Cerpen Dewi Musdalifah (Radar Surabaya, 10 Desember 2017)

Gerimis Tipis dari Sudut Mata Burung-burung Kecil ilustrasi Fajar - Radar Surabaya.jpg
Gerimis Tipis dari Sudut Mata Burung-burung Kecil ilustrasi Fajar/Radar Surabaya

Aku tinggal di sebuah gua bukit kapur, di tepian kota. Kuputuskan berdiam di sini dan menjadikan gua ini tempat perlindungan, karena dinding-dindingnya tak bisa ditembus kata-kata berdenging. Terasa lebih tenang, dan sunyi menghapus kenangan.

Lenteraku, cacing-cacing yang menempel di atap gua. Kulitnya mengeluarkan lampu bagaikan ribuan bintang menerangi malam. Di sekeliling gua, tanaman kemangi dan lavender semerbak baunya. Gemericik air mengalir dari akar pohon besar yang menjuntai dari perbukitan di atasnya.

Setiap hari, aku bertamsil pujangga, menciptakan pengakuan-pengakuan dalam lirik, dan khusuk menghikmati hidup dalam kesunyian. Aku nembang dan menuliskan larik-lariknya pada dinding gua. Tak ada siang, tak ada malam. Di sini, aku sering menyambut teman-temanku, binatang yang datang berkunjung. Biasanya dari golongan melata dan serangga. Mereka tak pernah merepotkanku, karena mereka membawa perbekalan makanannya sendiri. Merekalah yang paling setia menonton konser macapatku.

Aku juga sering dikunjungi burung-burung gereja yang mengintip, lalu selalu menanyakan kabar, “Bagaimana manusia gua?” menjawabnya, “Baik, bagaimana kabar dunia di luar sana?”

Burung burung kecil itu tidak menjawab, tetapi dari sudut matanya mengeluarkan gerimis tipis yang makin menderas.

“Kenapa selalu seperti itu jawabanmu? Kau menangisi dunia?” Aku benar-benar terputus dari dunia di luar tempat yang sekarang kuhuni.

Terakhir yang aku tahu, keadaan di luar sana, manusia menjadi semakin dingin, berambisi membangun dinding beku, menciptakan robot-robot.

Setelah mencucurkan air matanya, biasanya burung-burung itu pergi begitu saja. Membiarkan aku dengan pikiranku sendiri mengikuti arah kembaranya.

***

Dong …dong …dong….

Seluruh dinding gua itu bergetar, seakan mau runtuh. Serpihan-serpihan atapnya seperti hujan turun menerpa tubuhku. Terlihat bayangan orang-orang di atas. Apa yang mereka lakukan?

“Hai, sedang apa kalian di atas sana?”

Sepertinya mereka tidak mendengar. Aku mencari batu tertinggi di dalam gua, menaikinya dan berteriak sekuat tenaga, “Kalian mau apa?” Suaranya tentu saja menggema. Selang tak lama, suara gedoran pada atap gua berhenti. Kesempatan bagiku untuk bersuara lebih kencang, “Siapa kalian? Mengapa membuat keributan di tempatku!!!”

Satu, dua, tiga orang menerobos masuk lewat lubang gua di atas air mengalir. Mereka berpakaian serba logam yang tipis. Hanya mata dan bibirnya yang masih terlihat dagingnya.

Aku memulai pembicaraan, “Untuk apa kalian datang kemari?”

Berhati-hati aku mengajak mereka bicara, “Aku penghuni gua ini, siapa kalian?”

Ketiga orang asing itu saling memandang. Saat mereka menggerak-gerakkan mulutnya, yang keluar adalah suara dengungan.

Aku tak kuat mendengarnya, “Tolong hentikan! Aku tak mengerti bahasa kalian. Suara kalian membuat telingaku sakit!”

Mereka merangsek mendekat. Dengan cepat mereka memberangus kedua tanganku. Aku panik. Aku berusaha memberontak. Pikirku, mereka pasti berniat melenyapkanku. Tangan mereka ‘menempel di tangan dan tengkukku. Dingin. Aku mencium aroma besi. Apakah mereka robot? Tubuh yang ringkih dimakan usia membuatku menyerah. Tubuhku lunglai.

Setelah aku pasrah, sekarang mereka lebih ramah padaku. Lalu membimbingku keluar gua. Di luar gua ada beberapa orang berdiri. Tampaknya sudah cukup lama mereka menanti. Beberapa di antara mereka tak memakai baju besi. Pakaian yang mereka kenakan sama denganku. Meski terlihat belum menyatu dengan fisiknya, salah satu dari mereka menghampiriku, mengulurkan tangannya padaku, dan berkata, “Saya Bima, dari padepokan Titi Laras. Selamat datang kemhali, Mbah Karso. Kami mencarimu ke mana- mana. Kami membutuhkan macapat yang Mbah punya. Tolong…ajari kami.” Matanya sayu, wajahnya seputih kapas, seperti tidak dialiri darah.

“Untuk apa aku mengajari kalian? Bukankah kalian tidak membutuhkannya?” Aku tidak percaya dengan kata-katanya.

