Oleh Ongki Arista UA (Rakyat Sumbar, 23 Desember 2017)

Pantai Tatapan ilustrasi Rakyat Sumbar
Pantai Tatapan ilustrasi Rakyat Sumbar

DULU, ketika waktu tak pernah tepat, tak pernah benar, tak pernah memihak, tak pernah berbohong dan tak pernah terkubur, kau tak muncul bersama detik atau jam, atau hari atau bulan. Kenapa kau tak ikut waktu berlayar, padahal aku telah menunggumu di pinggir pantai, tempat para pelayar biasanya berhenti meski sedetik, meramaikan waktu, tanyaku tak terselesaikan.

“Mengapa kau tak datang?”

Tanyaku tak pernah berubah, dari tempat dan waktu ke tempat dan waktu yang lain. Tak ada jawab, hingga tak ada tanya. Tanyaku hanya terjawab dengan tanyaku di waktu dan tempat yang lain hingga tak muncul lagi menjadi sebuah tanya. Lalu aku diam saja, berpikir untuk tidak bertanya tentangnya yang tak kunjung datang menghantuiku di pantai, menjawab tanya meski sedetik.

Pantai itu bernama “Tatapan”.

Di sana banyak makna merasuki pasir-pasir. Kadang pasir-pasir membantuku berdoa kau datang dan bersama menjadi pasir-pasir yang abadi bersama pantai tatapan itu, lalu kita bisa menari sepuasnya bersama angin pantai itu. Aku tahu, kau tak suka menjadi pasir, kau lebih suka menjadi laut yang bergemuruh memainkan gelombang. Aku tahu kau tak mau menjadi pasir yang mudah diombang-ambingkan gelombang pantai, yang gemulai bagai tarian di sisiku. Kau memilih menjadi gelombang lautan yang ganas itu.

Apakah karena pasir-pasir itu kau tak mau datang? Aku tak punya teman selain pasir itu. Hanya pasir-pasir itu yang setia mendoakanmu datang.

Aku tak mungkin datang pada pantai yang tak berpasir. Selain aku tak punya ongkos bepergian, aku juga tak yakin ada pantai yang tak berpasir. Datanglah! Jika kau tak suka pasir, tak suka meski sedetik melihatnya, ayolah! Bayangkan yang lain, lalu datang ke pantai ini.

Aku melihatmu, terus melihatmu. Kau menenteng sebuah tas kresek dan berkali-kali kau berhenti dan meletakkan kresek itu, lalu melanjutkan langkahmu mendekat ke arahku. Semakin dekat kau menuju ke arahku, semakin jelas kulihat kau. Aku kira itu kau, ternyata bukan kau. Mataku saja yang mendahului kau datang hari ini. Datang malam ini. Datang bersama harapku yang telah menua di sepanjang waktu.

Entah bagaimana caranya, aku menunggumu datang, meski waktu tak pernah tepat bagimu untuk datang, meski terlambat dan meski tak mungkin.

“Apa yang kau tunggu?” Ombak menyapa, membasahi jemari kaki, mengulum telapak kaki dengan pasir-pasir yang terbawa ombak yang berlari dari tengah lautan sana.

“Aku menunggu kekasihku.”

“Sejak kapan kau punya kekasih?” tanyanya semakin mendekat, mengulum kakiku, lebih dalam dari sebelumnya.

“Aku tidak tahu sejak kapan.”

Kau tidak tahu kalau cinta lebih penting diingat rindunya daripada kapan jadinya, bisikku.

“Bagaimana cara kau menunggu kekasihmu?”

“Diam bersama pasir di sepanjang pantai lalu mengajaknya berdo’a.”

***

SEJAK itu, aku sadar. Pasir hanyalah dan tetaplah pasir. Menunggu yang tak pasti ialah tetap saja ketidakpastian, tetap saja hal gila, tetap saja menunggu, buang-buang waktu, buang-buang harapan.

Sejak itu aku sadar, aku tak punya kekasih selain dalam khayal yang begitu nyata, dalam mimpi yang nyata melebihi kenyataan. Ia berjanji datang di pantai ini. Jelas sekali tatapannya di pantai yang basah ini. Aku tak mungkin menganggapnya mimpi, karena nyata sekali dan aku tak mungkin menganggapnya nyata, karena itu memang nyata sebuah khayalan yang mengeras membentuk mimpi.

Itu tak nyata, tak lama, tak serius dan tak pasti akan nyata terjadi. Aku tak dapat meyakini sesuatu datang melebihi mimpi jika itu memang benarlah mimpi dan aku juga tak akan mengingkarinya sebagai kenyataan karena telah merenggut miliaran konsentrasi dalam hidupku untuk membuatnya nyata selama bertahun-tahun.

Aku pergi meninggalkan pantai, mengusir pasir-pasir yang terlalu semangat mendoakan mimpi itu. Langkahku mulai tak karuan. Aku tertatih karena lelah menunggu lalu kembali tidur untuk memimpikannya, mengembalikan kenyataan. Kini akan aku ajak dia keluar dari mimpiku. Aku akan paksa dia tidak hanya menjadi mimpi belaka.

Akan aku sambut nanti. Tapi kapan? Tentu aku tak tahu. Aku hanya tukang tidur, yang yakin, mimpi akan menjadi nyata. Aku tidur, lalu memaksanya nyata, datang dalam mimpi dan nanti aku akan membawanya keluar menjadi nyata, lebih nyata lagi. Aku seperti ini karena ingin mempertanggungjawabkannya. Aku laki-laki yang selalu berjanji mengabulkan mimpi-mimpi dalam hidup ini.

“Aku datang, Ayo bangun!” Aku tak segera membuka mata. Tidurku terganggu. Kenapa yang datang bukan perempuan? Gadis? Atau serupa gadis yang aku tunggu? Ke mana gadis itu? Ke mana tadi? Ke mana mimpiku?

“Ah!”

Aku melihat wajah lelaki, bukan dia gadis itu. Aku memutar-mutar tubuh, membuka mata pada benda-benda di sekelilingku. Aku tak menemukan apa-apa. Aku pun tidur kembali. Aku tak mampu menahan kenyataan tanpa dia di mimpiku nyata. Lebih baik aku tak nyata saja. Aku kembali tidur, setidur-tidurnya meski di ujung akan terbangun kembali.

Meski tak nyata, cerita tidur selalu lebih indah daripada kenyataan yang tidak pernah seperti indahnya mimpi. Aku memilih tidur, jika tidak bisa, aku memaksa untuk tidur. Mimpi yang diharap tak kunjung muncul. Aku memaksanya. Aku mencari mimpiku, bagai nomor lagu yang dicari pada kaset dan vcd dengan remote control. Aku memencet tombol-tombol next, berkali-kali.

“Eh kelewatan!”

Itulah tidur dan mimpiku. Ia penanda sebuah keterlewatan, keterlambatan, kehilangan, ketidaktercapaian, kepalsuan dan kenyataan.

Kadang, mimpi itu benar-benar nyata, untuk menjemputnya, aku harus tidur, tapi bagaimana mungkin kenyataan hadir dalam tidur-tidur yang begitu pulas meski berselimut mimpi menjadi presiden sekalipun? (*)

Advertisements