Cerpen Irul S Budianto (Banjarmasin Post, 10 Desember 2017)

Kalung dan Ular di Mata Triman ilustrasi Rizali Rahman - Banjarmasin Post Group.jpg
Kalung dan Ular di Mata Triman ilustrasi Rizali Rahman/Banjarmasin Post Group

Sudah beberapa hari ini kepala Triman terasa berat. Memikirkan Peni, istrinya yang tiba-tiba minta dibelikan kalung emas. Untuk memenuhi keinginan Peni jelas bukan perkara mudah. Harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit menurut ukuran Triman.

Sebagai buruh serabutan yang hasilnya tak menentu, hasil yang didapatkan sudah amat disyukuri jika bisa digunakan untuk makan bersama anak dan istrinya dalam setiap harinya. Tapi jika sekarang harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk membelikan kalung emas, mau tidak mau membuat Triman harus berpikir seribu kali.

“Cepat dibelikan ya, Mas.” Permintaan Peni yang terlontar siang tadi kembali terngiang di telinga Triman. Permintaan seperti itu mungkin biasa bagi keluarga yang berkecukupan, tapi tidak dengan Triman. Permintaan itu dirasakan seperti hantaman keras yang mengenai kepalanya.

Terbawa beban pikiran seperti itu membuat mata Triman malam ini sulit dipejamkan. Meski telah dicoba berulang kali tetap saja tak bisa tidur. Triman pun kemudian bangkit dan duduk di pinggir tempat tidur. Sesekali menarik napas panjang sambil menatap Peni yang tengah tidur pulas. Sesaat kemudian ia berdiri dan berjalan pelan keluar kamar.

Di teras rumah, Triman duduk di kursi kayu yang sudah lapuk dimakan usia. Matanya menerabas kegelapan malam. Dengan cara itu siapa tahu beban pikirannya jadi lepas. Tapi tidak, permintaan Peni yang ingin dibelikan kalung emas menghiasi kepalanya.

Tapi di balik kegundahannya itu Triman pun menyadari selama tiga tahun menikah memang belum pernah membelikan sesuatu yang berharga kepada istri yang dicintainya itu. Dalam ingatan Triman ketika Peni dinikahi dulu sebenarnya membawa perhiasan yang cukup. Tapi perhiasan seperti kalung, gelang dan cincin itu akhirnya ludes dijual untuk biaya periksa kandungan sampai melahirkan anaknya.

Di tengah kecamuk pikirannya itu tiba-tlba Triman dikejutkan suara petir yang menggelegar amat keras. Tak lama kemudian disusul hujan yang cukup deras disertai angin kencang. Tak hanya itu, dari dalam rumah juga terdengar suara tangis anaknya yang baru berusia dua tahun.

“Kenapa Tito menangis?” ucap Triman kepada Peni setelah masuk kamar.

“Mungkin kaget mendengar petir itu tadi,” kata Peni sambil membenahi selimut dan meninabobokan anaknya agar tidur kembali.

***

Sebelum matahari terbit. Triman menuju kandang kambing miliknya. Di antara empat ekor kambing yang ada, Triman menuntun seekor kambing yang paling besar dan kemudian dibawa ke pasar yang tak jauh dari rumahnya. Setelah tawar-menawar yang cukup alot dengan calon pembeli, kambing miliknya akhirnya dilepas dengan harga Rp. 2.850.000.

Dengan membawa uang itu, entah mengapa tiba-tiba hati Triman menjadi berbunga-bunga sendiri. Keinginannya untuk membelikan kalung Peni akan segera terwujud. Peni tentu akan sangat bahagia, pikirnya.

“Ini uang dari jualan kambing. Kamu bisa membeli kalung hari ini. Jika masih kurang, kamu bisa cari pinjaman tetangga, tapi jangan banyak-banyak,” ucap Triman sambil menyerahkan uang.

