Oleh Riyan Prasetio (Padang Ekspres, 10 Desember 2017)

Kertas Sontekan ilustrasi Google
Kertas Sontekan ilustrasi Google

“KA, yakin kamu mau melihat contekan saat ujian nanti?” Fadil meletakkan tas di meja.

Giska tidak memedulikan pertanyaan Fadil. Pena yang ada di dalam genggaman tangannya terus menari di secarik kertas. Kertas yang sudah disobek dari buku. Siswa yang hadir belumlah seberapa. Masih banyak yang berada di perjalanan. Lagi pula, bel masuk baru akan berbunyi setengah jam lagi. Giska memang tidak biasa berangkat pagi. Berbeda dengan hari ini. Hari yang tidak datang dua kali bahkan ketiga kalinya. Sepasang matanya terus tertuju pada sebuah buku, menyalin setiap kalimat yang ada di buku ke secarik kertas.

“Percaya sama diri sendiri saja deh, Ka,” Fadil menasihati.

“Aku tidak belajar tadi malam, Dil,” ujar Giska tanpa menoleh.

Tangannya terus bekerja. Fadil menggelengkan kepalanya. Tidak bisa lagi memberikan nasihat kepada temannya. Waktu terus berputar, jam dinding menunjukkan angka 7. Bel masuk tak lama lagi berbunyi. Beberapa siswa telah mempersiapkan alat tulis yang akan digunakan dalam ujian. Tak lupa, Fadil mengeluarkan alat tulis yang ia bawa. Pensil dan pennghapus diletakkan di meja. Bersiap menunggu kedatangan pengawas ujian hari ini. Giska masih terlihat sibuk membuat sontekan. Diikuti beberapa teman lainnya yang baru datang. Mungkin mereka belum siap untuk mengikuti ujian.

***

“Silakan simpan semua buku yang berkaitan dengan materi Bahasa Indonesia,” Bu Darti mengingatkan.

Matanya tertuju ke seluruh siswa yang ada di ruang 10. Bu Darti termasuk salah satu guru yang disiplin di sekolah. Giska menghela napas panjang sebelum menyimpan tas miliknya di depan kelas. Hanya alat tulis dan nomor ujian yang ada di meja. Setelah mendapat aba-aba dari Bu Darti untuk berdoa. Seluruh siswa pun berdoa menurut kepercayaan masing-masing.

“Setelah soal ibu bagikan, tidak ada lagi yang bersuara,” Bu Darti membagikan lembar jawaban.

Giska memasang wajah kecewa. Usahanya untuk menyontek tidaklah mudah. Jika ketahuan menyontek oleh Bu Darti, secara otomatis siswa tersebut tidak akan mendapatkan nilai satu persen pun.

“Ada yang belum dapat lembar jawaban?”

“Tidak, bu,” jawab siswa serentak.

Suasana kelas kembali hening. Semua mata fokus pada titik yang sama, lembar jawaban. Dengan teliti, Fadil menghitamkan bagian lingkaran yang perlu dihitamkan. Sesekali, dihembusnya kertas yang sudah didominasi warna hitam tersebut. Giska terlihat sedikit gugup dengan ujian kali pertama untuk semester ini. Ia meregangkan otot tangan yang terasa kaku.

Dialihkan pandangannya ke tempat lain. Di mana semua teman-temannya mengerjakan soal ujian dengan serius. “Gagal menyontek deh,” gerutu Giska.

Berulang kali Giska memperhatikan Bu Darti yang duduk di bangku pengawas. Memandangi seluruh siswa. Setengah jam berlalu dengan cepat. Tak lama lagi, bel istirahat akan segera berbunyi. Fadil hampir selesai menjawab semua soal yang diujikan, sedangkan lembar jawaban Giska belum diisi sama sekali. Hanya di kolom biodata yang sudah dihitamkan dengan baik.

Giska melemparkan kertas yang sudah diremas tepat ke bagian kepala belakang milik Fadil. Membuatnya menoleh ke arah belakang. Ia menaikkan dagunya, bertanya kepada Giska. “Ada apa?”

Bu Darti dengan ketatnya terus menatap tajam ke setiap sudut ruangan. Memandangi seluruh peserta ujian tanpa terlewat seorang pun. “Tidak ada yang melihat sontekan!” bentak Bu Darti.

Semua siswa yang tadinya fokus membaca soal masing-masing, kini memandang ke arah Bu Darti yang marah. Fadil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dibenaknya, terbayang wajah seorang teman yang akan dihukum oleh Bu Darti karena ketahuan melihat sontekan. Fadil menoleh ke sekeliling. Mencari sosok yang tertangkap basah menyontek hasil jawaban teman yang lain. Fadil bernapas dengan lega kembali. Ternyata bukan temannya yang tertangkap basah menyontek saat ujian semester. Giska memasukkan kembali kertas sontekannya ke dalam laci. Diurungkannya untuk melihat sontekan. Tangannya gemetar, barusan ia hanya bisa menjawab lima soal.

“Dil, tolongin aku dong,” bisik Giska.

