Oleh Adelfiani (Rakyat Sumbar, 09 Desember 2017)

Hutan Berkabut ilustrasi Google
Hutan Berkabut ilustrasi Google

INI hanyalah tentang sebuah perjalanan spritual seorang gadis kecil bernama Shelza. Shelza gadis manis dengan lesung pipi di wajahnya, hidung mancung dan senyumannya sangat anggun.

“Huft, yey, akhirnya selesai juga gue packingnya,” Shelza menghela napas lega saat kerelnya telah dimuat barang keperluan untuk mendaki gunung Rinjani di Lombok. Bermodalkan alat camping, makanan, P3K dan training selama tiga hari Shelza sudah siap berangkat pukul 07.30 ke Lombok bersama teman sekelasnya yang berjumlah 40 orang. Dibawa oleh mobil Vircanza abu-abu dan tentu saja Pak Anto berkumis—ya, begitu mereka menyebutnya—ikut dalam rombongan itu.

Berhubung Pak Anto berkumis merupakan wali kelas XI MIPA 2, dengan senang hati Pak Anto berkumis mendampingi murid-muridnya mendaki. Katanya sih mau membagi ilmunya, entah apa pun alasannya, yang jelas semua murid mendukung dan bersemangat termasuk Shelza.

Sepanjang perjalanan, mereka bercanda ria ada yang main gitar, karaoke, ngemil, pacaran dan aneh-aneh deh pokoknya. Lain halnya dengan Shelza yang larut dalam pikirannya tentang kegembiraan yang akan dilaluinya saat mendaki nanti.

“Dinda! Jangan ambil cokelat kakak ih, sini balikin gaaak?!” suara Lefya membuyarkan lamunan Shelza. ‘Ih, kebiasaan deh ngigau terus,’ batin Shelza. Ada rasa aneh yang sedari tadi mengganggu pikiran Shelza. Tangan mungilnya terus saja mengelus kalung kesayangannya. Hingga kelopak matanya mulai berat dan tertidur pulas di samping Lefya.

“Woy Shel, napa lo?” Lefya mengguncang-guncang lengan Shelza.

“Ngggh, paan?” Shelza bangun dan melihat wajah Lefya yang berubah cemas.

“Lo kenapa, kok nangis ketakutan kek gitu? Gue takut nih!” Lefya menyondorkan botol minuman yang disondorkan Lefya dan meminumnya rakus hingga habis.

“Gue mimpi buruk, Lef,” suara Shelza berubah menjadi lirih.

“Ya udah lo atur napas dulu, trus ceritain ke gue,” Lefya beringsut mendekati Shelza.

“Jadi gini, gue rasanya kayak di hutan berkabut tebel banget. Tiba-tiba gue ngeliat bayangan, pas gue kejar, tiba-tiba gue di…” wajah Shelza berubah menjadi pucat.

“Anak-anak bangun semuanya, ayo beres-beres lima belas menit lagi kita sampai,” suara Pak Anto berkumis menggelegar ditambah toa putih yang dipegangnya. Karena suara toa pak Anto berkumis semua orang jadi sibuk sendiri, sehingga Shelza menghentikan ceritanya dan sibuk membereskan barang-barang miliknya.

“Ayo semuanya turun, kita sudah sampai, langsung baris menurut absen masing-masing. Kita langsung berangkat,” Pak Anto berkumis masih setia dengan toa putihnya.

“Maaf Pak, kita kan baru sampe Pak. Apa nggak bisa istitahat dulu, teman-teman masih lelaaah Pak,” tiba-tiba si ketua kelas Hasan, menyampaikan usulan teman-temannya.

“Tidak perlu, kita langsung berangkat. Manti malam saja istirahatnya. Cepatlah, kita langsung berangkat!” Entah apa pula yang di pikirkan Pak Anto berkumis. Dengan toa putih yang memekakkan telinga, Pak Anto berkumis terus saja meracau, sekali-kali membawa bahasa ibunya itu sepanjang perjalanan.

Dengan semangat yang mulai luntur, Shelza terus saja berjalan mengikuti intruksi Pak Anto berkumis. Sampailah mereka di sebuah danau, entah apa nama danau itu yang jelas danaunya sangat indah dan banyak para pendaki yang dominan orang bule.

“Huuft, akhirnya sampe juga capeeeeek!” begitulah celotehan anak-anak XI MIPA 2.

“Sekarang kita dirikan tendanya!” teriak Pak Anto berkumis dan mendirikan tendanya serta beberapa guru yang juga berpatisipasi dalam liburan mereka.

“Shel, gimana niiih?” Lefya menaruh tenda mereka di atas tanah.

“Apanya yang gimana?” Shelza mulai mengacak-acak tenda yang akan mereka dirikan sekarang.

“Gue kebelet, di sini ada toilet gak ya? Shel udah gak tahan lagi nih,” Lefya terus aja jingkrat-jingkrat kayak cacing kepanasan.