Peni tersenyum. Uang di tangannya dihitung sebentar. “Enggak perlu cari pinjaman. Uang ini sudah cukup untuk beli kalung.” Peni lalu masuk ke kamar untuk berganti baju. Sesaat kemudian Peni sudah keluar lagi dan bergegas ke pasar hendak membeli kalung emas.

***

Sudah satu minggu Peni memakai kalung emas hasil dari jualan kambing. Berbeda dengan sebelumnya, setelah memakai kalung emas itu wajah Peni terlihat berbinar. Seperti merasakan kebahagiaan yang luar biasa.

Tapi tidak demikian dengan Triman. Setelah Peni memakai kalung emas itu Triman seperti merasakan keanehan pada matanya. Tak hanya sekali dua kali, setiap kali memandang kalung emas yang melingkar di leher Peni, kalung emas itu kadang-kadang terlihat seperti ularyang hendak mematuk.

Masalah penglihatannya yang dirasakan cukup aneh, untuk sementara waktu sengaja dipendam di dalam hatinya sendiri. Triman tak menceritakan kepada siapa saja, termasuk kepada Peni. Tapi karena makin lama makin mengganggu pikirannya, akhirnya suatu malam Triman mengutarakan masalah penglihatannya kepada Peni.

“Jujur saja aku merasakan keanehan pada mataku setiap kali melihat kalung yang kaupakai itu,” ucap Triman pelan.

“Ada apa dengan kalung yang kupakai?” Peni agak terkejut dengan perkataan  yang baru saja keluar dari mulut Triman.

“Seringkali aku melihat kalung yang kaupakai itu seperti berubah menjadi ular yang hendak mematuk lehermu.”

“Hah! Apa?! Berarti kamu tak ikhlas membelikan kalung ini?! Tak perlu pakai alasan seperti itu. Kalau memang tak ikhlas, kalung ini dijual saja.” Peni tiba-tiba berkata dengan nada tinggi. Kemarahannya seperti meledak.

“Sabar dulu, jangan salah paham. Aku hanya ingin mengatakan soal penglihatanku. Jangan-jangan mataku memang tidak beres.”

“Tak perlu alasan ini itu!”

“Jangan marah. Maksudku, sore ini kamu akan kuajak ke dokter spesialis mata untuk memeriksakan mataku. Jangan-jangan mataku tidak beres.”

Mendengar perkataan Triman seperti itu, kemarahan Peni pun menjadi reda. Triman yang berada di dekatnya kemudian ditatap lekat-lekat. Sesaat kemudian Triman dan Peni pun pergi ke tempat dokter spesialis mata yang ada di kota.

“Mata Pak Triman normal.” kata dokter setelah melakukan pemeriksaan.

“Tapi, Dok, telah berulang kali mata saya ini jika melihat kalung yang dipakal istri saya kadang berubah wujudnya seperti ular,” sergah Triman yang di dalam hatinya belum percaya dengan hasil pemeriksaan dokter.

Dokter spesialis mata itu tersenyum. “Secara medis, mata Pak Triman memang normal. Tak ada penyakit atau gangguan pada mata Pak Triman.”

Sebenarnya Triman masih ingin berdebat panjang dengan dokter yang telah memeriksa matanya. Tapi karena tiba-tiba anaknya menangis terus dan Peni mengajak pulang, keinginan Triman itu terpaksa diurungkan.

Sesampai di rumah, Triman masih memikirkan perkara penglihatannya yang dirasakan tidak beres. Tapi tak lama kemudian tiba-tiba terdengar jeritan Peni yang cukup keras dari dalam kamar. Triman pun tersentak kaget begitu melihat kalung peni sudah tergeletak di lantai, putus setelah ditarik anaknya. (*)

 

Irul S Budianto, kelahiran Boyolali 22 Juli. Menulis cerpen, puisi serta esai sastra-budaya dan dimuat di sejumlah media. Kini tinggal di Desa Donohudan, Kecamatan Ngemplak, Boyolali, Jawa Tengah.

Advertisements