Cerpen Siti Siamah (Pikiran Rakyat, 10 Desember 2017)

Di Bawah Pohon ilustrasi Mawar Diah Pratiwi - Pikiran Rakyat
Di Bawah Pohon ilustrasi Mawar Diah Pratiwi/Pikiran Rakyat

POHON beringin yang berdiri di tengah kampung pelosok itu, tepatnya di pojok perempatan jalan itu, umurnya memang sudah cukup tua. Menurut penuturan Kakek Joyo, warga tertua yang umurnya sudah 80 tahun, ketika ia masih kecil pohon beringin itu sudah besar dan tingginya sama dengan tiang listrik.

KINI, pohon beringin itu menjadi satu-satunya pohon terbesar, tertinggi dan tertua di kampung itu. Kini, pohon beringin itu besarnya hampir dua depa orang dewasa, dan tingginya sekitar 15 meter. Banyak orang yang percaya bahwa di dalam pohon beringin itu ada kekuatan gaib yang luar biasa. Kekuatan gaib itu akan mampu membunuh setiap orang yang punya niat menebang pohon beringin itu.

Misalnya, jika ada warga di kampung itu yang berniat menebang atau sekadar punya keinginan melihat pohon beringin itu roboh, maka ia akan kualat, langsung jatuh sakit. Sialnya, jika ia sudah jatuh sakit, tidak akan ada obat yang bisa menyembuhkannya, juga tidak bisa mati, kecuali jika ia bersedia menyembah dan meminta maaf kepada pohon beringin itu. Dengan demikian, jika ada orang yang jatuh sakit gara-gara pernah punya niat menebang atau melihat pohon beringin itu roboh, pasti ia akan mati setelah menyembah pohon beringin itu.

Karena itu, setiap warga di kampung itu akan cepat-cepat memperingatkan anak- anaknya sedini mungkin, jangan sampai suatu ketika punya niat atau keinginan menebang atau melihat pohon beringin itu roboh.

Memang, warga di kampung itu sudah mengenal agama, dan sudah punya tempat ibadah, bahkan di antaranya sangat tekun beribadah sesuai dengan agamanya. Tapi mereka tetap percaya bahwa di dalam pohon beringin itu ada kekuatan gaib. Bahkan, pemuka-pemuka agama di kampung itu juga suka memberi nasihat kepada warga agar melestarikan pohon beringin itu.

“Tuhan telah menciptakan alam semesta ini, termasuk pohon beringin itu, yang harus kita lestarikan. Agama melarang kita merusak alam semesta. Bahkan, Tuhan akan mengutuk orang yang membuat kerusakan bagi alam semesta ini,” tutur pemuka-pemuka agama ketika sedang berceramah.

Penuturan pemuka-pemuka agama itu kemudian diterjemahkan sendiri-sendiri oleh masing-masing warga. Bahwa Tuhan mungkin telah membekali pohon beringin itu dengan sebuah kekuatan gaib yang luar biasa, yang bisa bikin kualat bagi siapa pun yang berniat menebang atau berkeinginan melihat pohon beringin itu roboh.

Begitulah. Kepercayaan bahwa di dalam pohon beringin itu ada kekuatan gaib yang luar biasa selalu dianggap logis dan sesuai dengan ajaran agama. Maka, jika ada warga desa yang menyembah pohon beringin itu untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya, juga dianggap logis dan dianggap sama dengan sembahyang kepada Tuhan.

Misalnya, jika ingin kaya, ingin sehat, ingin selalu rukun berkeluarga, banyak warga yang menyembah pohon beringin itu dengan sikap santun, mirip adegan rakyat yang sedang menghadap rajanya di masa silam. Bahkan, agar keinginannya segera terkabul, banyak warga yang hendak menyembah pohon beringin itu membawa sebungkus bunga dan senampan kue dan buah-buahan untuk sesajian, yang biasanya diletakkan di bawah pohon beringin itu. Tak ada seorang pun yang berani mengambil sesajian itu, kecuali warga desa yang tidak waras, seperti Kang Jupri.

Kang Jupri memang tidak waras, alias edan. Ia sakit ingatan sejak kecil, dan sering berjaian-jalan tanpa tujuan, dan kadang datang mengambil sesajian yang ada di bawah pohon beringin itu. Laki-laki bujangan berusia sekitar 40 tahun ini hidup sebatang kara, kedua orangtuanya sudah wafat dan tidak punya sanak saudara. Rambutnya panjang menggimbal. Tubuhnya kurus dan dekil karena tak pernah mandi, pakaiannya sangat kumal dan compang-camping karena tak pernah diganti.

