Cerpen Robby Julianda (Koran Tempo, 23-24 Desember 2017)

Pilihan Ganda dari Tuhan ilustrasi Yuyun Nurrachman - Koran Tempo
Pilihan Ganda dari Tuhan ilustrasi Yuyun Nurrachman/Koran Tempo

Pilihan Ganda

Pilihlah salah satu huruf a, b, c, atau d, sesuai dengan jawaban yang Anda anggap paling benar!

 

Anda sedang berada di atap sebuah gedung 37 lantai, berdiri di salah satu titik yang mempertemukan sisi gedung agar mata Anda leluasa memandang kota di bawahnya, seolah Anda sedang memandangi miniatur kota rancangan seorang arsitek agung: petak-petak rumah dan gedung-gedung yang menjulang; barisan pepohonan; ratusan kendaran yang bergerak lambat menyusuri jalan raya bercabang yang membagi pemukiman menjadi bagian-bagian kecil; lapangan; juntaian kabel yang menghubungkan tiang-tiang, sebuah sungai lebar yang mengalir tenang menuju laut yang begitu jauh dari pandangan Anda, membelah kota menjadi dua bagian, serta sebuah jembatan kukuh yang kembali menghubungkan dua bagian tersebut. Anda memperhatikan semua itu dengan saksama hingga menimbulkan perasaan takjub. Segalanya tampak simetris dan tertata. Lebih-lebih usai menatap kerlip cahaya matahari yang dipantulkan air sungai dan seluruh kota membuat perasaan tenang menghinggapi Anda untuk sejenak.

Anda kemudian merasakan keringat mengalir di dahi Anda dan tengkuk Anda terasa panas. Anda mendongak. Matahari yang sejajar dengan kepala membuat Anda harus mengerinyitkan mata karena silau. Tak ada awan. Hanya hamparan langit biru yang memayungi Anda.

Tiba-tiba angin bertiup kencang. Gelombang rasa takjub dan tenang yang menjalari Anda sebelumnya lenyap, berganti dengan rasa khawatir kalau-kalau angin membuat Anda limbung. Andai jatuh, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke bawah? Anda bergidik memikirkannya kemudian mundur beberapa langkah sembari melihat jam tangan. Pukul 12 tepat. Empat puluh lima menit yang lalu Anda baru saja dipecat dari pekerjaan.

Setelah pemecatan tersebut, hal apa yang akan Anda lakukan selanjutnya?

a. Mengambil ancang-ancang lalu terjun bebas dari gedung.

b. Turun lewat tangga darurat dan kembali menemui atasan Anda di salah satu ruangan lantai 29.

c. Pulang ke rumah dan melanjutkan hidup seolah tidak terjadi apa-apa.

d. Menyerahkan semuanya kepada Tuhan.

Kau tiba-tiba merasa putus asa. Kau sendiri tak yakin apa yang akan kaulakukan andai Tuhan memberikan pilihan semacam itu.

a. Mengambil ancang-ancang lalu terjun bebas dari gedung.

Ini bukan pilihan yang sulit sebenarnya. Kau dicampakkan dan dianggap sudah tak berharga-apa lagi yang pantas untuk dilakukan kecuali melompat? Andai kau melakukannya, nyaris tak ada peluang untuk hidup. Kau mampus dan otakmu berceceran di jalanan atau trotoar-beruntung jika seseorang mau mengumpulkannya dalam kantong plastik. Namun kau masih mencintai kehidupan meski kehidupanmu tak bisa dikatakan bahagia. Kau hidup sendiri dan bekerja sedari usia muda. Dua minggu lagi usiamu 46 tahun. Kau tak pernah bergonta-ganti pekerjaan, bekerja selama 21 tahun terakhir di perusahaan yang sama sebagaimana laku seorang kekasih setia. Semuanya bercampur aduk. Kau marah dan kecewa dan sedih dan putus asa. Bukan karena pesangon yang diberikan tak memuaskan, namun harus terpisah dari pekerjaan yang sudah menjadi identitasmu bukanlah perkara gampang. Secara tidak langsung pemecatanmu sama saja dengan kematian. Aneh memang, seseorang yang sudah mati masih mencintai kehidupan.

