Cerpen Muhammad Rifki (Radar Surabaya, 17 Desember 2017)

Genangan yang Bercerita Hari Itu ilustrasi Fajar - Radar Surabaya.jpg
Genangan yang Bercerita Hari Itu ilustrasi Fajar/Radar Surabaya

Lelaki itu melihat tubuhnya di ujung jalan sana, tepat di pertigaan tempat orang-orang sedang berkerumun. Matanya mulai membaca resah, kemudian mata itu ia copot dan pergi meninggalkannya. Lalu berlari ke arah orang-orang yang duduk lesu dengan menekuk kedua lutut. Wajah mereka pucat sepucat langit, datar dan dingin tanpa ada tanda baca untuk menebak apa yang sedang menyekap pikiran mereka.

Melihat itu, lelaki itu justru menjadi panic. Ia berlari tanpa kaki, melihat tanpa mata dan berteriak tanpa suara. Di penghujung jalan gang-gang mewah yang ia lewati ada genangan air. Ada wajahnya tercetak dalam genangan itu; ‘wajah sampah’.

***

Ia masih duduk lesu sambil menekuk kedua lututnya. Tangannya sejak tiga hari yang lalu terasa kehilangan sendi. Gitarnya pun mulai lancang meneriakinya ‘bego’ dan tak berguna. Gitar lusuh itu semakin menjadi-jadi dan tak tahu diri, diputusnya satu per satu senarnya. Bunyinya kusut dan rusak. Gitar itu benar-benar telah stress. Ia memantaskan diri sebagai barang yang layak dibuang.

Tak hanya itu yang membuat pengamen A terpuruk pagi ini. Kejadian malam tadi ikut mempengaruhi kondisi batinnya. Karena waktu tak pernah memberinya ruang kompromi. Malam tadi, di sebuah warkop, pengamen A berusaha menego waktu, namun tak ada kata mufakat mereka lahirkan. Waktu justru memaki-makinya.

“Masa lalumu sudah hancur, Bung. Jika kamu masih seperti ini, tidak menutup kemungkinan masa depanmu juga akan retak. Sudahlah, lupakan saja untuk kembali ke masa lalu.”

Pengamen A beberapa kali memohon dan memaksa waktu agar bisa mengembalikannya ke masa lalu, dan memperbaiki semuanya. Seiring malam yang semakin tua, kelakuan pengamen A hanya memperparah rasa jengkel waktu. Ditendangnya keras pengamen A itu, lalu meludahinya dan menyuruhnya pulang. Maka ia pun pulang dengan gitarnya, yang di sepanjang jalan ikut menunjukkan sikap benci.

Setelah melewati jembatan kecil, pengamen A itu berlari ketakutan. Dadanya berdenyut cepat dan cemas. Ingatannya tentang rumah ikut melilit kecemasanya dan mencakar-cakar isi kepalanya. Ia merindukan ibu, kampung halaman dan masa lalu. Larinya semakin cepat, melewati gang-gang kecil dan rumah mewah. Di penghujung jalan yang ia lewati, sebelum sampai ke kamar kos, ia berhenti di depan genangan air.

Pengamen A itu tahu, genangan itu adalah sisa air hujan yang turun hari kemarin. Dalam genangan, ia bisa melihat orang-orang yang melewati jalan pesanggrahan. Sebelum jalanan itu sepi, ada banyak kaki ia lihat yang menginjak genangan itu. Ada wajah orang ketawa, wajah lesu, lelah dan terakhir, ia melihat wajahnya sendiri tercetak di sana. Wajah itu menatapnya dengan tatapan buram, menusuk sampai ke bagian belakang kepalanya. Beberapa saat kemudian, ia melihat sebuah mobil lewat. Genangan itu bercerita, mobil itulah yang membuat jalanan ini untuk hari esok atau esoknya lagi menjadi sepi. Sebagai penutup cerita, pengamen A kembali melihat wajahnya dalam genangan; ‘wajah sampah’.

***

Hari ini ia kembali membolos. Mahasiswa B itu merasa malu datang ke kelas dan duduk di antara teman-temannya. Ia ingin menyalahkan malam atas keadaannya ini, tapi malam tak pernah memberinya kesempatan. Ia selalu kalah, hingga tubuh lelaki itu terlihat lemas dan berbau menyengat hidung. Bau malam yang sudah menyatu dalam darah dagingnya.

Di sepanjang jalan menuju kampus, bukunya berceceran. Jatuh satu per satu di jalanan. Buku-buku itu berparas pucat dan ketakutan. Mereka pun kabur satu per satu dari si mahasiswa B. Ia pun lalu mengejarnya, menangkapnya satu per satu sambil berteriak marah. Namun, justru membuat buku-buku itu panik hingga mereka memilih untuk membakar diri mereka sendiri. Padahal, mahasiswa B itu memerlukannya untuk tugas-tugas konyol dosen minggu depan. Ya, minggu depan, seperti yang sudah dijadwalkannya. Meski kenyataan yang ada, hidup lelaki itu tak pernah sesuai jadwal.

Sebelum berangkat kuliah, ia sempat mengobrol dengan kopi. Bercerita panjang lebar tentang malam dan mahasiswi-mahasiswi kampus yang menggoda. Mengkategorikannya satu per satu, mengurutkan dari yang paling secantik artis Korea sampai cantiknya standar kembang desa. Meski pengkategorian ini tak pernah ada undang-undang kepastian dan malah sering berubah-ubah sesuai selera lelaki.

Keduanya tertawa. Kopi itu tampaknya menikmati cerita yang disuguhkan si mahasiswa B. Lalu kopi itu menimpali, bahwa ceritanya itu kekanak-kanakan dan mencap lelaki itu sebagai orang yang tak berguna.

