Cerpen Ketut Sugiartha (Bali Post, 10 Desember 2017)

Lepas ilustrasi Citra Sasmito - Bali Post
Lepas ilustrasi Citra Sasmito/Bali Post

Perasaan bersalah tak henti menganiaya, membuat kedua kakinya seperti dikendalikan mesin otomatis, bergerak ke sana kemari dalam gelisah yang berat. Ia mondar-mandir tak tentu arah. Kadang ke pojok ruangan, kadang ke dekat jendela. Ia tak bisa istirahat walau begitu penat. Tak ada yang mampu menenteramkan hatinya. Teramat kalut pikirannya.

Ia telah melakukan perbuatan tak senonoh kepada orang tua yang sepatutnya dihormati. Ia menyesali sikap kekanak-kanakan yang telah menyeret dirinya bersekutu dengan bangkai binatang, melakukan pelecehan kepada orang suci yang sedang tenggelam dalam keheningan tapa.

Betapa besar dosaku, keluhnya. Dosa seorang penguasa yang telah melakukan perbuatan busuk, sebusuk bangkai ular. Ini kesalahan yang tak layak diampuni. Aku harus bertanggung jawab. Aku telah menorehkan warna kelam pada sejarah Wangsa Kuru yang agung. Aku telah membuat rapuh pilar sebuah dinasti. Seluruh penghuni jagatraya kelak akan mengenangku sebagai penista peradaban yang telah dengan susah payah dibangun leluhurku.

Lebih dari itu, akan kutaruh di mana muka ini jika sang Avatar tiba-tiba muncul dan mempertanyakannya? Mungkin ia sedih dan menyesal telah menyelamatkanku dari kematian dini akibat serangan senjata sakti Aswatama. Ketika itu aku masih dalam kandungan ibuku. Ia melakukan itu tentu karena berharap kelak aku akan jadi manusia bertabiat mulia, menjadi panutan bagi seluruh rakyat dan menjadi penerus trah Wangsa Kuru. Namun aku telah mengoyak lembaran takdirku dengan tindakan tak terkendali.

Ia tak habis pikir bagaimana ia bisa berperilaku sekeji itu. Kepada orang suci pula. Ingatan pada Krisna membuatnya makin merasa tak nyaman. Sang Avatar pernah memberitahu bahwa ia bukanlah manusia biasa. Jika manusia biasa, pasti ia tidak bisa mengingat peristiwa penting tatkala ia masih dalam kandungan ibunya. Ya, ia tak pernah lupa bagaimana ia dicekam perasaan takut yang amat sangat ketika masih ada dalam rahim ibunya. Ia merasa akan binasa dalam sekejap. Dan secepat ia berpikir demikian itu benar terjadi. Ia melesat keluar dari tubuh ibunya yang terkulai. Orang-orang yang ada di sekitar dilihatnya pada berduka. Meratapi tubuh ibunya yang terbujur kaku tanpa nyawa. Dirinya yang meringkuk di dalamnya juga kehilangan denyut. Entah kenapa tak lama kemudian ia ingin masuk kembali ke dalam tubuh itu. Ia merasa nyaman setelah cahaya gemilang tampak berpendar di sekitarnya. Cahaya itu kemudian menjelma wajah berwibawa dengan senyum kekanakan. Wajah yang dikelilingi aura teduh menenteramkan. Wajah yang kemudian selalu dirindukannya setelah lahir ke dunia ini.

Setiap ada acara pertemuan di istana, ia selalu minta turun dari gendongan ibunya dan lantas merangkak ke sana kemari, mengamati wajah setiap orang yang hadir. Sampai kemudian ia menemukan wajah yang dirindukannya, wajah yang dikelilingi halo cemerlang. Dengan senyum khasnya pemilik wajah itu lantas mengangkat dan menggendongnya. Karena ia selalu melakukan pariksha, memeriksa wajah setiap orang yang ditemui, maka ia diberi nama Pariksit.