Bagaimanapun Tuhan masih memberikanmu pilihan yang lain…

b. Turun lewat tangga darurat dan kembali menemui atasan Anda di salah satu ruangan lantai 29.

Tentu saja, kembali menemui atasanmu bukanlah demi adegan memohon-mohon agar ia urung memecatmu dan, sambil berlinang air mata, mengatakan pemecatan itu adalah sebuah kesalahan. Kau masih punya harga diri. Kau mungkin melakukannya karena perasaan menyesal dan menyalahkan diri sendiri sebab kau tak berkutik sedikit pun di hadapan atasan yang umurnya jauh lebih muda. Kau masih ingat bagaimana ia menyambutmu di ruangannya dengan wajah murung namun ia tak menyadari cara duduknya di tepi meja membuat kau merasa direndahkan. Setelah basa-basi atau apalah namanya, ia mempersilakan kau duduk.

“Bapak M. Azhar Ahmad,” ia berkata dengan suara berat sambil mengetuk-ngetuk meja dengan ujung jari. “Mungkin Bapak sedang bertanya-tanya-ada apa? Namun saya akan langsung saja. Alasan kita melakukan pembicaraan ini adalah karena posisi Bapak di perusahaan ini sudah tidak tersedia lagi,” ucapnya lancar. “Bapak dipersilakan untuk pergi mencari peluang dan pengalaman baru.”

Saat itu kau serasa disambar petir.

“Saya masih tak mengerti. Dipersilakan untuk pergi maksudnya?” Kau bertanya bukan karena tak mengerti. Kau hanya mengulur-ulur waktu. Percuma saja.

“Ya, Bapak dipersilakan untuk pergi,” ulangnya.

“Apakah saya dipecat?”

“Sebenarnya kami tidak diizinkan menggunakan kata-kata tersebut. Namun dengan menyesal harus saya katakan: Bapak dipersilakan untuk pergi. Semoga Bapak mengerti mengingat situasi sekarang tak memungkinkan kita untuk—”

Ia mulai berceloteh tentang ini dan itu dan kau hanya diam. Kau memandangi gerak mulutnya sesekali menatap foto keluarga yang dibingkai, sengaja ditaruh di atas meja. Selama berceloteh ia menggaruk hidungnya delapan kali. Ketika selesai ia tak lupa mengucapkan terima kasih untuk kerja keras dan jasamu selama ini bagi perusahaan dan selanjutnya kau bisa melapor ke bagian administrasi mengambil uang pesangon. Ia kemudian mengulurkan tangan dan kau menyambutnya dengan perasaan hancur dan hasrat untuk menumbuk batang hidungnya sekaligus.

Jadi sekaranglah saatnya kembali masuk ke ruangannya, mendobrak pintu dengan kasar kemudian melabrak meja dan melihatnya menciut ketakutan di kursi putarnya. Selanjutnya kau bebas menyumpahi omong kosong tentang peluang baru pengalaman baru tahi kucing yang sebelumnya ia muntahkan. Sebelum keluar dari sana, tentu saja kau bisa melepaskan hasrat menumbuk hidungnya lalu meraih foto keluarga bahagia atasanmu kemudian membantingnya ke lantai atau melemparnya lewat jendela.

Namun kembali lagi ke akar masalah: Apakah semua itu akan membuat pemecatanmu dibatalkan? Yang kaudapati mungkin dua orang petugas keamanan sedang memitingmu.

Bagaimanapun Tuhan masih memberikanmu pilihan yang lain…

c. Pulang ke rumah dan melanjutkan hidup seolah tidak terjadi apa-apa.

