Puisi-puisi Soni Farid Maulana dan Conie Sema (Koran Tempo, 23-24 Desember 2017)

Salju ilustrasi Google
Salju ilustrasi Google

Sebelum Salju

– mengenang Rendra

 

Malam ini kau hadir kembali

dalam ingatanku. Dingin angin Leiden,

sebelum salju gugur sore hari. Sore itu

kau bicara soal teratai yang mekar

di bawah bulan; juga soal keheningan;

yang meruang mewaktu dalam hidup manusia.

 

“Daya hidup tak boleh mati, walau maut

mengancam dari setiap celah. Ia adalah

nyawa kita di bumi,” demikian kau bilang

saat itu, sebelum kau cerita

Selamatan Anak Cucu Sulaiman

yang kau gelar di berbagai tempat.

 

“Daya hidup itulah yang aku tulis

untuk bangsa ini; yang mudah menyerah

ditindas penguasa dan pemilik modal

yang dzalim. Mereka harus kita lawan,”

katamu, saat itu. Lalu dari balik

jendela kita saksikan guguran salju

yang mengendap di ranting pohonan

gugur daun. Gugur daun

 

2017

 

Soni Farid Maulana lahir di Tasikmalaya, 19 Februari 1962. Buku puisi terbarunya adalah Sisa Senja (2017), Kisah Suatu Pagi (2017), dan Sehabis Hujan (2017).

 

Laki-laki Menyebut Marie

 

aku berpikir sebagai perempuan. tidak laki-laki. aku berpikir seperti marie di remang sore itu. tidak ada rudolf atau mawar samuel tertempel di tatto tubuhmu. sangat purba. gambar-gambar yang pernah menggodaku. ihwal kecemasan. marie menghapal benda-benda bergerak dalam ruang warna-warni cahaya. kebebasan yang menyakitkan. degung. pura-pura sepanjang jalan. batu-batu memancar kesunyian. senyap sekali ketika ruang menyebut marie. marie hanya berjarak satu meter sepanjang tepi-tepi kau lewati.

 

aku berpikir sebagai laki-laki. tidak perempuan. di sore terakhir menjemputmu. ketika ritual malam mengantar trance di luar pura. cafe sesak. seseorang entah siapa lagi tiba. kerauhan-kerauhan silam. kenangan suci dalam mie instan. segelas kopi lama mendingin. oh, kau marie setiap pulang nyerupa dewa. menjadi shindu dan sesuatu yang tidak pergi. memangku alam dari pertengkaran identitas. kelamin. sexisme. seperti rudolf dan mawar samuel menjilati lelehan coklat di bibirmu. tuhan. tangan mereka melayang laksana kecak. diksi yang menggerutu. tuhan. itu ruang kembali menyebut marie.

 

aku berpikir sebagai laki-laki. membangun tubuhku seasal bayi. tumbuh. tumbuh. marie di mana kau pulang.

 

Ubud-Sanur, 28 Nov. 2017

 

Conie Sema lahir di Palembang dan tinggal di Lampung. Selain puisi, ia menulis esai, cerpen, novel, dan naskah drama untuk Teater Potlot.

Advertisements