“Lapor aja tuh ke tenda guru cewek, nah tuh ada Bu Ayu. Cepet gih sana!” Lefya langsung lari terbirit-birit menemui Bu Ayu.

“Aduh, susah banget niiiiiih!!!” Shelza berteriak frustasi karena tendanya belum juga berdiri sedangkan orang sudah banyak yang selesai. Tiba-tiba ada suara deheman dari belakang.

“Eh,” ternyata itu Raka.

“Mau dibantuin gak?” Raka menawarkan dirinya.

“Eh, iya, tadi temen gue pergi. Jadi gue ngak bisa kerjain sendiri,” Shelza menjawab malu.

“Makanya gue di sini buat bantuin lo,” jawab Raka.

“Huuuuuf, akhirnya selesai juga,” seru Selza senang.

“Ya udah gue cabut dulu ya,” Raka berdiri dan membersihkan debu di tangannya.

“Makasih ya, lo udah bantuin gue. Kalau ngak ada lo mungkin sampe besok ngak berdiri nih tenda,” Shelza tertawa kecil dibalas dengan senyum dan anggukan dari Raka.

“Eh udah berdiri tendanya? Keren lo, Shel,” Lefya nyengir dengan watadosnya yang minta digampar keknya tuh.

“Kemana lu, kok baru datang? Dari tadi gue capek tau, lo mah tau enaknya doang. Ish, sebel gue,” Shelza ngomel sendiri lalu langsung tidur. Karena hari udah malam makanya mereka langsung tidur, sambil menghilangkan rasa lelah selama di perjalanan.

***

“Lef, bangun dong, Lef!!” Shelza menepuk pipi Lefya pelan.

“Aduh, nggak mau bangun lagi, terpaksa deh gue harus cek sendiri keluar,” Shelza mengambil senter di dalam tasnya lalu membuka resleting tenda dan keluar. Entah kenapa dia sangat penasaran dengan bayangan yang sedari tadi berdiri di depan tendanya. Dalam kabut gunung yang tebal serta dingin membuat siapa saja menggigil kedinginan. Shelza merapatkan jaket barkanya yang berwarna merah maroon dan mempererat syal cokelat bermotif kotak pemberian kakaknya. Semakin lama Shelza semakin jauh memasuki hutan dan kabut semakin tebal dengan jarak pandang hanya lima meter saja. Tiba-tiba, ada yang menarik ujung jaketnya dari bawah.

Shelza berteriak ketakutan dan berlari terbirit-birit. Sebelum tercebur ke dalam sungai ada sebuah tangan besar yang memegang pergelangan kakinya. Hingga dia tersandung dan tiba-tiba semuanya gelap.

***

Perlahan Shelza membuka kelopak matanya, dilihatnya dia berada dalam sebuah tempat yang sangat menyeramkan dan tengkorak berserakan di lantai tanah yang berbau. Shelza meronta ketika dua orang berjubah hitam menyeretnya menuju sumber cahaya di lorong kanan. Saat sampainya di sana terdapat aliran sungai deras di bawahnya, dengan kasar dia dilemparkan ke dalam sungai yang deras. Kini rasa takutnya berlipat, saat tubuhnya seperti digulung dan diempaskan oleh aliran air. Kepalanya sangat pusing dan sampailah di sebuah perkampungan yang asri. Setiap orang berlalu lalang melihatnya dengan tatapan tak suka dan mereka terlihat bergerak tanpa tenaga entah bagaimana pula dijelaskan.

“Hei, siapa kau?” suara dari arah samping itu yang sepertinya tidak senang dengan kehadiran Shelza.

“Maaf namaku Shelza, aku di mana?” seketika saja pakaian Shelza menjadi kering.

“Kami tidak menerima tamu di sini, jadi pergilah!!” suara perempuan remaja itu sekarang meninggi.

“Aku juga tidak tahu mengapa aku sampai di sini, kenapa sudah siang? Beberapa waktu lalu masih malam,” Shelza memelankan suaranya pada dua kalimat terakhir.

“Bodoh!! Dunia kita berbeda makhluk tanah! Ikut aku!” remaja itu menyeringai sinis.

“Kemana?” Shelza heran bercampur cemas.

“Ke tempat tetuah agung!” nadanya naik beberapa oktaf, hal ini membuat Shelza bergidik ngeri.

Tanpa bertanya lagi Shelza mengikuti remaja tempramen itu ke sebuah rumah putih yang sangat besar. Banyak lorong aneh di sini, sampailah mereka di depan pintu bulat yang besar mungkin seperti batu yang dipahat atau apalah itu.

“Kau tunggulah di sini dan jangan melakukan apa pun,” tanpa menunggu jawaban Shelza, remaja itu masuk ke dalam sebuah pintu yang kali ini berwarna cokelat.

“Oh, cucu Adam masuklah!” ada seorang kakek tua yang menunjuk ke arah Shelza, dan remaja tadi langsung keluar. Jika dilihat sekilas hanya kakek ini saja yang sepertinya hidup, yang lain seperti mayat hidup saja.