Pulang ke rumah dan melanjutkan hidup seolah tidak terjadi apa-apa akan membuatmu menjadi seorang pecundang yang paling pecundang. Kau sudah cukup dipermalukan istrimu ketika delapan tahun yang lalu ia lebih memilih laki-laki lain. Awalnya rumah tangga kalian baik-baik saja dan kalian saling mencintai. Namun setahun sebelum ia angkat kaki dari rumah, kalian lebih sering bertengkar daripada bercinta. Permasalahannya: istrimu tak bahagia sebab belum memilki anak. Padahal sebelum-sebelumnya ia tak pernah mempersoalkannya.

“Tolong hentikan tatapan itu.” Kata-kata itu selalu meluncur ketika obrolan mulai memanas dan pertengkaran segera dimulai.

“Tatapan apa?”

“Tatapan itu. Tatapan ini-semua-salahmu itu.”

“Jadi ini semua salahku?” balas istrimu. Ia langsung berada di atas angin. Lidahmu kelu sebab semua memang kesalahanmu. Kau mandul.

Sekarang istrimu hidup bahagia dengan laki-laki yang tak pernah kauketahui bentuk wajah atau potongan rambutnya-kabarnya mereka dikaruniai seorang anak perempuan. Andai saja kau tahu siapa laki-laki itu, pikirmu geram. Geram. Hanya sebatas itu. Kau tak pernah mencari tahu mengapa istrimu berubah setahun sebelum meninggalkanmu lantaran seluruh perhatianmu disedot oleh pekerjaan. Dalam hati kau pun agaknya mengakui, terlepas dari masalah kejantanan, kalau kau sebenarnya seorang lelaki lemah. Jika tidak demikian, kau mungkin sudah mencari tahu tentang laki-laki itu dan menghajarnya hingga babak belur. Setelahnya mungkin kau menghabiskan tiga empat bulan di penjara sembari berdoa sipir penjara tidak menggilirmu setiap malam.

Mungkin memang ada baiknya bagimu pulang ke rumah dan melanjutkan hidup seolah tidak terjadi apa-apa.

Kini kau tak terikat lagi dengan pekerjaan sehingga memiliki banyak waktu untuk anjing peliharaanmu. Manis, begitu kau memanggilnya. Seekor anjing golden retriever warna cokelat pudar dan putih pada bagian leher dan kakinya. Manis kaubeli setelah istrimu pergi. Harga yang mahal untuk mengusir kesepian.

Kau dan Manis bisa jalan-jalan setiap sore. Menyusuri bantaran sungai atau duduk di bangku taman sembari menanti matahari tenggelam. Bisa jadi, di sela-sela jalan sore kalian, kau akan bertemu dengan seorang perempuan. Kau tahu, perempuan selalu tertarik dengan laki-laki yang memelihara anjing. Namun kau kembali mengingat kesalahanmu: urusan kejantanan.

Anggaplah menghabiskan banyak waktu dengan Manis membuat kau lebih bahagia. Namun apa yang akan terjadi setelah uang pesangonmu habis, pikirmu. Di umurmu yang sekarang, kau tak akan mendapatkan pekerjaan seperti sebelumnya. Mustahil untukmu kembali bekerja di kantoran. Kau bahkan akan ditolak mentah-mentah menjadi penjaga toko karena pemilik toko hanya butuh anak-anak muda penuh semangat dengan penampilan menarik dan kuat dan sarjana. Kemiskinan dan kesendirian dan masa tua membuatmu takut setengah mati.

Dan sekarang kau masih berdiri. Menatap nanar ke arah kota di bawahmu yang sebelumnya membuatmu takjub.

Bagaimanapun Tuhan masih memberikanmu pilihan yang lain…

d. Menyerahkan semuanya kepada Tuhan.

Tetapi… bagaimana mungkin kau menyerahkan semuanya kepada Tuhan sedang Tuhan sendiri memberikanmu pilihan?

 

Sungai Landia, 2017

 

*) Bentuk dari cerpen ini dikembangkan dari tulisan Eko Triono, “Cerita dalam Ulangan Harian Kita.”

 

Robby Julianda lahir pada 1991 dan sekarang menetap di Nagari Sungai Landia, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Advertisements