Cerpen Guntur Alam (Tribun Jabar, 17 Desember 2017)

Anak Laki-laki yang Terus Berdoa Menjelang Tidur ilustrasi Yudixtag - Tribun Jabar.jpg
Anak Laki-laki yang Terus Berdoa Menjelang Tidur ilustrasi Yudixtag/Tribun Jabar

“GARA-gara kau dia jadi kayak banci!”

Dan Mama menangis mendengar tudingan itu. Sementara kau, sejak petang Mama dengan kasar menghapus bekas lipstik di bibirmu, kau selalu berdoa menjelang tidur. Tuhan, kumohon, apa saja, asal jangan jadikan aku banci.

***

“KAU beri makan apa dia sampai jadi kayak banci!”

Kau masih bisa mendengar kalimat-kalimat yang terluncur dari mulut Papa. Kata Mama kau harus duduk di kursi ini, tak boleh beranjak ke mana pun, tak boleh berbuat apa pun, termasuk bila perang meletus antara Papa dan Mama. Papa lagi kesal. Pekerjaan di kantor sedang banyak-banyaknya. Bos baru Papa tak suka memberi libur. Jadi Papa meledak. Dia tak marah padamu. Kau jangan ke mana-mana. Duduk di situ saja. Kau anak baik. Kau tahu, kau anak baik. Kau tak pernah membuat Mama menangis.

Sesekak telunjuk Papa mengarah padamu, walau wajah merahnya tetap pada Mama. Kau melihat wajah Mama kusut, dari sini kau juga dapat melihat Mama berkali-kali menghela napas. Dan Mama menangis. Kau benci melihatnya menangis. Kau pasti akan menangis juga bila Mama menangis. Kau jangan menangis. Apa pun yang terjadi. Diam saja di kursi ini. Bila kau menangis, nanti Papa memarahimu, juga semakin mengomeli Mama. Apa kau ingin melihat Papa marah? Kau menggeleng. Kau memang anak manis. Ya, kau memang anak yang manis. Teman-teman sebayamu juga berkata begitu, kau manis bila mengenakan lipstik Mama. Jadi kau memakainya tadi dan Papa memergokimu dan dia tak suka kau bermain-main dengan lipstik Mama.

Mama beranjak, meninggalkan Papa yang berteriak. Papa mencengkeram rambutnya sendiri, lalu membanting gelas di atas meja. Kau terlonjak, tapi tergesa membetulkan dudukmu. Kau tak boleh bergeser sedikit pun. Mama tak menoleh. Kau anak baik. Kau harus menuruti perintah Mama. Kau juga anak manis, jadi kau tak boleh pergi ke mana-mana, termasuk tak boleh bergeser sedikit pun.

Mama mengambil tanganmu, dia menarikmu. Kau seketika meloncat dari kursi, lalu setengah berlari mengikuti langkahnya yang lebar-lebar.

Kita mau ke mana, Ma?

Tak ada jawaban. Mama hanya terus berjalan tergesa-gesa, menuju lantai dua. Kau menduga kalian akan kembali ke kamarmu.

Apa kita akan berkemas dan tidur di rumah Nenek?

Mama tetap tak menjawab. Kau suka di rumah Nenek. Kau menyukai sepupumu. Mei. Dia cantik sekali. Dia pandai memakai lipstik dan bedak, membuatnya terlihat jauh lebih manis. Mei pun bilang kau manis, dia menyukaimu. Dia suka mendandanimu. Dan kau suka didandaninya. Hanya saja kau membenci abangnya Mei. Juni. Dia suka mengolok-olok dirimu. Katanyu kau mirip banci. Dan kau benci dipanggil dengan sebutan itu. Walau setiap kau tidur di rumah Nenek, Juni selalu merengek-rengek pada mamamu agar kau tidur di kamarnya. Dia bilang sayang dirimu. Dia tak tega bila kau tidur berimpit-impitan dengan Mama dan Mei dan nenek. Padahal bukan itu alasannya, Juni suka mengajakmu bermain permainan rahasia bila malam di kamarnya. Dan karena itu rahasia, kau tak boleh menceritakan kepada siapa pun, termasuk kepadaku yang menulis cerita ini.

Ma, apa banci itu?

Apa aku mirip banci?

Apa banci itu menyebalkan jadi Papa marah?

Apa semua orang nggak suka dengan banci?

Kau menghujani Mama dengan pertanyaan beruntun, tapi tak satu pun yang dia jawab. Saat marah dan kesal Mama memang tak suka menjawab apa pun pertanyaanmu. Walau kau hampir mati penasaran karenanya. Dia tak akan peduli. Dan kau tetap bandel untuk terus bertanya. Sesampainya di kamarmu, dia mengangkatmu ke atas tempat tidur. Menyentakmu. Kau terkejut. Mama tak pernah sekasar itu. Lalu kedua tangannya berada di pundakmu. Matanya mendelik. Basah. Kalian saling menatap.

