Oleh Julia Hartini (Pikiran Rakyat, 10 Desember 2017)

Pedestrian ilustrasi Google
Pedestrian ilustrasi Google

PERBAIKAN trotoar di beberapa kota besar sedang digalakkan pemerintah daerah, termasuk di ibu kota. Di wilayah ini, beberapa trotoar yang tak ramah bagi penyandang disabilitas dibongkar. Selain itu, jalur pejalan kaki diperlebar. Bahkan, pohon-pohon akan dipindahkan sehingga siapa pun yang memakai kursi roda tak mengalami hambatan. Pengerjaan itu pun direncanakan selesai total tahun depan.

Beberapa bulan lalu, saya berjalan di daerah Blok M, Jakarta Selatan, kemudian melihat aktivitas para pekerja yang membongkar trotoar. Adanya proyek tersebut membuat laju kendaraan semakin tersendat. Saya pun sebagai pedestrian harus rela melangkah di badan jalan lalu berlomba dengan laju kendaraan. Tak pelak, suara klakson yang memekakkan telinga meminta saya untuk ke pinggir. Meskipun kesal, saya harus melakukan itu.

Perjalanan saya untuk sampai di tujuan jelas terganggu. Kendati demikian, tak ada yang bisa disalahkan. Baik saya maupun pengendara memang harus berbagi. Di tengah rasa kesal itu, rupanya ada kelucuan yang mungkin tak semua orang sadar akan hal tersebut.

Di sekitar lokasi pengerjaan perbaikan trotoar terdapat tulisan penataan pedestrian DKI Jakarta. Saya lalu bergumam, apakah pemerintah daerah sedang menata pejalan kaki atau jalur pejalan kaki? Mungkin juga dua-duanya.

Meskipun demikian, tetap ada yangjanggal dalam kata-kata tersebut. Mengacu Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam jaringan edisi kelima, pe.des.tri.an/pedestrian/n pejalan kaki: jalan khusus – memang dibuat bersusun dua. Oleh karena itu, pemberitahuan yang dikeluarkan pembuat proyek di spanduk tersebut tampaknya keliru. Sebab, yang sedang ditata saat itu adalah fasilitas fisik, yakni trotoar. Secara logika pun, apakah pemerintah sedang membangun pejalan kaki?

Oleh karena itu, diperlukan kata tambahan sebelum kata pedestrian, yakni jalur. Ja.lur 1 n kolom yang lurus; garis lebar; setrip lebar, n ruang di antara dua garis pada permukaan yang luas, n ruang memanjang di antara dua deret tanaman. Dengan begitu, jalur pedestrian bisa diartikan sebagai ruang yang memanjang bagi pejalan kaki.

Dengan adanya kelucuan yang tidak disengaja ini, mari kita #bijak-berbahasa. Tujuannya, kekeliruan tidak menjangkiti para pedestrian yang sebentar lagi memiliki jalur pedestrian yang lebih bagus dan manusiawi. ***

Advertisements