Cerpen Raidah Athirah (Republika, 10 Desember 2017)

Rindu Menjelang Senja ilustrasi Da'an Yahya - Republika
Rindu Menjelang Senja ilustrasi Da’an Yahya/Republika

(Bagian I)

Rumah berhalaman luas di Jalan Kondratowicza demikian asing terlihat. Dedaunan kering tersapu angin bergulung di tanah, diselimuti butiran putih menghadirkan sunyi setelah gerimis kehidupan menerpa di perjalanan.

Inilah saat mengingat suamiku, Sebastian. Ia telah kembali ke sisi Tuhan pada Desember sepuluh tahun lalu. Putra semata wayangku tinggal bersama keluarganya di Berlin. Aku sudah tak ingat kapan ia bersama istri cantiknya yang berambut pirang itu datang menjengukku. Seorang anak perempuan yang kukandung selama sembilan bulan pun sudah meninggalkanku. Riani, putri pertamaku, sudah menikah dengan seorang warga Amerika yang cinta kepadanya. Cinta sudah terlihat kala lelaki itu meminang Riani saat Sebastian masih hidup. Peter nama menantuku itu memboyong putriku ke Afrika, tempat ia ditugaskan sebagai duta besar.

Negeri mutiara hitam begitu jauh hingga rasanya mustahil dapat kujangkau di usia senja ini. Entah bagaimana rupa cucu keduaku, aku sama sekali tidak tahu. Riani dan suaminya datang mengunjungiku di Warsawa saat putra pertama mereka, Adam, berumur dua tahun. Ia hanya menelepon mengabarkan kelahiran anak keduanya. Seorang bayi perempuan montok berambut kecokelatan.

Suasana riuh di rumah sudah tak kurasa sejak aku harus tinggal di rumah tua karena tak mampu mengurus diriku sendiri akibat operasi tulang lutut 20 tahun lalu.

Aku mengenang keputusanku memilih melepas paspor hijau dan mengikat utuh hidupku sebagai seorang warga negara Polandia. Entah mengapa jiwaku terasa diterpa rindu yang tak bisa dikata.

Sebastian sempat menyayangkan keputusan yang kuambil, meskipun demikian ia menghormati apa pun yang kupilih. Percakapan kami di sebuah restoran kota tua kembali muncul mengempas memori. Saat itu, dedaunan telah jatuh memeluk merahnya senja, ia menatapku dengan mata penuh kasih. Mungkin saja ia merasa masanya akan tiba. Mendengar kata-katanya yang lembut hampir-hampir berbisik, aku mulai memahaminya di masa ini.

“Kau yakin dengan keputusanmu ini, Sri?” tanyanya lagi seperti ingin aku menimbang hal ini masak-masak.

“Aku sudah 40 tahun hidup di rantau. 30 tahun bersamamu. 10 tahun aku habiskan di ibu kota tanah airku. Tidak ada yang menanyakan kabarku sebagai keluarga kecuali mereka hendak meminta uang. Warisan orang tuaku sudah kadung jadi sengketa. Aku bahagia di sini. Aku menerima hidup ini sejak awal kau menikahiku.”

Kochana (tersayang/panggilan kasih seorang laki kepada perempuan yang di cinta)…, aku takut kau merasakan kerinduan bila aku sudah tak ada di sisi.”

“Tidak! Kau terlalu perasa Sebastian. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hidup di mana saja pasti ada tantangan, ya kan?”

Dorbze (baiklah atau well dalam bahasa Inggris) kochana,” katanya sambil memegang erat tanganku di merah saga menutupi hawa dingin.

Sebenarnya aku tak perlu menahan ke rinduan ini. Hidup orang-orang yang kucinta baik-baik saja. Itu sebenarnya sudah cukup untuk wanita renta sepertiku. Namun tetap saja tidak mengurangi rasa rindu yang tiba-tiba hadir. Besok, Desember semua orang akan jauh mengunjungi keluarga. Aku dan seorang wanita seumuran bernama Pani Dagmara akan tinggal berdua saja di panti ini.

