Cerpen Zainul Muttaqin (Koran Tempo, 16-17 Desember 2017)

Perempuan Tua dan Seekor Anjing ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempo.jpg
Perempuan Tua dan Seekor Anjing ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

Perempuan tua itu melipat keningnya sampai membentuk garis terombang-ambing melihat seekor anjing terluka sekujur tubuhnya. Segera mungkin ia membawa langkahnya yang pendek bagai jantung melemah untuk memungut anjing itu di bawah pohon trembesi. Jika dilihat dari bentuk tubuhnya yang kecil dan cenderung berbentuk kotak, pastilah ia jenis anjing ras beagle.

Perempuan tua itu pun tahu kutukan para tetangga yang akan dilontarkan kepadanya jika sampai ia membawa binatang najis itu. Tapi perempuan tua itu tak lagi memikirkan mulut kecubung para tetangga yang akan mengata-ngatainya. Dalam tempurung kepala perempuan tua itu hanyalah bagaimana anjing itu tetap bisa bernapas, melanjutkan hidup seperti sediakala.

Perempuan tua itu melangkah masuk ke dalam rumahnya, menutup daun pintu pelan-pelan hingga tak ada sedikit pun bunyi yang terdengar. Ia meracik ramuan pagar. Mengelus-elus anjing itu bagai belaian seorang anak pada ibunya. Telanjur sembap oleh air mata, wajah anjing itu melihat perlakuan perempuan tua yang sedemikian besar mencurahkan seluruh perhatiannya kepada si anjing. Gonggongan anjing itu seakan mengucap terima kasih.

Anjing itu meringkuk dalam pelukan perempuan tua. Keduanya berpelukan. Pintu rumah diketuk tiba-tiba oleh seseorang. Ia memanggil nama perempuan tua itu berkali-kali. Khawatir perempuan tua itu dicibir, tiba-tiba saja anjing itu menghindar tanpa diminta. Perempuan tua itu tersenyum melihat anjingnya bersembunyi di balik tembok.

Nima, tetangga sebelah yang biasa berkunjung, mengantar makanan pada perempuan tua itu. Ia memang sesekali datang menengok perempuan tua yang hidup sebatang kara di rumah berupa gubuk itu. Karena memang sudah biasa berkunjung ke rumah perempuan tua, Nima masuk ke dalam tanpa harus dipersilakan oleh si tuan rumah. Perempuan tua itu pun menganggap Nima layaknya cucunya sendiri.

Telinga Nima dikejutkan dengan suara gonggongan seekor anjing. Diperhatikannya dengan saksama, di mana suara anjing itu berasal. Tidak mungkin perempuan tua itu memelihara anjing. Nima tahu, tak seorang pun berani memelihara binatang najis itu di kampung ini. Terlebih lagi, kata Nima dalam batinnya, perempuan tua itu tidak boleh memelihara anjing karena ajaran agama. Degup jantung perempuan tua itu tak normal melihat gelagat Nima, cemas menggunung dalam dada ringkihnya.

Advertisements