Cerpen Kim Al Ghozali AM (Bali Post, 17 Desember 2017)

Lelaki yang Membunuh Kekasihnya ilustrasi Citra Sasmito - Bali Post
Lelaki yang Membunuh Kekasihnya ilustrasi Citra Sasmito/Bali Post

Kini dengan rasa bangga kau menceritakan peristiwa itu kepada siapa saja yang menemuimu. Bahkan tentang rahasia-rahasia kekasihmu atau tentang apa saja yang berkaitan dengannya. Kau tidak merasa takut pengadilan nanti akan menjatuhkan hukuman yang berat karena perbuatanmu. Kau tidak menyesal sedikit pun meski telah merampas hak hidup orang lain, hak hidup kekasihmu sendiri. Kau juga mengatakan kepada polisi yang memeriksamu jika kekasihmu itu memang layak dibunuh. Dan kau senang bukan main, bahkan di hadapan polisi di hari pertama kau ditangkap. Singkatnya kau tak merasa berdosa dan apa yang dilakukan adalah benar.

Perempuan laknat memang harus dilempar ke neraka, begitu katamu. Kau merasa kehormatanmu sebagai lelaki telah tercoreng. Kegagahanmu dipermainkan. Maka malam itu ketika keadaan sudah sangat sepi dan kekasihmu sudah terlelap, kau mencekiknya sampai mati. Setelah itu kau merasa lega, sangat lega, seperti ada batu yang terbang dari kedua pundakmu. Kau melihat sebuah jalan terbentang dan begitu terang di depanmu. Jalan di mana tak ada lagi kebohongan-kebohongan. Namun benarkah atas semua keyakinanmu itu? Keyakinan bahwa membunuh bisa dibenarkan? Ah, mungkin kau terlalu banyak minum malam itu. Terlalu banyak menghisap serbuk yang kau dapatkan dari rekanmu di ibu kota, sehingga kau menjadi asik dengan fantasi gilamu.

Atau mungkin pikiranmu yang terlalu lelah karena bekerja terus menerus dari Senin sampai Sabtu, dari jam delapan pagi dan tak jarang sampai larut malam. Kau kekurangan istirahat, kurang olah raga dan yang pasti kurang liburan dan hiburan. Itu tentu memiliki pengaruh besar dalam hidupmu.

Tapi apakah semua ini benar adanya, ketika kau tetap kokoh pada keyakinanmu walaupun sedang berada di balik jeruji besi, dan kau mengatakan kau baik-baik saja saat atau sebelum kejadian itu. Dalam arti kau memang membunuhnya lantaran kelelakianmu merasa dikibuli. Bukan membunuh atas dasar atau efek lainnya.

Tidak, itu bukan alasan yang tepat di mata hukum. Bahkan apa pun alasannya, menghilangkan paksa nyawa orang lain tetap tidak dibenarkan. Agama melarang, hukum pemerintah melarang, nurani manusia juga melarang. Kau tak punya tameng untuk bersembunyi dari perlakuanmu itu, tameng satu-satunya adalah kau cuma merasa benar terhadap tindakanmu.

“Kata siapa nurani melarang membunuh orang? Buktinya nuraniku tak pernah melarangnya, bahkan menyuruh untuk membunuhnya!” begitu pembelaanmu.

Oke. Jika memang begitu kata nuranimu, berarti nuranimu yang sedang tidak beres. Kau sakit! Nurani Hitler mungkin berkata begitu juga saat peristiwa Holocaust, berkata bahwa tindakannya sesuai nuraninya. Begitu pun Weterling atau para pembantai 50 tahun silam di negeri ini. Mereka mengikuti nuraninya, nurani tidak beres!

Para pembantai itu mungkin masih lebih baik karena mereka membunuh orang-orang yang dibenci, sedangkan kau membunuh orang yang kau cintai. Hewan saja tidak sebiadab itu. Namun bagaimanapun pembunuhan tetap tidak dibenarkan, baik membunuh orang yang dibenci, apalagi orang yang dicintai.