Pikiranku melayang ke masa 30 tahun lalu. Saat itu, kutinggalkan rumahku untuk menikah dengan seorang lelaki asing Polandia. Setahun berselang, Sebastian membawaku ke negeri Sang Paulus ini untuk merasakan hidup baru. Aku menyalami ibu dan abah yang melepasku dengan linangan air mata. Masa itu terasa baru berlalu. Ternyata masa itu kini datang padaku, menua di negeri asing. Putaran kehidupan terjadi begitu cepat.

Aku datang ke negeri ini saat tumpukan salju teronggok di sudut-sudut jalan. Orang-orang dari dahulu tak berubah, kaku dan bergerak cepat. Bahasa mereka hampir tak bisa aku pahami, sulit sekali diucap. Meskipun demikian ,aku telah memilih jalanku bersuamikan lelaki asing.

Setelah melahirkan Rino, aku disergap pikiran gila. Mungkin saja ini yang dinamakan kesepian. Tersedu-sedu aku menangis di sudut taman setelah mengantar putra kecilku memasuki usia belajar. Tak ada seorang pun yang bisa kuajak bertukar kata. Aku akhirnya berdamai dengan keadaan.

Ketika itu, aku berikhtiar menyatu dengan orang lokal. Mempelajari bahasa mereka, memperhatikan tata krama dan pada akhirnya aku bisa memahami kisah pilu di ruang kelas, bus kota, dan sudut taman.

Rasa muak setiap menjelang musim dingin tak lagi kutangisi. Aku kembali hamil. Riani lahir saat Sebastian sudah mendapatkan pekerjaan di Warsawa. Kesulitanku berkurang, tapi pekerjaanku bertambah. Aku diterima bekerja sebagai pengasuh anak-anak sekali pun aku menyandang gelar sarjana ekonomi dari universitas terkemuka di Indonesia.

Sebastian ingin aku tetap tinggal di rumah dan mengasuh anak-anak. Tapi dia tahu betul ketika menikahiku, perempuan Sunda berparas manis tapi keras kepala. Aku bekerja mengumpulkan uang dan mengirimkan setiap bulan untuk keluargaku di kampung halaman.

Kapan kerinduan ini terobati? Laki-laki yang kucinta telah pergi selamanya. Anak-anakku pun telah berlalu dengan langkah-langkah panjang, jauh dari pandangan mata. Mereka menjauh mengikuti garis hidup, kadang menoleh dan pada akhirnya tidak sama sekali. Tak lebih tak kurang dengan yang kulakukan dahulu.

Sekali pun aku lelah mengandung dan mengasuh, mereka berlalu menyambut masa depan. Tak ada yang perlu kutangisi di usia menjelang senja. Aku bahagia mereka menyongsong sejuta harapan dan cita-cita. Hanya saja, masaku kini hanya ketuaan di tanah asing. Kerinduan membumbung tinggi melahirkan air di pelupuk mata yang keriput.

Kehidupan di rantau jauh dari pemandangan ayam jago menjelang fajar, sawah ladang hijau sepanjang musim, dan panas matahari setiap waktu. Gelap di negeri ini membuatku di ujung derita. Bukankah ini mimpi yang dulu kupupuk?

Memandangi salju dari balik jendela kamar. Doaku terkabul! Aku mengenang masa kecil di Ciamis yang kurindukan. Aku sudah tak ingat bagaimana rupa adik bungsuku, Dini. Aku merantau sewaktu ia baru bisa melangkah. Entah bagaimana paras cantiknya bersemi. Aku rindukan pertemuan dengannya. Umi dan Abah juga sudah berpulang. Mungkin saja waktuku akan segera menyusul. Entahlah, aku disergap kesendirian yang perih di rantau.

 

RAIDAH ATHIRAH adalah seorang diaspora yang tinggal di Polandia. Belum lama ini dia meraih penghargaan dalam Bilik Sastra VOI Award 2017. Dalam perlombaan itu dia mengirimkan cerpen berjudul “Kenangan, Cinta, dan Sejarah Kota Tua.” Warga Indonesia ini gemar membuat karya tulis fiksi, seperti cerpen yang kini pembaca nikmati. Kisah yang ditulisnya kaya dengan nuansa hidup dalam perantauan. Menyentuh hati siapa pun yang membacanya.

Advertisements