Puisi-puisi Iyut Fitra (Koran Tempo, 16-17 Desember 2017)

Glodok, Perempuan Batang Air, Ampangan ilustrasi Google.jpeg
Glodok, Perempuan Batang Air, Ampangan ilustrasi Google

Glodok

 

matanya nganga. pintu besar itu berbau lampau

tapi ia terus masuk. membawa tahun-tahun yang bertanya

“di mana sumur dari setiap airmata yang dulu tumpah?”

dinding-dinding tersenyum

seolah tak ada yang menyimpan percik darah, orang hilang, dan mayat

gadis-gadis bercelana singkat lewat seraya tertawa

aromanya mengubur kenangan yang telah dilupakan

tempat orang-orang bersorak atas nama bendera. atau entah karena apa

 

“singgahlah. di sini kami masih menjual masa lalu

apakah kau seorang yang tengah mencari bocah tak tahu bapaknya?”

angin yang gelisah. suara itu serupa dari pecinan

dan ia melihat tumpukan kalender yang dibakar. angka-angka merintih

“mei. panggil aku mei

kendati asapnya tak begitu hitam. tapi nasib bagiku terasa lebih kelam

teruslah mengenangku!”

 

tiba-tiba kepalanya dipenuhi oleh teriakan. ia terus saja masuk

karena tahun-tahun. berpuluh tahun terus mengepung

“apakah kau seorang yang dulu membawa api, menyulut hasut,

dan meninggalkan isak iba perempuan?”

 

kemudian ia berlari

meninggalkan glodok. yang dilihatnya penuh lukisan orang mati

 

Payakumbuh, 2017

 

Perempuan Batang Air

 

ia terlupakan. terlupakan

arah lebih berkasih pada laut. mula kedatangan

tapi bukankah batang ini yang dulu dihiliri para raja. para dara

untuk menulis tambo orang berlayar, saudagar, dan kepung lanun

lalu budak-budak dijual. tak ada tanda ingatan

selain nama yang terpancang di kenang-kenang ingatan

“aku perempuan batang air. bila tenang arus di muara

mengapa mengeruh ke ujung hilir?”

 

bagaimana melupakannya. o, bagaimana

mata yang sehitam silam

biduk, rakit, perahu, dan segala telah lewat memuat sejarah

dari kayu ulin ke rangkai baja. ia merasa tiap saat tubuh diguguh

sedangkan iakah garis darah yang telah membangun candi-candi dan pagoda

iakah keturunan yang tersangkut setelah banjir besar itu

 

ia terlupakan. terlupakan

“aku perempuan batang air. tak akan pergi kendati masa lalu datang mengusir!”

lalu tak ia dengar lagi suara biduk, rakit, perahu, dan kapal yang melaju

lalu ia lihat sampah berhanyutan selalu saban waktu

 

Buluh Cina-Payakumbuh, 2017

 

Ampangan

 

ampang sampai ke seberang

dinding sampai ke langit

 

bukit yang menukik ke arah kota. jurai hutan pinus

siapa pertama yang menusukkan dendam

hingga tanah demikian gersang

orang-orang mendaki. ke seberang orang-orang bernyanyi

perselisihan yang abadi

“takkan dapat ditawar bila malu tertampar

jangan berharap luka hati sembuh dalam sehari!”

ia susuri lereng itu. akar-akar melilit kokoh

walau matahari tua. di ampangan segala pantang adalah jiwa

 

dusun bambu. di jalan itik-itik terbang berkejaran dengan petang

orang-orang memagar ranah dengan pepatah

menjahitkan ke tebing-tebing. menjadi pintu-pintu meragu

“terbelintang lalu. tertelungkup patah!”

serupa dendang tiada usai-usai musim

hati-hati ia memungutnya. helai-helai menuju bukit

karena ampangan adalah adat yang tak lekang

orang-orang senantiasa bersetia pada peribahasa

 

ampang sampai ke seberang

dinding sampai ke langit

 

2017

 

 

Iyut Fitra lahir di Payakumbuh, Sumatera Barat. Buku puisi terbarunya adalah Lelaki dan Tangkai Sapu.

 

Untuk artikel Sastra dan Puisi Koran Tempo Akhir Pekan bisa dikirim ke e-mail: sastra@tempo.co.id

Advertisements