Cerpen Kim Al Ghozali AM (Rakyat Sumbar, 23 Desember 2017)

Doa di Masa Darurat ilustrasi Rakyat Sumbar
Doa di Masa Darurat ilustrasi Rakyat Sumbar

IA memang begitu percaya pada kekuatan doa, meski ia sendiri sama sekali tidak rajin dan berdoa hanya pada waktu tertentu. Terakhir kali ia berdoa ketika berada di atas kapal di tengah-tengah laut, dan kapal yang ditumpanginya itu sedang diombang-ambing ombak dahsyat. Ketakutan menguasai dirinya, rasa khawatir yang hebat menggerakkan bibirnya untuk berdoa, berdoa demi keselamatannya, untuk lepas dari maut yang tak dikehendaki itu.

Ia berdoa dalam keadaan berada di tengah-tengah antara harapan dan keputusasaan. Ia berdoa karena begitu ngeri melihat ombak yang akan menerkam tubuhnya, melihat laut yang ganas yang akan menjadi kuburan bagi kematiannya. Dan beberapa saat setelah berdoa ombak itu tenang kembali, kapal yang ditumpanginya selamat dan ia bisa melanjutkan hidup. Ia percaya selamatnya kapal dari ombak yang mengamuk itu tak lepas dari peran doa dirinya. Ia begitu mempercayai itu, meski tentu saja tidak hanya dia seorang yang berdoa di dalam kapal itu. Ada begitu banyak penumpang dan semuanya beragama. Tentu semua orang yang beragama akan berdoa ketika ada bahaya yang mengancam.

Ia mempercayai kekuatan doa sebagaimana semua orang yang beragama, tapi jelas ia bukan orang yang rajin berdoa. Berdoa hanya dibutuhkan saat-saat genting, bukan dalam masa tenang, katanya.

Dan ia memang telah beberapa kali membuktikan sendiri keajaiban doanya. Sebelum peristiwa di kapal laut itu, ia pernah menjadi mata-mata di masa darurat. Ia menjadi pemuda yang bergabung dengan tokoh-tokoh pro-republik, menyusun gerakan-gerakan bawah tanah untuk kemerdekaan bangsanya. Dan pada sekali waktu ia tertangkap pasukan musuh, dipenjara dan disiksa. Pada waktu yang ditentukan ia akan menjalani hukuman mati, dipenggal kepalanya. Saat-saat seperti itulah ia berdoa terus menerus. Ia begitu takut membayangkan kematiannya, mengingat umurnya yang masih begitu muda ia masih ingin hidup panjang. Meskipun menyadari konsekuensi perjuangan, toh ia tak ingin dirinya segera berlalu berada di dunia. Ia terus berdoa untuk keselamatannya, untuk cita-cita kemerdakaan bangsanya.

Tiga hari sebelum hari akhir itu tiba, tiba-tiba dari luar penjara menggema kemerdekaan untuk bangsanya. Ia terbebas dari kurungan. Ia selamat dari samurai yang lapar, selamat dari kematian yang ditentukan musuhnya. Dan ia meneruskan hidupnya sampai kemudian hari, juga akhirnya memilih jalan lain yang sukar, yang membawanya pada suatu kedaruratan yang lain.

Sekarang ia hanya bisa mengenang semua itu. Mengenang perjuangan dan keadaan sulit di masa-masa lewat, mengenang gema kemerdekaan bangsanya, mengenang kekuatan doanya, bahkan masa kecilnya di kampung jauh. Ia hanya mengenang dan mengenang, segala sesuatu yang sudah sangat jauh, kehidupan di luar ruang pengap itu.

Apabila pagi tiba, sebentar ia berdiri menengok keluar lewat jendela satu-satunya di penjara itu. Kemudian ia tersenyum, entah tersenyum pada apa atau siapa, sebelum akhirnya kembali duduk dan wajahnya begitu murung. Lalu pikirannya bergerilya, memutar adegan demi adegan kehidupan yang dulu pernah dimainkannya.

“Aku percaya doa mampu membebaskanku dari sini,” ucapnya pada diri sendiri. Tak ada orang yang hirau pada ucapan itu, tidak teman sesama penghuni penjara, tidak pula para penjaga penjara yang mendengarkan.

Ini tahun ketiga ia menjadi penghuni penjara yang dibangun di masa kolonial itu. Jika sebelumnya ia dipenjara oleh musuh, kini ia dipenjara oleh saudara sebangsanya. Tahanan politik. Penjara para pemberontak!

Tahun ketiga di mana semuanya akan segera berakhir. Sahabat-sahabatnya telah dijemput para petugas beberapa bulan sebelumnya, dibawa ke suatu tempat dan timah panas telah menjebol dadanya. Kini ia menjadi satu-satunya orang penting yang tersisa dalam penjara itu. Dan ia terus berdoa, dengan redaksi dan keyakinan yang sama selayaknya saat peristiwa di kapal atau ketika ditangkap musuh pada masa-masa darurat.

Hingga pada suatu malam ia didatangi beberapa orang petugas dan dibawa keluar, ke sebuah tempat di mana tanahnya akan menerima darah segarnya yang menetes. Dan ia tetap berdoa. Wajahnya begitu sedih, tapi mulutnya tetap menggamitkan kata-kata yang pernah diajarkan ibunya sewaktu kanak.

Dan seumur hidupnya ia memang percaya pada kekuatan doa, sampai matanya tertutup setelah tiga benda keras menerjang dadanya, menerjang keyakinannya. (*)

 

Biodata:

KIM AL GHOZALI AM. Cerpen dan puisinya tersebar di berbagai koran di Indonesia, di media online dan banyak antologi. Buku puisinya yang telah terbit: Api Kata (Basabasi, 2017).

Advertisements