Puisi-puisi Mardi Luhung (Kompas, 16 Desember 2017)

Kertas, Jeda, Kalatea, dan Lainnya ilustrasi Gitra Kiranawati P - Kompas.jpg
Kertas, Jeda, Kalatea, dan Lainnya ilustrasi Gitra Kiranawati P/Kompas

Kertas

 

Anak itu menunggu. Menunggu menjadi remaja. Dan

remaja itu pun menunggu. Menunggu anak itu menjadi

dewasa. Setelah dewasa, dia (anak yang pernah remaja itu)

 

menikah dan punya anak. Setelah punya anak, tiba-tiba

ketuaan nongol di pintu. Ketuaan yang sederhana. Ketuaan

yang menenteng koper. Dan menukas: “Hai, telah lama aku

 

menunggumu untuk berangkat” Berangkat ke mana?

Tujuan tak terduga. Hanya peluit sepur yang memekik

di kejauhan. Sepur yang dulu selalu dipandangnya dengan

 

gemas. Dan yang dibayangkannya sebagai naga besi yang

tak pernah lelah. Setelah perbekalan disiapkan, berangkatlah

dia dengan ketuaan. Dan siapa pun yang pernah disebutnya

 

sebagai ingatan, berdikit-dikit menjadi mendung. Terus turun

dalam rupa gerimis. Gerimis menjadi hujan. Dan hujan pun

melunturkan apa-apa yang telah ditulisnya di kertas. Sebelum

 

menghilang ditelan belokan, dia dengan ketuaan sempat

melantunkan bait begini: “Kami tak tahu, apakah nanti akan

sampai di tujuan atau tidak. Rubuh di tengah jalan atau tidak.”

 

Tiang-tiang makin mendekat. Tiang-tiang makin merapat.

 

(Gresik, 2017)

 

Jeda

 

Ular kuning dari gunung merayap ke bawah. Ke si perawi yang

menyimpan kisah. Kisah tentang si murid yang tak pernah diajar apa

pun. Kecuali menyapu, memasak, dan menjaga anak-anak.

 

Ular kuning dari gunung merayap ke bawah. Ke si perawi yang

mempertajam kisah tentang si murid yang tak pernah diajar apa pun

menjadi kisah tentang si pendiam. Yang tersembunyi.

 

Dan yang kelak menyerahkan kedua kakinya sebagai tambahan kayu

bakar pada sebuah kenduri. Kenduri dari sebuah kampung yang baru

saja lolos dari pagebluk. Pagebluk yang gelap dan tebal.

 

Ular kuning dari gunung merayap ke bawah. Ke si perawi yang

tak semua orang tahu di mana rumahnya. Dan juga tak semua orang

tahu, apakah si perawi itu cuma dongeng atau kenyataan.

 

Ular kuning dari gunung merayap ke bawah. Terus merayap. Lalu

sampailah ke tempat si awas yang pernah menunjuk selembar daun

agar selalu menghijau dan mengkilat. Daun yang berkhasiat.

 

Dan di depan si awas yang pernah menunjuk itu, ular kuning

bertanya: “Di manakah rumah si perawi?” Oleh si awas dijawab:

“Temukan dulu sarang angin, hai, yang telah menakikkan kelok.”

 

Ular kuning dari gunung merayap ke bawah. Kini merasa hilang akal.

Sebab, siapakah yang tahu letak sarang angin? Dan siapa pula yang

tahu cara untuk menemukannya? Segalanya jadi berpusaran.

 

Ular kuning dari gunung merayap ke bawah. Dan ingin terus saja

merayap. Sampai di sebuah gua, pun menggelungkan tubuhnya.

Terus mengundang sepi. Juga setiap detak yang memelan-melan.

 

Suatu ketika, ada si pemahat yang mengelusi mata ular kuning. Kata

si pemahat: “Memang, mata ini terpejam tapi terjaga. Seperti hasrat

yang tak tuntas. Hasrat yang tak pernah sampai pada watas.”

 

(Gresik, 2017)

 

Ketika Memasuki

Ketika memasuki sorga, dia mengimpikan sebentang

kebun subur. Dengan beragam benih unggul. Yang akan

tumbuh menjadi pepohon rimbun. Dengan bebuah yang

lebat. Bebuah merah, kuning, dan manis. Bebuah yang

ketika akan dipetik, cukup dilambai, akan merendah.

Serendah hati kekasih yang rela menyerahkan hidupnya

pada yang dikasihinya. Dan ketika panen tiba, dia pun

mengisi keranjangnya dengan bebuah. Anehnya, meski

berkali-kali diisi, keranjangnya tak pernah penuh.

Bebuah tak pernah habis. Sampai siang beranjak. Malam

bergulir. Dan memang, waktu siang dan malam di sorga

demikian sejuk, tenang, dan membuat kerja tak kehabisan

tenaga. Lalu, tepat di seminggu ke depan, dia yang masih

mengisi keranjangnya dengan bebuah, dijenguk oleh

si malaikat penjaga sorga. Kata si malaikat: “Nafsumu itu

tak akan habis. Berhentilah.” Tapi sambil mengisi terus

keranjangnya, dia menjawab: “Ketahuilah, aku sudah

tak lagi punya nafsu. Sedangkan, panen ini adalah

mimpiku, bagaimana bisa aku hentikan?”