“Keluarkan kalungmu anak kecil.” Oh, ternyata kakek itu menyukai kalung Shelza. Dengan ragu-ragu Shelza mengeluarkan kalung di balik shal cokelatnya. Dan entah mengapa kakek tua itu mengetahuinya.

“Kenapa kau bisa sampai di sini?” kali ini suara kakaek mulai ramah.

“Aku juga tidak tahu, Kek,” jawab Shelza.

“Nak, ini bukan duniamu. Kau tidak seharusnya tau tentang kami,” kakek itu berubah menjadi serius.

“Maksud kakek? Emangnya kenapa kek?” kata-kata kakek tua membangkitkan kebiasaan kepo Shelza.

“Dunia kita berbeda, Nak, dan seharusnya kau tidak pernah bisa melihat kami,” kakek tua memberikan kalung Shelza dengan cairan seperti tiner.

“Sepertinya orang-orang di sini tidak menyukai kehadiranku,” Shelza mulai berani bercerita dengan kakek tua.

“Ya, karena kau berbeda dan kalungmu ini memancing mereka. Pergilah kau tidak pernah diinginkan di sini,” kakek tua memberikan kembali kalung Shelza.

“Tapi kakek siapa? Kakek juga berbeda dari yang lain?” Shelza mengambil kembali kalung miliknya.

“Kau tidak perlu tahu, ini bukan duniamu,” selepas perkataan kakek tua, ruangan itu tiba-tiba bergetar.

“Waktu sudah habis, sebelum kau terjebak di sini. Masuklah ke dalam pintu hitam itu,” kakek tua menjadi pucat dan berubah panik.

“B..b..baik kek, makasih,” jawab Shelza sambil bergegas memasuki pintu hitam.

“Dan jangan pernah membuka sekat seperti…,” kakek tua berteriak tak jelas sedangkan sayup sayup terdengar seperti ada suara orang yang memanggil Shelza.

“Shel, bangun Shel…” Shelza mendengar suara isakan di sampingnya. Sedangkan dia sedang berlari kencang mengejar cahaya putih yang mulai mendekat. Sayup-sayup terdengar orang yang berseru panik, oh, itu suara para guru dan teman-temannya. Semakin lama cahaya yang dikejar Shelza semakin besar dan perlahan dilihatnya langit biru bersih, teman-teman, para guru dan pemandu. Terdengar seruan lega, dan rasanya ia digendong entah siapa sekarang sampailah dia di tenda guru. Setelah sadar kembali dia mengingat apa saja yang terjadi, untuk hal ini dia akan menyimpannya sendiri. Dan dia masih penasaran tentang obrolannya dengan si kakek tua. Diambilnya kalung dari sakunya, dan terdapat benda cokelat persegi yang tak sengaja masuk ke saku jaketnya.

“Woyyy Shel, lo sudah sadar?” dan Lefya membuyarkan lamunannya.

“Iya nih, eh kalian nemin gue di mana?” Shelza belum berbicara dari tadi, hanya mengangguk dan menggeleng kalau ditanya.

“Lo itu terdampar di pohon rindang di bibir sungai. Abis ini lo utang penjelasan sama gue,” Lefya melotot dibuat-buat.

“Iya, iya, perjalanan kita kan belum selesai. Puncak aja masih jauh noh,” Shelza menolak secara halus permintaan teman satu tendanya itu.

“Iya juga ya. Perjalanan ditunda sampe jam 9.00 buat mulihin tenaga lo!” Lefya memberitahu Shelza dan pergi keluar tenda karena guru akan masuk.

“Shelza gimana, udah baikan?” tanya Pak Anto berkumis.

“Udah Pak,” Shelza menarik garis tipis di bibirnya.

“Kamu kenapa pergi sendirian malam-malam itu kan sangat berbahaya. Ibu harap ini yang pertama dan terakhirnya terjadi!” Bu Ayu seperti biasanya, sangat cerewet.

“Ya Buk, maaf saya tidak akan mengulanginya kembali,” Shelza memberikan tatapan yang meyakinkan.

“Ya sudah, keamanan harus diperketat setiap malamnya,” sergah Bu Ayu.

“Kalau gitu kamu beresin barang-barang kamu, kita bentar lagi melanjutkan perjalanan,” Shelza bangkit dan bergeges menuju tendanya.

“Shel, lo ngak apa-apa kan?” tiba tiba saja Raka memeluknya erat.

“Iya, gue baik-baik aja,” bingung dan Shelza hanya diam di tempat.

“Gue cemas banget, gue takut nggak ketemu lagi sama lo,” Raka melepas pelukannya.

“Alah, alay banget lo,” sebenarnya wajah Shelza berubah blushing.

Begitu juga dengan teman-teman Shelza yang turut senang Shelza sudah ditemukan setelah melakukan pencarian sejak dini hari.

Saat akan berangkat benda persegi itu seperti meniup tangan Shelza, dan terlintas bayangan sinis di balik kabut hutan yang tipis. (*)

 

Adelfiani, SMAN 1 Padang Panjang.

Advertisements