Kau hanya tersenyum sambil menyandarkan badanmu ke tembok di balik ruang pengap. Dan teman-temanmu tentu berharap setelah mendekam di ruangan tanpa udara itu kau akan menyesali tindakanmu atau paling tidak menyadari bahwa apa yang kau lakukan itu tidak benar. Tapi memang itulah kau, bukannya berterima kasih pada mereka karena telah mengunjungi dan membawakanmu makanan, dan tentu juga menghiburmu, kau malah mengata-ngatai mereka sebagai orang yang ikut andil dalam menghianatimu. Bukan itu saja, kau juga mencekik salah satu dari mereka, sahabatmu sendiri, sehingga polisi di penjara itu harus turun tangan untuk melerainya, kemudian memborgolmu pada satu bagian jeruji.

Karena ulahmu ini pulalah persidangan yang akan digelar pada minggu depan kini ditunda lagi, dan kau tentu akan semakin lama menghuni ruangan sempit ini (semoga kau tak membusuk di situ). Kau akan semakin ketar-ketir menunggu putusan hakim. Oh tidak, kau tak pernah ketar-ketir karena kau memang merasa tidak bersalah. Mungkin juga kau tak butuh sidang karena hanya akan membuat keadaan menjadi bertele-tele. Yang kau butuhkan kali ini hanya seorang yang mau mendengarkan kisahmu dengan seksama, tanpa membantah apa yang kau ceritakan, tanpa menyalahkan apa yang kau benarkan. Ya itu saja. Dan kau lebih tahu siapa dia yang akan mendengarkan kisahmu itu.

Setelah seharian kau diborgol, pada malam harinya borgol yang mengikat tanganmu dengan satu ruas besi jeruji itu telah dibuka oleh seorang polisi yang piket di situ. Mungkin ia merasa kasihan padamu, atau mungkin pula polisi itu ketika melihatmu menjadi ingat pada saudaranya sendiri dan bergumam: Bagaimana jika seorang dari keluargaku yang mengalami keadaan seperti ini?

Kini pun kau lebih leluasa menikmati ruang tahanan. Dan sejak malam itu kau berjanji pada diri sendiri bahwa esok pagi kau akan menceritakan semuanya pada seseorang. Seseorang? Ah tidak juga.

Dengan perasaan mantap dan pikiran yang dikondisikan setenang mungkin kau sudah siap untuk membeberkan sedetail-detailnya peristiwa maupun hubunganmu dengan perempuan itu, kekasihmu. Mulailah kau melihat dengan seksama gambar seorang perempuan di salah satu tembok dalam penjara itu, gambar perempuan tanpa badan, hanya kepala dengan rambut tergerai. Matanya sangat tajam tapi juga lembut ketika melirikmu. Entah siapa yang menggambar, mungkin tahanan sebelumnya. Dan bisa diduga tahanan itu sangat mahir menggambar, atau ia seniman lukis yang dipenjara di situ? Buktinya gambar itu sangat bagus, bahkan bisa dikatakan sempurna, padahal cuma digambar dengan menggunakan spidol hitam. Setiap kali kau menatapnya, kau merasa sedang menatap seorang perempuan yang paling mengasihimu, perempuan yang tak pernah membohongimu. Kau juga merasa ia adalah jelmaan ibumu, adalah peri yang turun di bulan Juli, adalah pohon kehidupan yang melindungi anak manusia.

“Aku tahu bagaimana perasanmu sebagai seorang lelaki ketika dihianati orang yang paling kau cintai,” begitu kau menerjemahkan ucapan gambar perempuan itu saat kau mulai bercerita. “Kau memang layak membunuhnya karena di situlah letak kemormatan seorang lelaki. Kau juga layak membunuh selingkuhan kekasihmu itu. Dan kau tidak salah. Budaya mengajarkan begitu.”