Ingin rasanya ia kembali ke pertapaan untuk mengaku dosa dan agar dihukum sepadan dengan kesalahannya. Namun ia tahu itu tak mungkin. Brahmana tak akan menghukum. Jika ada cara yang dapat dilakukan untuk memurnikan kembali dirinya, akan dilakukannya dengan tulus. Tanpa syarat.

Ia berdiri tegang ketika tiba-tiba seorang pengawal istana muncul di pintu. Pengawal itu berdiri dengan kedua telapak tangan terkatup di depan dada.

“Ada apa?” burunya.

“Ada utusan ingin bertemu Yang Mulia. Ia murid Bagawan Samiti.”

Bagawan Samiti? Ia berdebar, tiba-tiba mengalami perasaan takut yang asing. Sebelumnya ia tak pernah merasa seperti ini. Seberapa hebat pun seorang musuh ia tak pernah gentar menghadapi. Kapan pun ia siap mempertaruhkan nyawa untuk membela negara dan rakyatnya. Ia memberi isyarat agar pengawal mendekat.

“Bagaimana kesanmu tentang orang itu?” tanyanya lirih.

“Yang Mulia, petapa muda itu sangat ramah. Sedikit pun tak ada tanda-tanda yang mencurigakan,” jawab pengawal.

Ia menarik napas panjang. “Kau bilang apa padanya?”

“Hamba bilang Yang Mulia sedang istirahat. Hamba minta ia menunggu, tapi ia mendesak agar dibiarkan bertemu Yang Mulia secepatnya. Ia bilang ada hal penting yang harus disampaikan.”

Pariksit setengah berlari menuju gerbang penjagaan tanpa alas kaki. Begitu sampai di depan seorang anak muda yang mengenakan jubah putih, ia memberi salam dengan telapak tangan terkatup di depan dada. Petapa muda itu kemudian dibawanya ke dalam dan dipersilakan duduk di kursi sementara ia sendiri bersimpuh di lantai. Ia tahu sikap ganjilnya ini membuat petapa muda jadi rikuh, namun ia tak peduli. Ia minta segera diberitahu mengenai maksud kedatangannya.

“Yang Mulia,” ujar anak muda yang berwajah jernih itu. “Guru saya, Bagawan Samiti, menyampaikan berkat khusus kepada Yang Mulia. Beliau mengutus saya untuk menyampaikan hal penting kepada Yang Mulia.”

Tiba-tiba petapa muda menangis. Pariksit bingung dan mendesak, “Cepat katakan, saya siap mengorbankan hidup saya demi kewajiban. Apakah negara ini dalam bahaya? Saya siap mengorbankan apa saja demi rakyat.”

“Yang Mulia, rakyat dalam keadaan aman. Justru Yang Mulia yang sedang terancam bahaya.”

Pariksit tersenyum mendengar ucapannya. Ada perasaan lega merayapi hatinya.

“Saya diberkati,” tanggapnya. “Jika negara dan rakyat dalam keadaan baik, tak ada yang patut dirisaukan. Saya tidak peduli apa yang akan terjadi pada diri saya. Tugas saya adalah memberikan kesejahteraaan bagi rakyat. Sekarang, katakan pesan apa yang engkau bawa?”

“Yang Mulia, Guru sangat prihatin atas kesalahan menyedihkan yang dilakukan putra beliau.”

“Kesalahan apa yang engkau bicarakan?”

“Yang Mulia, Guru punya seorang putra. Walau masih bocah, ia memiliki pengetahuan setara orang dewasa yang cerdas. Ia menghormati ayahnya seperti dewa.”