“Kami ingin belajar tentang jiwa, cinta, dan rasa, berbicara dengan alam dan binatang. Kami sangat kesepian sebagai manusia,” suara mereka memelas.

“Bukankah kalian selama ini menganggap tembang-tembangku tidak berguna? Bahkan kalian menganggap virus berbahaya dan harus dimusnahkan?” Aku menjawab dengan ketus, masih terasa sakit hati. “Jangan berpikir aku tidak tahu yang kalian lakukan, membuat arak-arakan di depan rumah dan menyerangku dengan kata-kata asing yang sangat bising, untuk mengusirku.” Peristiwa itu membentang begitu saja di depan mata. “Maaf, aku tidak bisa mengikuti kalian,” aku menegaskan kembali keputusanku.

Mereka menundukkan kepala. “Tolonglah kami, Mbah. Tanpa belajar dari Mbah, kami hanya seonggok daging mati, tak punya jiwa. Kami tak bisa juga memahami apa pun di luar diri kami. Bahkan tak memahami siapa diri kami sendiri.” Bima berbicara panjang lebar. “Banyak dari kami yang bunuh diri, sakit pikiran. Tolonglah Mbah, sebelum kami semua musnah oleh keadaan ini.”

Matanya berkaca-kaca. Putus asa. Berbarengan mereka mengelilingiku dan menjatuhkan tubuh, lalu menangis di hadapanku. Lantas mereka berbicara serentak, “Ikutlah kami, Mbah. Ajari kami…”

Bergolak hatiku menyaksikan pemandangan ini. “Tapi, aku tidak tahan dengan suara dari mesin-mesin yang memproduksi kata-kata asing itu.”

Teringat masa lalu yang membuatku bersembunyi di dalam gua….

Pagi seperti biasa, aku nembang kidung di dalam rumah. Larik-larik kinanti, dandang gulo, pangkur, durmo mengalir dari bibir rentaku. Tembang lelakon dan tuladha setia mengajari tutur yang luhur, meski terasing dan menyayat hati. Tak ada pelantun macapat cinta, selain aku— pewaris kata masa lalu. Jangankan membaca, mendengarkankan saja mereka sudah antipati, dianggap berbau gaib, tidak rasional, cuma melulu soal rasa, cinta, alam dan makhluk Tuhan selain manusia.

 

sampune muji Hyang Widhi,

amuji nabi Mochamad

kelawan kulawargane

sekabat sekawan ika

kang dhihin Abubakar

Umar lan Usman punika

kaping pat Ali Murtada

 

Mendadak telingaku terasa penuh suara berdengung, mendenging, dan berdesing. Aku bergegas menuju pintu, berusaha menemukan asal suara. Betapa di luar aku melihat ada arak- arakan, pawai sekelompok orang berbaris dengan rapi.

Semuanya menunduk, dengan mata tertuju pada sebentuk benda persegi yang dipegang kedua tangan masing-masing dari mereka. Jumlahnya ratusan. Dari benda itulah sumber kegaduan berasal; kata-kata asing yang berputar-putar, seperti bersayap. Tetapi, kenapa mereka tidak terganggu sama sekali?            Mereka seperti tak mendengarkannya. Semakin aku mendekat, semakin bising kata-kata keluar dari benda itu memenuhi kepalaku ke mana pun aku berada. Seperti ada kawanan kata bercericit mematuki tanpa ampun. Kata-kata asing itu memiliki satelit pelacak, sinyal-sinyal. Satu per satu jaringan syaraf di kepalaku lumpuh, merembet ke dalam hati. Aku takut hatiku mati. Aku menyingkir….

Tapi itu luka yang telah berlalu dalam suatu masa. Yang kuhadapi sekarang adalah masa kini, sekelompok orang bertampang aneh, berperawakan nyeleneh dan isakan tangis yang masih kuhafal betul itu datang dari sesosok manusia.

“Kami mengerti, makanya kami membuat pakaian pelindung ini buat Mbah Karso.”

Mereka memberiku seperangkat baju besi tipis dan pelindung kepala. Mereka mengenakannya ke tubuhku.

“Baiklah, demi kemanusiaan aku mau mengajari kalian.”

Tanpa kuduga mereka semua memelukku. “Terima kasih, Mbah.”

Seseorang yang bertubuh paling gempal kemudian menggendongku di atas punggungnya. Bersama mereka aku menuruni bukit kapur menuju kota yang mirip rimba beton itu. Hawa dingin menusuk-nusuk wajahku yang tak tertutup besi. Sedingin atmosfir hatiku di ambang keraguan antara harapan bertahan atau kematian.

Ah…. Aku masih meyakini kesedihan, penderitaan, dan tangisan tidaklah mengenal masa silam, kini, dan yang akan datang. Ia bisa ada begitu saja, di mana saja dan kapan saja. Kulihat di atas sana burung-burung kecil dari sudut matanya masih juga mengeluarkan gerimis tipis. Seperti biasanya, burung-burung itu pergi begitu saja. (*)

 

Penulis adalah guru dan pegiat literasi di Gresik.

Advertisements