(Gresik, 2017)

 

Surat Anjing Hitam

: belajar dari syaikhona

 

Anjing Hitam, Anjing Hitam, di mana dirimu di kota suci ini. Datanglah padaku. Aku membawa surat. Surat untukmu. Surat dari guruku. Guruku yang ada di pulau garam. Pulau yang telah mengajar ayam jago, macan, dan si tukang gambar yang teberkahi. Pulau yang ketika sore tiba terlihat berbinar. Binar yang menudung. Menudungi sepotong jari telunjuk. Yang menunjuk, bahwa arah tak boleh mencong. Sebab itu adalah doa. Sebab itu adalah harapan. Harapan yang diturunkan lewat bisik: “Jika telah selesai, bukalah pintu yang berikutnya. Dan segudang hal yang terhafal, mesti disimpan di kedalaman sungai.”

Anjing Hitam, Anjing Hitam, di mana dirimu. Di lalu-lalang para pencari, perintih, dan penengadah yang tak habis-habis di kota suci ini, adakah kau terselip? Adakah kau tersesat? Ayo, datang, datanglah padaku. Terima suratmu. Sebab aku akan kembali pulang. Pulang ke rumah. Pulang ke setiap yang pernah melambaikan tangannya. Seperti lambaian lembut menara-menara di kota suci ini. Kota suci yang putih dan yang diputihkan. Kota suci yang diam-diam kerap kau kunjungi. Dalam rupa seekor anjing hitam. Rupa yang mencolok. Tapi pernah mendampingi si pendebar. Ketika jarak sekian abad dilipat cuma sekedipan.

 

(Gresik, 2017)

 

Kalatea

: seperti rahwana

 

Bolehkah aku meminta mati. Sebab, di sini, sudah tak ada lagi yang aku inginkan. Udara hambar. Dan matahari pelan-pelan menjauh. Tapi, kalian jangan terkejut. Dulu bagian ini sudah dikabarkan. Ketika sifat daun-daun kalatea melingkupi hidupku. Daun-daun yang biasa tergulung. Biasa juga terhampar. Seperti sifat sepuluh kepalaku. Sepuluh kepalaku yang semengkilat mata lembing di pagi hari.

Sepuluh kepalaku yang satu per satu pernah aku penggal. Dan aku persembahkan pada si waktu. Si waktu yang membuatku tak bisa mati. Dan si waktu yang diam-diam terus memainkan guliran dadu di mangkok. Agar tetap bernilai kosong. Kosong yang bergambar dua lengkung yang ketemu. Sampai tak diketahui: ”Mana ujungnya, mana pangkalnya.” Siapakah yang menduga jika hasil akhir seperti ini?

 

Sekali lagi, bolehkah aku meminta mati. Kirimkan dengan segera. Jangan biarkan si kera putih itu terus-terusan menguntit pikiranku. Menghadang segenap mantra yang aku sandang. Si kera putih yang, meski tak mampu mematikanku, mudah membuat aku pikun pada setiap yang tertemui: “Balairung, jalan, siasat, panji, sampai pada sebaris kemajemukan cinta, rindu, dan kenangan.”

Sebaris kemajemukan yang akan semakin majemuk, ketika pinggiran daun-daun kalatea yang setajam belati itu, mengupasi kehampaanku yang mencengkeram sudah.

 

(Gresik, 2017)

 

Mawar Beludru

: seperti aswatama

 

Kakiku ganjil. Seganjil kaki si penyerimpung. Si penyerimpung yang diburu wangsa yang geram. Si penyerimpung yang telah memuntahkan sisa ilmunya. Dan melibas para yang tidur di tenda ke pusaran amarah dan dendam. Tapi, meski ganjil, kakiku seindah kelopak mawar beludru. Mawar yang mengingatkan pada cangkang kura-kura. Cangkang yang menyimpani ruang dan waktu yang retak. Dua hal yang tak teringinkan berkibar di menara. Berkibar dengan warna merah, kuning, dan hijau.

 

Oh, ke langit yang tinggi aku menengadah. Mencari rahasia kepak burung. Agar dapat aku temukan, arah mana yang dapat menuntunku. Terus menelusup ke dalam senyap. Senyap yang, ketika nanti dibuka, akan membuat siapa saja tahu: hidup di geraham bara, bukanlah hidup yang lembut. Sebaliknya, tajam dan menggosongkan kulit. Apalagi, si penitah yang tak pernah berdusta itu, berkata begini: “Kemarin, telah mati seekor gajah. Yang namanya mirip dengan nama si penyerimpung.”

 

Kakiku ganjil. Diburu wangsa yang geram.

 

(Gresik, 2017)

 

 

Mardi Luhung lahir di Gresik, Jawa Timur, 5 Maret 1965. Buku puisinya antara lain Buwun (2010) dan Teras Mardi (2015).

Advertisements