Fadil hanya menggeleng, tidak mau mengambil risiko. Ia tidak mau jika harus mengikuti ujian ulang. Giska semakin cemas, dilihatnya beberapa teman yang lain sudah bisa bernapas lega. Sepertinya mereka sudah selesai. Sedangkan dirinya tak kunjung mendapatkan sontekan untuk menjawab soal-soal yang sulit. Dua puluh menit terakhir adalah waktu yang sangat singkat baginya. Tanpa pikir panjang, Giska mengambil secarik kertas yang berisi tentang materi ujian.

Lima menit berjalan dengan lancar. Ternyata kertas sontekan yang ia buat tidak sia-sia. Hanya dalam waktu lima menit, ia bisa menjawab separuh dari seluruh soal yang ada. Giska sedikit lega, Bu Darti juga tidak mengetahui bahwa dirinya telah melakukan kecurangan saat ini. Sejenak, Giska menatap punggung Fadil. Membayangkan bagaimana reaksi temannya itu ketika ia harus melihat sontekan. Namun, Giska segera membuang jauh-jauh rasa takutnya. Ia harus mendapat nilai tinggi supaya tidak dimarahi oleh kedua orang tuanya.

Beberapa siswa maju ke depan, membawa lembaran soal dan jawaban. Giska mencari jawaban soal tersulit yang tidak ia temukan kunci jawabannya di sontekan. Bu Darti semakin sibuk menerima dan merapikan lembaran soal serta jawaban yang telah dikumpulkan. Giska berusaha untuk bertanya kepada Fadil. Akan tetapi, Fadil tetap teguh pendirian. Tidak mau memberikan sontekan walaupun yang meminta sontekan adalah teman dekatnya sendiri. Sebab, baginya menyontek adalah perbuatan yang tidak baik. Bisa memberikan dampak malas kepada orang yang meminta contekan.

Karena tidak kunjung mendapat jawaban, Giska mengisi dengan sembarang. Lalu mengumpulkan lembar jawaban dan soal miliknya. Dengan langkah penuh percaya diri, Giska menuju meja guru dengan membawa lembar soal dan jawaban. Dalam hati, ia percaya akan mendapat nilai bagus. Melebihi dari batas ketuntasan minimal yang telah ditetapkan oleh guru dan pihak sekolah.

“Giska ….,” panggil Bu Darti ketika Giska hendak meninggalkan meja guru.

Fadil yang sedang merapikan alat tulis dan tisu yang berserakan di mejanya langsung memandang ke arah sumber suara. Giska yang tadinya hendak melangkah menuju mejanya, kini membalikkan badan, menghadap ke arah Bu Darti. Siswa lain yang juga sibuk membereskan alat tulis mereka segera menghentikan apa yang sedang merekalakukan. Menatap ke meja guru. Menunggu apa yang akan terjadi dengan teman mereka yang satu itu. Giska memang sering mendapat masalah dengan Bu Darti.

“Silakan kamu mengikuti ujian ulang setelah pulang nanti,” Bu Darti melotot ke arah Giska.

Bagaikan suara petir yang terdengar di siang hari yang panas. Giska hanya bisa mematung. Tidak bisa berbuat apa pun. Sekadar mengucapkan kata “Iya” saja, ia tidak sanggup. Sejak kapan Bu Darti melihat dirinya menyontek. Bukankah sedari tadi Bu Darti hanya fokus dengan siswa yang berada di barisan depan.

“Tapi, Bu ….,” suara Giska tercekat.

Tenggorokannya terasa kering. Fadil hanya bisa diam, tidak bisa membela temannya. Ini adalah masalah yang memang tidak perlu dibela oleh Fadil. Meski seorang teman sekali pun, Fadil tidak bisa membela Giska karena kesalahannya melihat sontekan.

“Tidak ada alasan. Bukankah Ibu tadi sudah memperingatkan?” tegas Bu Darti.

Giska hanya menunduk, malu. Jauh di dalam lubuk hatinya timbul rasa menyesal. Seharusnya, jauh-jauh hari ia mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian. Dengan belajar dan membahas materi yang akan diujikan. Namun sayang, nasi sudah menjadi bubur. Penyesalan selalu datang di akhir. Dengan wajah lesu, Giska menuju bangkunya. Memilih melemparkan pantatnya di sana. Memandang nanar ke arah papan tulis. Tak berselang lama, Bu Darti pun pergi, menyisakan kesunyian di dalam kelas.

“Sudahlah, Ka. Tidak ada gunanya menyesal. Mulai sekarang, kamu harus lebih jujur lagi,” Fadil merangkul Giska, memberinya nasihat.

Giska hanya mengangguk. Memang begitulah teman yang baik. Ia akan mengingatkan jika teman yang lain melakukan hal tidak benar. Bukan malah mendukung temannya melakukan kecurangan. Giska sadar, Fadil adalah teman terbaik yang pernah ia temui. Dalam hati, ia berjanji tidak akan pernah melihat sontekan lagi. Ia akan belajar lebih giat untuk mendapatkan nilai bagus. Bukan dengan cara curang dengan melihat sontekan. (***)

Advertisements