Cerpen Wendoko (Suara Merdeka, 10 Desember 2017)

Empat Kisah pada Satu Hari Minggu ilustrasi Suara Merdeka.jpg
Empat Kisah pada Satu Hari Minggu ilustrasi Suara Merdeka

Kisah Satu

Hari itu cerah. Lewat jam satu siang. Langit biru dan awan putih. Pohon-pohon berjajar, dalam warna hijau yang lembut. Rumput di tepi jalan bergoyang mengikuti angin. Kompleks perumahan itu cenderung lengang. Pertama, karena kompleks itu tergolong baru. Masih banyak tanah yang ditumbuhi ilalang. Kedua, sebagian besar penghuni kompleks adalah orang-orang golongan menengah. Jadi pada Minggu siang tidak banyak yang berdiam di rumah.

Dua ABG perempuan di atas motor melintasi salah satu jalan di kompleks perumahan itu. Di kiri jalan tanah kosong yang dipenuhi rumput. Beberapa petak tanah ditanami singkong dan jambu. Di sebelah kanan, sedikit rumput lalu sungai buatan yang membatasi dengan kompleks perumahan lain. Jalan itu lebar dan beraspal mulus.

ABG pertama, yang memegang kemudi, bertubuh tinggi-kurus. Ia bercelana jins yang sudah tak keruan warnanya dan kaus merah. ABG kedua, yang duduk di boncengan, bertubuh gemuk-pendek. Ia mengenakan kaus dan rok yang melewati lutut. Keduanya bukan penghuni kompleks perumahan itu, tapi penduduk yang bermukim di belakang kompleks. Dulu mungkin kakek atau orang tua mereka adalah pemilik tanah yang sekarang berubah menjadi perumahan golongan menengah.

ABG pertama baru satu minggu ini punya motor. Karena itu ia datang ke kompleks perumahan yang cenderung lengang itu, untuk belajar mengemudi. ABG kedua tidak punya motor, tapi sangat ingin naik motor. Karena itu ia mengekor temannya yang masih belajar mengemudi itu.

Siang itu cerah. Langit biru dan awan putih. Pohon-pohon berjajar, dalam warna hijau yang lembut. Rumput di tepi jalan bergoyang mengikuti angin. Mungkin karena terbawa suasana itu, ABG pertama menarik gas kencang-kencang. Motor melesat dengan kecepatan 60 km/jam. Keduanya tertawa senang.

Jalan itu lebar dan beraspal mulus. Tapi ada sedikit kelokan, yang setengah terhalang ilalang. Setelah itu jembatan dan pintu gerbang salah satu blok perumahan. Di depan pintu gerbang ada gundukan aspal, yang disebut polisi tidur. ABG pertama kaget. Ia menginjak rem. Mungkin karena gugup atau belum pintar mengemudi, ia malah menginjak persneling dan menarik gas. Motor itu menerjang gundukan aspal. Kedua ABG menjerit. Motor itu melayang. Kedua ABG juga melayang. ABG pertama mendarat di konblok dengan pinggul lebih dulu, lalu bahu. ABG kedua mendarat dengan lutut lebih dulu. Keduanya menggeletak diam, sementara motor yang baru berumur satu minggu menggesek konblok beberapa meter lebih jauh.

Di samping pintu gerbang ada pos jaga. Seorang satpam paruh baya, yang terkantuk-kantuk, tersentak kaget. Ia mendengar jeritan. Ia tidak melihat motor itu melayang. Ia tidak melihat kedua ABG melayang. Tapi ia melihat waktu mereka jatuh dan menggeletak di konblok.

Satpam paruh baya keluar dari pos jaga. Tak perlu waktu lama untuk paham. Motor nahas itu pasti menerjang gundukan aspal, yang disebut polisi tidur. Kedua ABG perempuan itu pasti sedang belajar mengemudi. Lalu ia teringat beberapa bulan lalu, ketika ditubruk oleh dua ABG perempuan yang belajar mengemudikan motor. Ia jatuh dan lengannya patah. Lengannya digips, dan selama dua minggu ia mengaduh-aduh kesakitan. Setelah dua minggu, ia masuk kerja dengan lengan masih digips dan dicangklong ke leher.

Satpam paruh baya masuk kembali ke pos jaga. Ia pura-pura tidak tahu kejadian itu. Sementara kedua ABG, karena tak ada yang menolong, pelan-pelan bangun, beringsut mendekat, lalu saling memeluk dan menangis.

Kisah Dua

Siang itu cerah. Langit biru dan awan putih. Di sisi kota yang lain, tidak ada pohon-pohon berjajar dalam warna hijau yang lembut. Tidak ada rumput bergoyang mengikuti angin. Hanya jalan yang tak begitu lebar di area perkantoran. Jalan itu agak lengang. Ada lampu lalu lintas, lalu dua mobil dan tiga motor berhenti di lampu lalu lintas itu.

