Puisi-puisi Nurul Ilmi Elbana (Jawa Pos, 17 Desember 2017)

Surat dari Achterhuis, Hibernate, Jauh, dan Lainnya ilustrasi Google.jpg
Surat dari Achterhuis, Hibernate, Jauh, dan Lainnya ilustrasi Google

Surat dari Achterhuis

:Anne Frank

 

di Amsterdam tidak ada langit biru

jendela juga pintu bersepakat mengenakan abu-abu

gugur daun tidak memiliki kekasih

pun senja tak pernah kucium dan kuantar pulang

perempuan-perempuan memeluk rahasianya di ranjang kasar

 

udara tidak bisa melupakan kecupan redup

di sudut sebuah surga yang tak lebih besar

dari biji kacang di atas lemari dapurmu

 

aku segera melupakan janji

sembab suara radio

iklan televisi

karena besok, kita pasti akan pergi

 

di Amsterdam tidak ada langit biru

rak-rak buku dijandakan

karena menyerupai perempuan yang semakin

tidak jelita

saat menghadapi hari tua

 

di Amsterdam tidak ada langit biru

dunia hanya perdebatan paku-paku

menempel manja jadi sekat rahasia

 

Jogjakarta, 2017

 

Hibernate

 

pagi ini tak ada buku

yang membuka batin,

suster hanya mengantar

obat penidur rasa sakit

ketika terbangun,

dia lebih sehat dari bayi enam bulan

di gendongan ibu bulan

 

lalat sudah sering berdansa tanpa musik.

infus menuju kekosongan.

dan aku tidak tega mengejek ketakutan

yang tak lagi dimiliki kopi pada angin

 

Jogjakarta, 2017

 

Jauh

 

tiga puluh menit lalu kita masih bercakap. saat

langit tak sabar

ingin membuka topeng gerimis. menampilkan

sedu sedan

para pejalan

 

dua puluh menit kemudian, aku memasukkanmu

ke dalam laci kasir.

karena merasa hatiku tidaklah cukup luas guna

menyambut

kegelisahan-kegelisahan.

 

kopi di depanmu seluruhnya dingin

 

sepuluh menit berikutnya,

seseorang tidak merasa kehilangan aku

ketika aku mengais-ngais bayangan dalam

sekotak gelap

bernama malam

 

tepat ketika topeng-topeng langit jatuh

gerimis menuju ibunya

tanah basah

kau ikut laju.

semakin tak terlihat. tak tercium. tak terhirau. tak

meruang.

 

di dasar batin hanya suaramu berombak

singgah untuk menggaibkan muasal kenang dan

senyuman-senyuman tertinggal

hanya untuk memberi spasi antara kini dan lalu

serta menutup lubang cerita tak sudah-sudah.

hanya demi meluruskan pita suaramu yang tak

bisa berucap sepatah kata

 

kenang, kukenang kau kesiap angin menakuti

kulit

memilih tetap datang meski tak terpeluk waktu

berlarian dari semburat keramaian ke gang-gang

sempit berkelok

jauh

 

Jogjakarta, 2017

 

Jelang Pagi

 

dan pada bulan telur, aku melihat diriku, seorang

durjana mencari

kecut

bekas bibirmu dalam gelas kosong dini hari

kafe yang sepi

para pemimpi pulang.

masih ada satu perempuan sendirian di kursi

barisan tengah,

memikirkan caranya pergi yang lebih halus dari

segar angin

lebih lirih dari isak teh yang dituang ke dalam

gelas tadi malam

dia akan berjalan tanpa dihiraukan.

 

Bjong, 2017

 

 

Nurul Ilmi Elbana, kuliah di Jogjakarta. Menjadi salah satu penerima Anugerah Sastra dan Seni Universitas Gadjah Mada 2015.

Advertisements