***

Bagawan Samiti duduk hening dalam sikap siddhasana. Sudah berjam-jam ia tenggelam dalam meditasi yang dalam. Lambat-lambat tampak jemari tangannya bergerak diikuti kedua kelopak matanya yang terbuka perlahan. Ia tidak kaget mendapati seekor ular mati melingkar di lehernya, juga tidak ada letupan emosi tergurat di wajahnya walau ada tanda tanya terpancang di benaknya. Saat mengamati bangkai ular, sayup terdengar sedu-sedan dari arah belakang.

“Srenggi?” gumam sang Bagawan heran.

“Ada apa, Nak? Kenapa menangis?” tanyanya lembut.

Srenggi mendekat dan mulai bercerita tentang orang yang telah mengalungkan bangkai ular di leher ayahnya.

“Jahat sekali! Ia telah menghina Ayah,” tanggapnya dengan air mata berurai. “Maafkan kelalaianku.”

Bagawan tersenyum arif mendengar penuturan putranya.

“Kasihan,” ujarnya dengan suara teduh. “Ia tak tahu apa yang ia lakukan. Kau tak perlu marah, Nak. Pujian atau hinaan tak memengaruhiku. Ingatlah, orang yang telah mencapai keseimbangan tidak bangga bila dipuji dan tidak berkecil hati bila dihina. Lelucon konyol ini tak perlu dimasukkan ke hati.”

“Ini bukan lelucon, Ayah. Ini kelakuan seorang penguasa.”

“Apa?” tanggap Bagawan tak percaya. “Jangan mengada-ada. Raja tak akan berbuat begitu.”

Teman-teman Srenggi yang berkerumun di belakang mulai bicara.

“Guru, kami melihatnya keluar dari sini. Kami yakin dia pelakunya. Srenggi marah ketika kami beritahu. Ia berlari ke sungai lalu menciduk air dan mengutuk orang itu agar mati digigit ular tujuh hari sejak hari ini.”

Bagawan terhenyak.

“Betul engkau lakukan itu?” tanya Bagawan pada anaknya. “Aduh, kenapa petapa berperilaku seperti itu? Kau telah melontarkan kutukan dahsyat untuk kesalahan yang sepele. Ternyata kau tak cukup tabah menghadapi hinaan sekecil itu. Petapa tak punya hak untuk menghukum. Petapa yang mengutuk tak pantas disebut petapa.”

Srenggi menelungkup di lantai dan menyentuh kaki Bagawan.

“Ampuni aku, Ayah. Aku berbuat begitu karena orang itu tak punya tata krama. Bukankah seorang raja tak pantas berperilaku demikian? Kalau ini didiamkan, akan bisa jadi contoh yang tidak baik. Rakyat akan meniru apa yang dilakukan panutannya. Negeri ini bisa kacau karena tak akan ada lagi ketaatan pada aturan.”

Bagawan Samiti minta Srenggi duduk di sebelahnya. Diam-diam ia bangga dengan putranya yang baru berusia dua belas tahun sudah menguasai pengetahuan yang jauh melampaui teman-teman seusianya. Tak diragukan ia pasti telah melahap isi pustaka jauh lebih banyak daripada temantemannya.

“Nak,” ujarnya dengan nada pelan. “Kau benar. Tapi ingat, orang bisa kehilangan akal budi karena keadaan. Raja adalah penguasa dan tak ada yang meragukan kebaikannya. Ia terbiasa dilayani banyak abdi. Bila bepergian, ia diiringi banyak pengawal. Mereka selalu siap melayani untuk hal yang paling remeh sekalipun. Begitu ia berkunjung ke suatu daerah, penguasa daerah memberikan sambutan dan berusaha menyenangkan hatinya dengan persembahan yang terbaik. Orang yang terbiasa dengan hal seperti itu, dalam keadaan lelah, lapar dan haus, pasti sangat kecewa ketika tidak mendapat sambutan di tempat ini. Ia berbuat tak patut karena keadaan yang menekan. Tentu saja itu salah, tapi reaksimu berlebihan.”