Begitu lampu berubah dari merah ke hijau, ketiga motor langsung tancap gas. Satu dari ketiga motor itu mungkin motor keluaran awal 1990-an. Bentuknya agak aneh. Berwarna merah pudar, jok robek-robek, dan hanya tinggal satu kaca spion. Pengemudinya laki-laki berumur 30-an. Agak gemuk. Berjaket dan bercelana jins dan bersandal jepit. Ia mengenakan helm yang lebih tepat disebut topi proyek.

Motor itu melaju sekitar 50 meter. Lalu si pengemudi mendengar suara keras di belakang. Seperti ada yang pecah atau copot, lalu suara berderak-derak, dan motor itu melaju tersendat-sendat. Seketika si pengemudi berpikir, jangan-jangan rantai motornya putus. Tiga minggu lalu, waktu motor itu masuk bengkel, ia diingatkan untuk mengganti rantai dan gir. Kondisinya sudah tak layak pakai, kata mekanik bengkel. Harganya cukup mahal dan ia berpikir, untuk apa mengganti. Bukankah lebih baik motor butut dan tak terurus itu dijual?

Motor itu masih melaju tersendat-sendat. Si pengemudi menginjak rem. Lalu motor itu oleng ke kiri. Motor dan pengemudi terempas ke aspal yang tidak mulus. Si pengemudi jatuh dengan keras, tapi tidak sekeras seperti pada Kisah Satu. Ia berguling-guling. Helmnya copot. Sandal jepitnya copot. Ia menaruh kedua lengan di depan wajah, seperti petinju. Mungkin maksudnya melindungi kepala. Dan ia berguling sampai beberapa meter.

Si pengemudi menengok ke belakang.Tidak ada apa-apa di belakangnya. Berarti ia tidak ditubruk oleh mobil atau motor lain. Kedua sikunya luka, karena lengan jaket sengaja ditarik sampai melewati siku. Kepalanya pusing, mungkin terantuk-antuk aspal. Dengkul dan kakinya sakit. Tapi yang lebih sakit adalah harga dirinya.

Lalu si pengemudi memilih menggeletak di aspal. Sampai beberapa orang berlari mendekat. Dua orang menuntun motornya ke tepi. Tiga orang mengangkat tubuhnya ke trotoar.

Kisah Tiga

Siang itu cerah. Langit biru dan awan putih. Pohon-pohon berjajar, dalam jarak yang longgar. Berdaun jarang dan dalam warna hijau yang kusam. Tak ada rumput bergoyang mengikuti angin. Hanya sejumput-sejumput yang muncul dari celah kanstin atau trotoar. Jalan di area pertokoan itu tidak lebar, tapi cukup untuk dua mobil. Pada Minggu siang itu, arus di jalan itu macet total.

Seorang pengemudi motor mengumpat-ngumpat. Ia merasa terjebak. Kota berengsek ini dari hari ke hari makin parah, katanya. Dulu hanya arus di sedikit jalan yang macet pada hari Minggu. Sekarang hanya sedikit jalan yang arusnya tidak macet pada hari Minggu. Padahal ia memakai jaket hitam, sarung tangan hitam, celana panjang hitam, sepatu hitam. Lalu helm hitam yang menutup seluruh kepala. Umurnya tidak bisa diketahui, karena ia memakai helm yang menutup seluruh kepala.

Tapi si pengemudi motor masih bersyukur. Jalan itu memang hanya cukup untuk dua mobil. Tapi ada celah 60 sampai 80 sentimeter di antara mobil-mobil atau mobil dengan trotoar. Jadi ia bisa berkelok-kelok melewati celah itu, mengekor beberapa motor di depannya.

Ia berkelok-kelok sampai beberapa puluh meter. Lalu di satu celah yang agak sempit, ia menarik gas. Menurut perhitungannya, ia bisa masuk dengan menyisakan sekian sentimeter dari sedan di depannya. Tapi perhitungannya meleset. Atau, mungkin karena tubuhnya bergoyang waktu menarik gas. Kemudi motor menyenggol keras pintu belakang sedan. Ia terempas ke kiri. Cukup keras, tapi tak sekeras seperti pada Kisah Satu dan Kisah Dua. Pinggang si pengemudi motor menghantam kanstin trotoar.

Celaka, pikirnya, setelah melihat logo di bumper sedan. BMW seri terbaru, dengan plat nomor putih! Si pengemudi motor berpikir cepat. Ia lalu berkelojot-kelojot di trotoar sambil memegangi pinggang.

Beberapa orang berlari mendekat. BMW seri terbaru itu masih melaju sekitar tiga meter, sebelum seseorang menggebuk bagasinya.

