Cerpen Agus Salim (Kedaulatan Rakyat, 24 Desember 2017)

Abadi seperti Pohon Natal ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyat.jpg
Abadi seperti Pohon Natal ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat 

“Bisakah kita seperti pohon Natal?”

Kita bisa menjadi apa saja sepanjang kita mau berusaha, Rei. Tapi yang kubayangkan saat ini adalah kehidupan sesungguhnya: ada dua anak kecil berlarian, mengelilingi kita, atau mengitari pohon Natal itu seperti sepasang serangga yang mencintai cahaya, dan kita bercakap-cakap sangat akrab sekali, seolah semua topik tiba-tiba menjadi penting untuk dibahas, dan sesekali kita tertawa karena tersentuh oleh bahasa yang, mungkin, lucu, atau, kita sengaja menertawakan kenangan yang ingin kita lupakan, tapi tak bisa-bisa, dan mereka, dua anak kecil itu, tak memedulikan kita karena sibuk saling kejar dan berbahagia dengan cara mereka. Ouh, bukankah itu sangat indah, Rei?

“Jangan terlalu tinggi berkhayal, Ric, jika tak ingin sakit saat tak mampu mencapai. O, ya, sudahkah kau belajar memahami kenapa kita merayakan Natal dengan pohon cemara?”

Hmm, kau sepertinya tak tertarik menjawab pertanyaan itu. Tak apa. Tapi, baiklah, coba aku pikir kembali, hmm, benar juga katamu itu.

Sepanjang hidup, aku memang belum bisa memahami kenapa harus merayakan Natal dengan sebatang pohon cemara. Tapi, aku hanya tahu kalau pohon cemara diyakini sebagai simbol keabadian. Sudahlah, kita tak usah membahas itu. Ada yang lebih penting untuk diselesaikan, malam ini.

“Aku merasa kita tidak bisa seperti pohon Natal, Ric.”

Kau terlalu pesimis, Rei. Sudah kukatakan, kita bisa menjadi seperti apa saja kalau kita mau berusaha. Dan, sebagai laki-laki, aku berharap hidup kita sempurna sebagai sepasang manusia yang dipersatukan oleh Tuhan. Apa kau tak merasakan kalau hubungan yang sedang kita jalani ini aneh? Kita memiliki ikatan tapi hidup sendiri-sendiri. Kau di sana, aku di sini.

“Mau bagaimana lagi, dan bukankah dulu, sebelum kita memutuskan menikah, aku sudah sampaikan kepadamu apa yang aku inginkan? Dan kau sama sekali tak keberatan, dan bahkan mendukung. Tapi kenapa sekarang kau malah protes? Kau tidak konsisten, Ric.”

Waktu itu penghasilanku memang masih belum stabil. Dan sekarang cerita sudah berbeda dan aku tidak mau lagi berlama-lama hidup dalam dusta. Jadi, bisakah kau merelakan pekerjaanmu di kota itu dan tinggal bersamaku di kota ini?

“Hmm, aku tidak menyangka, kalau akan mendapatkan pertanyaan semacam itu pada malam yang dipenuhi berkah natal ini, dan itu sangat menyakiti. Kau tahu, aku sangat mencintai pekerjaanku. Bukan hal gampang mendapatkan posisi seperti yang kurasakan saat ini, Ric. Ya, bukan hal yang gampang. Atau begini saja, kau tinggalkan pekerjaanmu di kota ini dan ikut bersamaku tinggal di kota itu. Akan kucarikan pekerjaan yang tepat buatmu. Bagaimana?”

Kau ingin memisahkan aku dengan kota kelahiranku, Rei? Jahat benar kau! Kalau kau tak bisa merelakan pekerjaanmu, sepertinya aku harus berbuat sesuatu untuk kita, Rei.

“Ya, sudah aku duga, pada akhirnya kita memang tidak bisa seperti pohon Natal, Ric. Rasanya, sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Sebaiknya aku segera tidur agar besok bisa bangun pagi dan bisa pergi dari rumah ini. Selamat malam.”

Baiklah. Selamat malam, dan janganlah terlalu yakin kalau besok kau bisa membuka mata. Kau dan aku telah meminum anggur beracun itu, Rei. Kupastikan, beberapa menit lagi, kau dan aku akan tidur panjang. Kita akan abadi seperti pohon Natal. Jangan khawatir, aku telah memesan tempat untuk kita di San Diego Hills. n-e

 

Asoka 201

*) Agus Salim. Lahir di Sumenep tanggal 18 Juli 1980. Tinggal di Jalan Asoka 163 Pajagalan Sumenep 69416 Madura-Jawa Timur. Buku kumpulan cerpen tunggal Lima Cerita dalam Satu Malam di Bawah Bulan Gerring, Intishar, 2017.

Advertisements