Bagawan menarik napas panjang dan memejamkan mata. Ia berpikir keras bagaimana caranya menyelamatkan Raja. “Hyang Bhatara,” ucapnya lirih. “Anak yang belum dewasa ini telah melakukan kesalahan yang akan mencelakakan pengayom rakyat. Ampunilah dia dan selamatkanlah Yang Mulia Raja.”

Ketika membuka mata, Bagawan mendapati banyak petapa duduk di hadapannya. Siap menerima pencerahan sore itu.

“Kalian tahu, apa yang telah dilakukan Srenggi?” ucap Bagawan kepada mereka. “Bukankah tidak benar seorang petapa mencelakakan Raja?”

Tak ada yang menjawab. Suasana hening. Bagawan meneruskan, “Aku mohon kalian berdoa agar Raja tidak tertimpa bencana.”

Seorang petapa lanjut usia kemudian berkata, “Yang Mulia Bagawan, seharusnya Anda tak perlu khawatir. Anda pasti dapat melakukan sesuatu dengan kemampuan yang Anda miliki. Anda dapat membuat kutukan itu tak berpengaruh apa-apa bagi Raja.”

“Benar! Benar! Maafkan Srenggi dan datangkan kesejahteraan bagi Raja,” sambut yang lain antusias.

Bagawan merenungkan kata-kata para petapa lalu pelan-pelan kembali memejamkan mata. Yang lain serentak mengikuti. Sunyi merajai pertapaan. Semuanya larut dalam semadi. Begitu membuka mata, ia memanggil salah seorang muridnya.

“Berangkatlah ke Hastinapura,” pintanya setelah murid itu duduk di depannya.

“Siap, Guru. Mohon katakan, apa yang harus saya lakukan di sana?”

Bagawan kemudian mengatakan hal yang harus disampaikannya kepada Raja.

***

Pariksit tersenyum mendengar penuturan petapa muda di depannya.

“Anak muda, ular itu akan menggigit saya tujuh hari lagi. Bagi saya ini bukan kutukan tapi anugerah. Ini berkah yang diucapkan putra Guru. Selama ini saya begitu tenggelam dalam urusan duniawi dan melalaikan urusan rohani. Saya yakin, Hyang Bhatara yang menggerakkan lidah putra Guru untuk melontarkan kutukan. Hyang Bhatara telah menganugerahi saya waktu tujuh hari. Bukankah ini menakjubkan? Hyang Bhatara pasti menghendaki saya memanfaatkan setiap saat dalam tujuh hari ini untuk merenung. Maka mulai sekarang, akan saya serahkan seluruh waktu dan hidup saya di kaki Hyang Bhatara tanpa jeda. Anak muda, katakan apa lagi pesan Guru?”

“Guru sangat menyayangkan kenapa ini harus terjadi. Beliau telah berusaha mencari cara untuk menghindarkan akibat kutukan itu. Namun, begitu beliau tahu Yang Mulia memang ditakdirkan mangkat digigit ular, beliau tak bisa berbuat apa-apa. Sekarang tugas saya sudah selesai. Saya mohon pamit.”

Kembali Parikesit mengatupkan telapak tangan di depan dada. Ia minta pada petapa agar salam hormatnya disampaikan kepada Bagawan Samiti dan putranya. Perasaan lega membanjiri dirinya dan ia berjanji akan segera menyerahkan tahta pada Janamejaya. Walau ia tahu bocah itu belum mengerti ihwal pemerintahan, ia tak ingin menundanya. Ia pikir inilah saat yang tepat untuk melepaskan diri dari segala ikatan duniawi.***

 

Ketut Sugiartha tinggal di Belayu, Tabanan. Menulis esai, cernak, cerpen dan novel. Telah menerbitkan 1 kumpulan cernak, 2 kumpulan cerpen dan 4 novel. Salah satu cerpennya dimuat dalam antologi cerpen Indonesia dalam bahasa Inggris: OUR HERITAGE, 16 Modern Indonesian Stories (1993).

Advertisements