Kau melongo ketika mendengar kata “budaya”. Ya, ya, kau kini menemukan perlindungan baru, yaitu ketika agama, hukum pemerintah dan nurani melarang orang membunuh, maka bagimu kini budaya mengijinkannya. Tapi tentu kau tak paham juga, budaya macam apa pula yang menghalalkan manusia membunuh manusia?! Itu hanya budaya kanibal, budaya primitif, budaya hutan rimba, budaya yang bertentangan dengan budaya modern yang menjunjung tinggi kemanusiaan. Kau tetap tidak dibenarkan. Karena budaya kita budaya yang memanusiakan manusia.

Tapi kau lebih percaya ucapan gambar perempuan itu daripada suara-suara lain, ucapan yang sebenarnya terpantul dari imajinasimu sendiri, imajinasi yang bermasalah. Kau pun menciumi gambar perempuan yang menurutmu menggambarkan karakter perempuan sejati itu. Perempuan dengan segala kasih sayang harus dicintai dan dilindungi, begitu katamu. Tapi saat itu pula kau sedang menjadi tersangka karena membunuh perempuan. Otak paradoks!

Puas menciumi gambar perempuan itu, kau menarik nafas untuk melanjutkan bercerita. Dan ia dengan wajah tenang menatapmu, tak sabar ingin segera mengetahui kelanjutan ceritamu. Namun sebelum kau melanjutkan bercerita, perempuan itu tiba-tiba bertanya?

“Mengapa kau tak membunuh selingkuhannya juga?”

Kau hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu. Kemudian melanjutkan. Bukan hanya dia dan selingkahannya yang aku bunuh, melainkan juga seluruh dunianya, ucapmu. Gambar perempuan itu sedikit terkejut mendengarkan itu, tapi cepat-cepat disembunyikan keterkejutannya dengan senyumnya yang manis.

“Aku tak mengerti apa yang kau ucapkan,” ia menatapmu seperti meminta penjelasan.

Kau agak kebingungan untuk menjelaskannya secara lugas. Kau tolah-toleh ke polisi yang sedang bekerja di ruangannya, takut ia mendengarkan ucapanmu. Ah, ternyata kau masih punya rasa takut juga! Kemudian kau mendekat ke telinga gambar perempuan itu. Berbisik. Lama, sangat lama…

Akhirnya gambar yang diajak bicara itu mengerti bahwa kau membunuh kekasihmu bukan karena ia benar-benar selingkuh, tapi karena kamu curiga bahwa kekasihmu memiliki kekasih lain dalam mimpi di tidurnya. Bahwa kekasihmu sering tersenyum ketika tidur, seperti sedang tersenyum pada seseorang. Bahwa kekasihmu sering berbicara saat tidur dan tak jarang kata-kata yang keluar dari mulut kekasihmu yang sedang tidur itu adalah kata-kata mesra, lembut dan menyebut nama lelaki. Yang jelas nama lelaki itu bukan namamu. Bahwa kekasihmu saat tidur sering mengeluarkan rintihan-rintihan nikmat selayaknya sepasang kekasih yang sedang bercinta. Dan kau meyakini ia memang memiliki selingkuhan di alam mimpinya.

Kini kau pun lega setelah menceritakan itu semua dan yang diajak bercerita mendengarkan dengan seksama. Kau ingin menciumi gambar perempuan itu lagi sebagai ucapan terima kasih karena ia mengerti tentang dirimu. Tapi sebelum hidungmu menyentuh pipinya tiba-tiba ada yang menyeretmu dari belakang, ada tenaga begitu kuat memegang kedua tanganmu. Sambil berusaha untuk melepaskan diri dari tenaga itu kau mendongakkan muka ke belakang, ternyata tak lain dua orang polisi dan kini menyeretmu ke luar. Sedangkan di luar jeruji beberapa dokter telah menunggu dan akan membawamu ke sebuah rumah sakit jiwa.

Yach! semoga suatu saat kau paham bahwa membunuh itu memang dilarang agama, dilarang hukum pemerintah, dilarang hati nurani dan dilarang oleh budaya. Yang memperbolehkan hanya jiwa dan pikiran tidak waras. Dan tentu saja itu tidak akan berurusan dengan hukum, tetapi dengan dokter ahli atau dengan kerangkeng dan pasung, ditempatkan secara khusus dan dijauhi manusia.

Advertisements