Ya! Semua orang membenci banci. Semua orang. Jadi kau jangan jadi banci! Mama berteriak. Kau mengkeret. Rasanya gendang telingaku jebol oleh teriakan Mama.

Temrasuk Mama? Kau bertanya takut-takut, sembari menunduk dan melirik.

Mama tak menjawab. Tangannya dengan kasar mengusap bibirmu, berusaha menghapus bekas lipstik yang ada di sana. Kau ingin menangis karena bibirmu pedih. Tapi kau menahannya. Kata Mama anak baik tak boleh menangis. Anak baik tak cengeng, walau dia merasa sesakit apa pun. Dan kau tetap ingin jadi anak Mama yang baik.

Termasuk Mama?

Kau masih mengulangi pertanyaan yang sama. Sementara Mama masih sibuk menghilangkan bekas lipstik di bibirmu. Kau merasa ada dosa besar di bibirmu dan Mama berusaha sekuat tenaga menghapus dosa itu.

Termasuk Mama?

Tuhan pun membenci banci!

Dan kau menangis dalam hati. Malam itu, dalam remang kamar kau tak bisa tidur, matamu terus menyalang dan kata-kata Mama seperti menghantuimu. Kau sedih. Baru kali ini kau merasa demikian sedih. Padahal kata Mama, bila kau menjadi anak baik dan manis, kau tak akan pernah merasa sedih selama-lamanya. Namun malam itu untuk pertama kalinya dalam hidupmu kau merasa sedih. Mungkin karena kau merasa Mama pun membencimu karena kau mirip banci kata Papa. Sebab Mama bilang semua orang benci banci termasuk Tuhan. Ah, tapi Mama tak menjawab langsung ketika kutanya. Kau berusaha menghibur diri, tapi kau merasa penghibur yang payah. Kau gagal untuk menyenangkan hatimu sendiri.

Kau teringat akan pesan Mama, sebelum tidur kau harus berdoa, karena Tuhan mewujudkan segala doa yang diucapkan anak baik setiap dia akan tidur. Sejak malam itu, kau melantunkan doa yang sama. Tuhan, kumohon. Apa saja, asal jangan jadikan aku banci.

***

“BERHENTI menjadi mirip banci!”

Tinju Papa mendarat telak di wajahmu. Kau tak dapat mengelak. Kau tersungkur. Rasanya ada sesuatu yang terloncat dari mulutmu, lalu ludahmu berubah merah.

Apa ada yang menuang fanta di mulutku?

Kau suka sekali dengan minuman bersoda itu. Bibirmu pasti memerah setelah meminumnya. Jadi kau tak perlu memoleskan lipstik Mama agar terlihat manis dengan bibir yang merona. Namun rasa ludah merah di mulutmu kali ini asin, bukan manis, lebih mirip MSG. Kau tak suka MSG, sebab Mama melarangmu membeli jajanan yang banyak MSG-nya. Kata Mama MSG bisa membuatmu menjadi bodoh. Tapi kata Papa kebanyakan makan MSG yang akan membuatnya jadi banci. Kau tak tahu, apa itu benar?

Mama berlari ke arahmu. Dia tergopoh, wajahnya cemas. Papa mendengus. Kau berusaha bangkit dari rumput yang memelukmu. Rasanya ada yang aneh di mulutmu. Tangan Mama bergetar, dia mengelap wajahmu dengan sapu tangan. Dan air matanya menetes, dia menoleh pada Papa. Kau berdiri gemetar. Tumpahan fanta itu begitu banyak di sapu tangan Mama.

Kau akan membunuhnya! Kau akan membunuhnya!

Mama menarik tanganmu. Melepaskan dengan paksa sarung tinju yang disurumkan Papa padamu. Air mata Mama berurai, kau ingin menangis karena tumpahan fanta itu semakin banyak. Mengalir dari mulut dan hidungmu. Tapi kau tetap ingat pesan Mama, anak baik tak boleh menangis. Sesakit apa pun. Kau anak manis Mama, kan? Kau mengangguk. Anak manis Mama tidak menangis.

Dia akan jadi laki-laki! Anak laki-laki biasa berkelahi! Biasa berdarah! Kau terlalu lembek!

Kau akan membunuhnya! Kau akan membunuhnya!

Caramu ini yang membuat dia jadi banci!