Bahkan, Kang Jupri sering juga tidur-tiduran di bawah pohon beringin itu sehabis menyantap sesajian yang ada. Yang sangat kurang ajar, ia juga sering kencing di bawah pohon beringin itu. Dan anehnya, ia tetap sehat-sehat saja, bahkan nyaris tidak pernah jatuh sakit.

Sejak orde baru tumbang, Kang Jupri setiap hari selalu datang di bawah pohon beringin itu. Dan ia akan tidur-tiduran sepanjang hari, lalu kencing sambil bicara sendiri dan tertawa cekikikan, lantas meludah-ludah ke arah batang pohon beringin itu. Bahkan, ia juga kadang berak di bawah pohon beringin itu, jika kebetulan sedang diare atau kebelet.

Dan karena Kang Jupri selalu berada di bawah pohon beringin itu sepanjang hari, maka warga desa berdatangan pada malam hari jika ingin menyembah pohon beringin itu dan membawa sesajian. Padahal, suasana di bawah pohon beringin di malam hari itu agak gelap. Maka, ada-ada saja warga yang datang ingin menyembah pohon beringin itu yang menginjak kotoran Kang Jupri.

Suatu malam, ada warga yang datang ingin menyembah pohon beringin itu dan membawa sesajian, tapi sial karena kakinya menginjak kotoran Kang Jupri yang berceceran. Warga yang sial itu sepontan memaki-maki. Dan setelah pulang ke rumah, langsung jatuh sakit, sekujur tubuhnya demam dan muntah berak, kemudian esoknya meninggal dunia.

Kematian warga yang sial itu, langsung dianggap sebagai bentuk peringatan bagi warga yang lain, agar jangan sekali-sekali memaki-maki di bawah pohon beringin itu. Bahkan, muncul kepercayaan baru: Siapa yang memaki-maki atau menghina Kang Jupri, akan kualat, karena Kang Jupri dilindungi oleh kekuatan gaib yang luar biasa yang ada di dalam pohon beringin itu.

“Kalau Kang Jupri tidak dilindungi oleh kekuatan gaib yang ada di dalam pohon beringin itu, pasti dia sudah mati, karena sering kencing dan berak di bawah pohon beringin itu,” ujar banyak warga.

Namun, dasar tidak waras, Kang Jupri semakin kurang ajar. Suatu malam, ia berak di bawah pohon beringin itu. Dan ketika ada warga yang datang untuk menyembah pohon beringin itu, langsung disuruh untuk menyantap kotorannya. Warga yang sial itu tidak berani menolak.

Dengan menahan jijik, terpaksa menyantap kotoran Kang Jupri. Lalu muntah-muntah, dan berlari pulang ke rumahnya. Dan setibanya di rumah, lang-sung jatuh sakit, demam tinggi dan muntah berak, lalu esoknya menghembuskan napas terakhir.

Kematian warga yang habis menyantap kotoran Kang Jupri itu, langsung dipercaya sebagai sebuah bentuk kutukan. Lebih jelasnya, bagi siapa saja yang kebetulan berada di bawah pohon beringin itu, dan disuruh oleh Kang Jupri untuk menyantap kotorannya, harus bersedia melakukannya dengan setulus hati, jangan sampai muntah-muntah, agar tidak kualat.

Dan dasar tidak waras, pada suatu malam Kang Jupri tiba-tiba berteriak-teriak di bawah pohon beringin itu, memanggil-manggil semua warga kampung itu untuk segera datang menyembahnya dan kemudian menyantap kotorannya.

“Wahai semua warga yang mendengar suaraku! Cepat datang ke sini! Sembahlah aku, dan kemudian santaplah kotoranku yang berceceran ini!” teriak Kang Jupri sambil berdiri dengan punggung bersandaran di batang pohon beringin itu.

Mula-mula hanya beberapa warga terdekat yang mendengar teriakan Kang Jupri itu. Lalu mereka saling berbisik.

“Waduh, bagaimana ini? Kang Jupri mengundang kita. Dia meminta kita untuk menyembahnya dan menyantap kotorannya”

“Ya, bagaimana, ya? Mana mungkin kita menyembahnya, apalagi menyantap kotorannya?”

Mereka kemudian didera perasaan bingung, takut, dan jijik. Lalu mereka muntah-muntah, pusing-pusing dan kemudian jatuh sakit.

