Oleh Tyas KW (Kompas, 17 Desember 2017)

Melestarikan Burung Maleo ilustrasi Regina Primalita - Kompas.jpg
Melestarikan Burung Maleo ilustrasi Regina Primalita/Kompas

“IWAN, lihat! Itu burung maleo. Ada dua,” bisik Kak Erwin, kakak Iwan yang sudah kuliah. Siang itu, Irwan dan Kak Erwin sedang berada di hutan dekat Desa Saluki, Sulawesi Tengah. Kak Erwin adalah pecinta burung.

“Burungnya keren, Kak! Bulu dan jambulnya hitam. Dadanya berwarna putih,” kata Iwan yang kemudian memotret kedua maleo itu dari kejauhan. Iwan lalu berjalan mendekat.

“Tunggu dulu! Nanti, maleo itu lari.” Kak Erwin menggamit Iwan untuk bersembunyi. Rupanya kedua maleo itu akan bertelur.

“Kak, dua burung maleo itu bergantian menggali lubang!” bisik Iwan. Kak Erwin mengangguk. Setelah kedua maleo itu pergi, mereka mendekati lubang-lubang galian itu. Hampir bersamaan, Pak Udin, petugas pelestari lingkungan di Saluki juga mendekati lubang.

“Wah, telurnya pasti banyak, Kak!” seru Iwan senang. “Lihat lubang sarangnya saja ada banyak.”

“Maleo memang membuat banyak lubang sarang, tetapi telurnya hanya satu butir,” Kak Erwin menjelaskan.

“Lho? Jadi, untuk apa membuat sarang banyak-banyak kalau telurnya hanya satu butir?” Iwan heran.

“Maleo tidak mengerami telurnya. Agar telurnya menetas dengan aman, dibuatlah sarang-sarang tipuan. Jadi, biawak tidak dapat menemukan telur itu.” Pak Udin ikut menjelaskan.

“Wah, cerdik sekali!” ucap Iwan.

“Tapi itu tidak selalu berhasil, sering juga telur itu ditemukan,” timpal Kak Erwin.

“Selain itu, maleo mengubur telurnya tidak di sebarang tempat. Tempat bertelurnya ini semakin lama semakin berkurang karena kerusakan hutan ataupun terganggu oleh manusia,” kata Pak Udin. “Jadi, jumlah maleo tinggal sedikit.”

“Maleo itu satwa langka yang dilindungi dan hanya ada di Sulawesi. Kita harus mencegahnya dari kepunahan,” tambah Kak Erwin.

“Setuju, Kak. Telur ini perlu dijaga sampai menetas,” ujar Iwan. “Tapi, bagaimana caranya?”

“Ayo, bantu memindahkan telur ini ke tempat penangkaran,” ajak pak Udin.

Pak Udin menunjukkan lubang yang ada telurnya. Iwan lalu membantu menggali lubang itu dengan hati-hati.

“Telurnya kok belum kelihatan, padahal sudah dalam galiannya,” ungkap Iwan.

Maleo memang mengubur telurnya di kedalaman 50 sentimeter atau lebih. Kak Erwin akhirnya mengangkat telur maleo. Besarnya bisa sampai lima kali telur ayam.

Sesampainya di tempat penangkaran, Iwan dan Kak Erwin menggali lubang lalu mengubur ulang telur itu. Iwan senang bisa membantu menjaga kelangsungan hidup maleo.

“Aku akan membuat tulisan di mading sekolah, Kak. Agar lebih banyak yang tahu bahwa maleo itu satwa langka yang harus dilindungi. Maleo dan telurnya tidak boleh diburu sehingga terlindungi dari ancaman kepunahan,” tekad Iwan.

“Bagus! Itu salah satu cara mencintai satwa nasional,” puji Kak Erwin. *

Advertisements