Seorang laki-laki paruh baya keluar dari pintu kemudi. Tubuhnya besar-tegap, rambutnya cepak, dan ia berpakaian safari.

“Hei, elu! Ngapain elu mukul-mukul mobil gue?”

“Tanggung jawab dong, Pak!”

“Tanggung jawab apaan? Elu bisa lihat kagak? Itu motor yang nyenggol mobil gue! Lihat tuh, pintu belakang sampai lecet. Hei, bangsat! Bangun elu! Kagak usah pura-pura. Gue tahu elu kagak apa-apa!”

Kisah Empat

Sebelum itu, pukul sembilan pagi. Langit biru dan awan putih. Pohon-pohon berjajar, dalam warna hijau yang lembut. Rumput di tepi jalan bergoyang mengikuti angin. Di kompleks perumahan yang sama seperti pada Kisah Satu, orang-orang tumpah ke jalan utama. Sebagian orang bersepeda. Banyak yang lari-lari pagi. Sebagian lagi duduk-duduk di pembatas jalan, yang ditumbuhi rumput dan pepohonan.

Sebagai kompleks perumahan yang tergolong baru, banyak tanah kosong terlihat ditumbuhi ilalang. Penghuninya tidak banyak, meski seluruh unit rumah yang dibangun sudah terjual. Pihak pengembang juga sudah melengkapi dengan prasarana dan sarana. Ada jalan utama dua arah yang lebar, dengan pembatas jalan berupa taman. Ada deretan ruko, lalu trotoar lengkap dengan pepohonan.

Mungkin karena kondisi itu, penduduk sekitar memanfaatkannya sebagai tempat rekreasi. Tiap hari Minggu, banyak orang tumpah-ruah ke jalan utama. Pihak pengelola akhirnya membiarkan. Mungkin mereka berpikir lebih baik begitu daripada kompleks perumahan itu terlihat lengang. Mereka bahkan meminjamkan tanah kosong pada penduduk yang mau membuka warung atau menjual keperluan taman. Mungkin pihak pengelola berpikir lebih baik begitu daripada mengeluarkan uang untuk merawat tanah kosong. Asalkan dengan perjanjian tertulis: tak boleh mendirikan bangunan permanen dan siap dikembalikan kapan saja jika diminta.

Pagi itu laki-laki berumur 30-an dari Kisah Dua, dengan motor bututnya, keluar dari salah satu gang. Laki-laki dari Kisah Tiga, yang berpakaian serbahitam, melaju dengan motor di jalan utama.

Pagi itu seorang ibu berbadan gemuk, umur akhir 40-an, berjalan dengan anak perempuannya di tepi pembatas jalan. Mereka memakai kaus dan celana pendek berwarna mencolok. Mereka baru saja lari-lari pagi. Sekarang mereka mau mampir ke pedagang bubur yang hanya berjualan setiap hari Minggu.

Dari arah belakang si ibu gemuk dan anak perempuannya, dua motor melaju agak kencang. Dua pasang ABG, laki-laki dan perempuan, bercanda di atas dua motor itu. Tak ada yang memakai helm. Mereka tertawa-tawa. Lalu motor pertama tak sengaja menyenggol motor kedua. Lalu motor kedua oleng ke kanan, ke arah si ibu gemuk dan anak perempuannya. ABG laki-laki di belakang kemudi berteriak kaget. Ia menginjak rem. Terlambat! Ia menarik kemudi ke kiri, tapi tetap menyenggol si ibu gemuk. Si ibu gemuk berputar seperti gasing, dan jatuh dengan pantat lebih dulu. Cukup keras, tapi tak sekeras seperti pada Kisah Tiga. Motor kedua masih melaju beberapa meter sebelum terguling di aspal. Dua ABG itu, laki-laki dan perempuan, terpental. Cukup keras, lebih keras daripada Kisah Ketiga. Tapi tak sekeras Kisah Satu dan Kisah Dua.

Si ibu gemuk merasa pantatnya sangat sakit. Kepalanya mendadak pusing. Tapi begitu melihat motor dan dua ABG yang terpental, ia berpikir, pasti ia disenggol dari belakang. Ia lalu rebah di jalan aspal.

Dua ABG itu, laki-laki dan perempuan, bergegas berdiri. Lalu berlari ke arah si ibu gemuk. Sementara anak perempuan si ibu gemuk berlutut. Ia mulai menjerit dan meraung.

Sungguh, pemandangan yang dramatis! (44)

 

Wendoko menulis puisi dan cerita. Ia telah menerbitkan beberapa buku puisi, antara lain Jazz! (2012) dan Catatan si Pemabuk (2014). Novelnya Cerita tentang Tuan Kecil dan (Sedikit) tentang Tuan Besar (2017).

 

Advertisements