam mimpi disangrai sudah

kopi, pala dan lada tersaji hangat

bersama tarian saman

jamuan terdedah di cakrawala.

 

Alangkah sedap aroma, ampas silsilah

gayo masai berkecai, rencong menusuk awan

aksara gamang membayang panjang .

Anak negeri tegak menantang.

 

Pendatang ayunkan kumis serupa tangkai

rebah di rempah bagi beku darah,

lidah sengsara mencecap rasa menghisap cinta

dalam rindu batin merana.

 

Perintah pun datang menebang

dari angka dolar negeri seberang

babatlah silsilah di tanah wasilah,

rantailah kaki di punggung senja

penjajah berselempang marwah

di bawah cahaya bulan impian.

 

Manis di hati, pait di lidah;

adakah Serambi melulu jadi tempat

mula kata mencair dari kelopak mata

dan, menara syahadat

tegak lurus dalam bujur lara?

 

Dalam nampan, doa tersaji

Tak  musti terseduh dan dihidangkan

biar kelak tahu, segala yang hitam

tak menutupi gelap pandangan

tamu pencari tanahmu keramat

kan dikalungi akar pekat.

 

Kelam cerita kuseduh sudah

Manis kopimu kusesap cuma

Kalam Fansuri syair kudedah

Menafsir hidup di kopi hanya

 

Pengumuman ini saya sampai-

kan lewat kawat kerinduan

agar terhubung damai dan cinta:

putih kisah dimaniskan sudah, da-

lam cangkir doa meriak

terdengar gema jauh dari batas silsilah

di atas tanah Aceh membayang sembahyang

degup pasukan suguhkan ceri-

ta, di pintu usia jelang senja.

 

Dan ketika bintang dan bulan membawa Bayangan Ibu

ke cakrawala, tembusi lapis gelap hari-hari tak pasti

Kepada pasukan harap mencan-

tumkan nama dan alamat

sebelum sepotong bibir ombak mengulum duka abadi

dan kebahagiaan datang tanpa dijelang

mensesap hikmat nafas baru kehidupan

 

Kemala puisi Bayangan Ibu

Kemilau cinta denyutan kalbu

Kerlip dan desau nafasmu ibu

Ke palung puisi surga diseru

 

Di surga takkan dijumpa kopi, juga puisi

hanya derap kaki bernanah dalam karat rantai

berjalan beriring hantar rempah keharibaan penjajah

juga Gayo, jauh beserpih ke batas angan

seusai disangrai dengan kayu dari tulang, juga jantung

belaian jari sunyi Sabang.

 

Mengingat dan menimbang:

Pengumuman dan himbauan ini penting adanya

saya harap semua pasukan segera me-

lukis titik sepi cakrawala

di kanvas kehidupan dunia hampa.

 

Rentangkan sajadah pikiran di Serambi Mekah

sebelum bayangan hilang di angan

dan segenap duka lara halang pandangan hanya.

 

 

Jakarta, Agustus 2017

 

Catatan:

Bayangan Ibu adalah buku kumpulan puisi D. Kemalawati, lapena, 1916.

 

MAHWl AIR TAWAR, lahir di Sumenep, 28 Oktober 1983. Buku kumpulan cerpen dan puisi tunggalnya yang sudah terbit Mata Blater, Karapan Laut, Taneyan, Tanah Air Puisi, Puisi Tanah Air, Mahwi Air Tawar, dan sebuah buku kumpulan puisi seri tokoh, Lima Guru Kelana ke Lubuk Jiwa.

Advertisements