Kang Jupri terus berteriak-teriak. Maka semakin banyak warga yang mendengarnya. Dan semakin banyak warga yang bingung, takut; dan jijik, lalu muntah-muntah, pusing, lemas, dan akhirnya jatuh sakit

Karena banyak warga yang jatuh sakit, gara-gara tidak bersedia menyembah Kang Jupri dan menyantap kotorannya, kemudian beberapa warga lain yang baru saja mendengar teriakan Kang Jupri segera berbondong-bondong mendatangi pohon beringin itu dan langsung menyembah Kang Jupri dan menyantap kotorannya. Mereka memilih patuh kepada Kang Jupri daripada jatuh sakit. Tapi, mereka adalah orang-orang normal, yang memiliki perasaan jijik ketika menyantap kotoran. Maka, mereka langsung muntah-muntah begitu menelan kotoran Kang Jupri yang berceceran itu. Lalu mereka pulang ke rumah masing-masing dengan kepala pusing, lantas muntah berak sebelum kemudian lemas dan jatuh sakit.

Kang Jupri semakin lantang berteriak-teriak memanggil-manggil semua warga untuk segera datang menyembahnya dan menyantap kotorannya. Dan karena sudah banyak warga yang menentang maupun yang patuh kepada Kang Jupri sama-sama jatuh sakit, sejumlah warga yang lain memilih untuk bersikap menolak. Mereka mencoba bersikap rasional. Mereka mengungkapkan isi hatinya masing-masing.

“Kita harus menolak panggilan Kang Jupri! Dia itu gila! Bagaimana mungkin kita-kita yang normal ini rela ikut-ikutan gila?!”

“Setuju! Kita jangan bersedia menyembah orang gila itu! Kita jangan sampai menyekutukan Tuhan!”

“Kalau cuma menyembah orang gila itu, rasanya oke-oke saja. Tapi kalau disuruh menyantap kotorannya, waduh, siapa yang tidak jijik?”

“Ya, siapa yang tidak jijik?”

“Ya, jelas sangat menjijikkan, dong!”

“Tapi kita harus ingat, menyekutukan Tuhan itu juga sebenarnya sangat nista, amat sangat menjijikkan dan menakutkan, karena dosanya tidak akan terampuni, dan di akhirat nanti akan menerima hukuman yang sangat berat, dibakar di neraka jahanam selamanya!”

Kang Jupri terus menerus berteriak memanggil-manggil warga untuk segera datang menyembahnya dan menyantap kotorannya. Semakin malam, teriakan Kang Jupri semakin nyaring terdengar, sampai jauh. Pak lurah mendengarnya. Pak Carik juga mendengarnya. Pak RW, Pak RT, Pak Kadus, dan para hansip, semuanya mendengar teriakan itu. Tapi mereka memilih untuk tetap berada di dalam rumah masing- masing. Mereka tidak mau peduli. Mereka tahu, sejak dulu Kang Jupri memang tidak waras. Mereka tidak tahu, betapa sudah banyak warga yang menjadi korban.

Dan pagi itu, di dalam kamarnya masing-masing, Pak Lurah dan para pamong serta para hansip masih berbaring berdekapan dengan sang istri, sambil mendengarkan teriakan-teriakan Kang Jupri yang semakin lantang dan nyaring, seolah-olah dilansir oleh pengeras suara di pucuk tiang bambu yang tinggi. Begitu jelas terdengar. Begitu menggoda. Dan karena tergoda, mereka pun keluar rumah, bersama istri masing-masing, dan bergegas mendatangi pohon beringin itu.

Kang Jupri tertawa cekikikan, ketika melihat Pak Lurah dan semua pamong serta para hansip bersama istri masing-masing berbondong-bondong mendatanginya.

“Ayo cepat sembahlah pohon ini dan diriku. Dan ayo santaplah kotoranku!” teriak Kang Jupri sambil berdiri bersandaran di batang pohon beringin itu.

Tanpa banyak pikír dan bicara, Pak Lurah dan rombongannya segera menyembah pohon beringin dan menyembah Kang Jupri, lalu menyantap kotoran yang berceceran di sekitarnya. Mereka tidak peduli disaksikan oleh ratusan warga yang terheran-heran. Mereka tampak khusyuk menyembah pohon beringin dan menyembah Kang Jupri, dan asyik menyantap kotoran. Tak ada tanda-tanda rasa jijik atau rasa malu tersirat di wajah mereka.

Seorang gadis kecil berseragam taman kanak-kanak, yang berdiri di depan ibunya, di tengah kerumunan warga yang menyaksikan pemandangan aneh di bawah pohon beringin itu, tiba-tiba tertawa- tawa dan berkomentar: “Hi hi hi hi, lucunya, pohon kok disembah-sembah!”

Mendengar komentar gadis kecil itu, semua orang tersentak kaget seperti sedang terbangun dari mimpi buruk. ***

Advertisements