Mama menarik tanganmu. Bergegas nreninggalkan rumput halaman belakang yang memerah karena sebotol fanta yang telah kau minum berminggu-minggu lalu, tumpah petang ini. Kau menoleh pada Papa, dia mendelik. Kau membuang wajah, mengikuti langkah Mama yang besar-besar. Di kamar mandi, Mama membasuh wajahmu. Ada rasa perih yang ganjil. Kau tak tahu dari mana muasalnya, mungkin dari mulutmu atau justru dari dada Mama yang tiba-tiba terbelah begitu saja. Dalam irama air yang jatuh dari keran, kau mendengar Mama bersenandung lirih. Kau suka mendengar Mamra menyanyi, tapi nadanya petang ini terlalu pilu.

***

MA, apa aku akan jadi banci?

Akhir-akhir ini kau terlalu suka bertanya kata Mama. Dan menurutmu belakangan ini Mama tak suka menjawab.

Apa gigiku akan tumbuh lagi?

Apa aku akan ompong selama-lamanya?

Apa anak laki-laki yang gigi depannya ompong masih manis?

Bila aku tidak manis lagi, apa Mama masih mencintaiku?

Jika aku jadi banci, apa Mama masih mencintaiku?

Mama seperti kehabisan jawaban atas rentetan pertanyaan yang sering kau lontarkan. Kau menduga sebenarnya Mama punya jawabannya, tapi dia tak ingin menjawabnya. Kau tak tahu apa alasan Mama tak ingin menjawab. Mungkin Mama hanya tak ingin menjawab.

Gigimu akan tumbuh lagi. Kita sudah menemukan gigimu yang tanggal. Dan kau berhasil melemparnya melewati atap. Peri gigi pasti sudah menangkap gigimu itu dan nanti dia akan mengganti gigimu dengan yang baru. Lebih kuat. Lebih putih.

Berarti aku akan menjadi anak yang lebih manis?

Kau sampai merasa lehermu akan patah dan matamu akan meloncat keluar karena kau menyibak setiap lapisan rumput halaman belakang untuk mencari patahan gigi itu. Kau tak ingin jadi anak laki-laki yang ompong. Kau tak ingin menjadi anak yang tak manis. Kau juga tak ingin Mama terus-menerus menangis lantaran Papa setiap hari kesal. Papa terus menyalahkan Mama. Lama-lama kau benci bos baru Papa, dia pasti laki-laki jahat. Dia sengaja jarang memberi Papa cuti kerja, jadi Papa kelelahan dan terus-menerus marah. Agar Papa tak marah, kau akan melakukan apa pun. Apa pun walau kau tak menyukainya. Walau berkali-kali botolan fanta meloncat keluar dari mulut dan hidungmu. Kau benci bila fanta itu keluar dari hidung, rasa sodanya membuatmu tak nyaman.

Anak laki-laki harus kuat! Anak laki-laki harus bisa berkelahi!

Kau tak boleh menangis walau rasanya sangat sakit. Anak manis tidak menangis kata Mama.

Kau ingin jadi anak manis Mama.

Kau harus meninjunya! Kau harus membuatnya berdarah!

Kau tak bisa. Dia temanmu. Satu-satunya temanmu. Dia anak laki-laki yang baik. Papa hanya tak suka kalian main kuda-kudaan. Papa tak ingin kau jadi kuda. Kau harus jadi jokinya. Cambuk dia sampai berdarah. Gebuk dia sampai berlari kencang. Kau ingin menangis, tapi anak manis Mama tak boleh menangis. Kau memejamkan mata saat melayangkan tinju. Dan dia tersungkur di lantai dengan hidung menumpahkan fanta. Matanya basah. Kalian saling menatap. Kau ingin mengatakan bahwa kau terpaksa. Tapi dia berlari. Sangat kencang. Dan kau tahu, dia tidak akan pernah kembali lagi.

***

MA, apa aku akan jadi banci?

Kau memegang lengan baju Mama yang menutupkan selimut hingga dadamu. Mama tertegun. Mata kalian beradu dalam remang kamar.

Apa benar Tuhan membenci banci?

Apa benar semua orang membenci banci?

Akhir-akhir ini Mama tak suka menjawab. Tidurlah, katanya. Kau harus berdoa. Tuhan senang mewujudkan doa anak manis yang diucapkan sebelum dia tidur. Dan kau pun kembali berdoa malam ini: Tuhan, kumohon. Apa pun. Asal jangan jadikan aku banci. Seakan semua hal di dunia ini akan selesai dengan sendirinya oleh sebuah doa. ***

 

Setelah membaca buku puisi Norman Erikson Pasaribu “Sergius Mencari Bacchus” terbitan Gramedia Pustaka Utama.

 

GUNTUR ALAM, buku kumpuian cerpennya Magi Perempuan dan Malam Kunang-kunang, Gramedia Pustaka Utama, Agustus 2015.

Advertisements