Lelaki itumengerutkan dahi. Ia merasa tidak terima dikatai seperti itu. Kopi itu justru terkekeh melihat reaksi lelaki yang marah di hadapannya. Ia tersinggung dan membanting meja yang ada di depannya. Melihat kopi itu tumpah, mahasiswa B itu merasa puas bercampur bimbang. Kepalanya mulai lunak dan melumat kata-kata kopi tadi. “Orang yang tak berguna.” Kalimat itu terus mengaung keras dalam kepalanya.

Memang benar, di jalan pesanggrahan malam tadi, ia sedang asyik bercumbu dengan malam dan rokok. Sampai malam beruban, ia baru memutuskan pulang. Di tengah jalan ia mendadak berhenti di depan sebuah genangan air. Genangan itu memanggil-manggil namanya. Kemudian tersenyum dan bercerita. Mahasiswa itu bingung, namun ia tetap memperhatikan genangan itu. Dalam genangan, ia melihat masa lalunya saat kecil, rumah, dan orang tua. Genangan itu seperti tau banyak hal tentang dirinya.

Wajah mahasiswa B itu semakin jelas terlihat cemas saat ia melihat wajah ibunya menangis. Wajah itu yang dulu sering ia bikin menangis. Wajah tua itu yang menciumnya saat sebelum merantau ke Jakarta dan kuliah. Itu semakin menyayat dadanya saat genangan itu memperlihatkan kelakuannya saat ini; gemar nongkrong dan mencumbui malam. Terkadang ia membusukkan tubuhnya di atas kasur tertidur tanpa peduli hari itu ada dosen yang sedang mencari-carinya di kelas.

Terakhir, ia melihat wajahnya dalam genangan itu, mirip ‘wajah sampah’.

***

Ada pesan WA masuk ke ponsel orang itu banyak sekali. “Ah, memuakkan,” umpatnya. Lagi-lagi dari Haji Abidin si panitia masjid itu yang memaksa-maksanya hadir ke acara Maulid Rasul. Sejak sore kemarin hingga hari ini, hp nya selalu berteriak-teriak tidak jelas. Belum lagi pemberitahuan pesan Haji Abidin yang masuk tiap jam.

Lelaki beranak dua itu terlihat menimang-nimang tanggal. Ia tersenyum saat jarinya menyentuh tanggal hari ini. Hari di mana ia akan menemui kenalannya di London. Ada proyek uang yang ingin ia bicarakan. Bahkan malam tadi hampir semalaman ia tak bisa tidur mengingat proyek itu akan menikahkannya dengan miliaran dolar.

Anak-anak dan istrinya tak pernah tahu soal ini. Lelaki itu sudah menyumpal mulut keluarganya dengan uang-uang rupiah. Istrinya yang materai dibelikannya segala yang ia inginkan; mulai baju, mobil dan perhiasan. Lelaki itu bahkan menjadikan uang sebagai pengasuh anak-anaknya dan keluarganya.

Dan hari ini, lelaki itu ingin selingkuh. Ia jatuh cinta dengan pacar barunya bermuka datar di luar sana. Di hadapan istri dan anak-anaknya, lidahnya menari-nari mencari dusta untuk alasan urusan kerja ke luar negeri.

Mobil hitam miliknya sudah melirik. Dinaikinya mobil itu melewti gang-gang kecil dan rumah mewah serta jalan pesanggrahan yang kini dirayapi sepi. Matanya terkekeh melihat itu. Mulutnya terbahak-bahak tertawa puas.Tak ada lagi pedagang yang mengganggu dan membuat lecet mobil mewahnya.

Tiga hari yang lalu, sebelum jalanan ini sepi, ia frustasi setiap melewati jalanan ini. Ada banyak pengamen yang berkeliaran menjajakan lagu rumpang dan tak pernah selesai. Mahasiswa-mahasiswa yang keluyuran kesana-ke mari serta pedagang yang kerap membuatnya risih. Terlebih waktu itu ada seorang pedagang cemol yang gerobaknya tak sengaja mengenai mobilnya hingga tergores kecil. Itu cukuplah sudah membuat orang itu marah dan berterik-teriak sepanjang jalan memuntahkan kekesalannya. Dihantamkannya kata-kata penuh benci itu dalam secarik kertas perjanjian. Ia ingin pedagang-pedagang itu mati.

Saat malam tiba, ia menemui genangan air. Diludahinya genangan itu dan diinjak-injak.

“Kau akan liat sendiri, besok pedagang-pedagang di sini akan mati.”

Hujan kemudian mendadak turun deras.

***

Orang itu membawa mobilnya menuju ke ujung jalan arah pertigaan. Dilaluinya orang-orang berwajah pucat dan lesu dengan menekuk kedua lutut. Mereka duduk berjejer dengan tatapan kosong. Ia tak peduli. Dibantingnya mobil itu dan melaju kencang.

Lalu….

Rem berdecit keras. Orang-orang yang mendengarnya kaget dan berlari ke sumber suara. Satu per satu berdatangan, berkerumun dengan wajah datar dan tatapan tanpa nada. Dari kejauhan, orang itu terbangun. Dilihatnya dengan jelas tubuhnya di ujung pertigaan jalan sedang terkapar.

“Kamu atau mereka yang mati?”

Ia lalu menoleh ke sumber suara, GENANGAN! (*)

 

Qalbun Salim, 2 Desember 2017

*Penulis adalah santri di Pesantren Qolbun Salim sekaligus penggiat seni dan penikmat sastra.

Advertisements