Cerpen Yudhi Herwibowo (Media Indonesia, 10 Desember 2017)

Dua Telapak Tangan Umirra ilustrasi Pata Areadi - Media Indonesia.jpg
Dua Telapak Tangan Umirra ilustrasi Pata Areadi/ Media Indonesia

KENAPA kau, Umirra? Kurasakan kesedihanmu sepertinya semakin dalam. Kerak air matamu dapat kulihat dengan jelas membelah pipimu.

Ini benar-benar membuatku hancur. Kupikir waktu akan menyembuhkan semua. Bukankah kau sudah menyadarinya sejak usiamu 6 tahun? Hingga sekarang, di usiamu 17 tahun, seharusnya kau tahu kalau ini semua memang sudah digariskan padamu.

Umirra kesayanganku, aku tentu bisa memahamimu kesedihanmu. Sejak kau bayi, aku tahu ada sesuatu yang berbeda denganmu. Dua telapak tangan mungilmu, entah kenapa menghantarkan hawa panas yang tak semestinya. Dan Amirra—mamamu—yang pertama kali merasakan keanehan itu. Aku ingat bisikannya padaku saat itu, “Tangannya seperti ingin membakar apapun yang disentuhnya.”

Kami kemudian membawamu ke dokter. Tapi sampai beberapa dokter memeriksamu, tak ada satu pun yang bisa menyembuhkanmu. Mereka hanya berkata setengah menyerah, “ni sekadar gejala temporer, akan hilang dengan sendirinya.”

Tapi hawa panas itu tak pernah hilang. Malah terasa semakin panas saja. Kami sendiri awalnya tak mengatakan apa-apa padamu. Kami merasa kau belum cukup umur untuk mengetahuinya. Tapi saat usiamu 6 tahun, aku melihat kau mulai merasa heran saat kupu-kupu yang ada di tanganmu, hancur sayapnya dan jatuh begitu saja menggelepar-gelepar di tanah.

Kau memandangku tak mengerti. “Papa kenapa kupu-kupu ini mati?”

Aku hanya bisa menjawab dengan jawaban yang kucari-cari. “Mungkin, ia memang sedang sakit, Sayang.” Aku tahu, sejak itu, kau mulai menyadari ada sesuatu yang aneh di kedua tanganmu.

Aku bisa menebak kalau hidupmu akan berbeda dari gadis-gadis kecil lainnya. Kau nyaris tak memiliki barang-barang kesayangan. Boneka-boneka yang kubelikan selalu hancur perlahan-lahan, juga mainan-mainan lainnya.

Advertisements