Cerpen Usep Romli HM (Tribun Jabar, 10 Desember 2017)

Di Seine Meratapi Citarum ilustrasi Yudixtag - Tribun Jabar.jpg
Di Seine Meratapi Citarum ilustrasi Yudixtag/Tribun Jabar

KABUT subuh menyambut di bandara intemasional De Gaulle. Romhongan turis asal Bandung itu tiba juga di Paris, setelah sejam transit di Dubai, tujuh jam yang lalu.

Dan ingatanku langsung melambung ke Bandung. Ke “Paris van Java”, yang berjarak ribuan kilometer nun di belahan bumi timur.

Pernah sekian tahun lalu, seorang kawan menulis di koran, tentang “Bandung Paris van Java”. Tulis dia, gelar “Paris van Java” bagi Bandung hanya tingkah iseng sepasang Sinyoh dan Nonih Belanda yang sedang mengumbar asmara. Sedang duduk-duduk berduaan memadu kasih, di tengah alam Bandung hijau rimbun, udara sejuk segar, tiba-tiba berucap:

“Dit is als Parisj!” (Ini mirip Paris)

“Ja, als Parisj…!” (Ya, mirip Paris)

“We noemen het Parisj van Java!” (Kita beri nama saja Paris dari Jawa)

“Ja, Paris van Java!” (Ya, Paris dari Jawa)

Kedua pasangan itu saling tatap mesra. Beradu senyum. Lalu bergumul penuh gairah. Seperti burung-burung di alas pepohonan sepanjang bantaran Sungai Cikapundung, yang membelah kota Bandung.

“Persis Seine!” Sinyoh menunjuk ke aliran Cikapundung, setelah bibirnya lepas dari bibir Nonih.

“Seine yang membelah kota Paris. Rive Droite, sebelah kanan, dan Rive Gauche, sebelah kiri,” jawab Nonih sambil menjilat- jilatkan lidah ke bibirnya. Membuat Sinyoh kembali mengulumnya lama.

Kata kawanku dalam tulisannya yang agak sinis itu:

“Percakapan Sinyoh dan Nonih itu tcrus merebak. Menjadi ujaran khalayak. Padahal hanya cocok untuk tahun 1920-an. Sekarang Bandung tidak layak lagi menyandang gelar Paris van Java. Sebab sudah penuh sampah, tata kota kacau balau, trotoar padat pedagang. Banguman-bangunan bernilai sejarah banyak yang diruntuhkan, diubah menjadi tempat komersial. Beda dengan Paris yang tetap memelihara keasrian lingkungan, memelihara bangunan-bangunan artistik peninggalan dulu kala. Sungai-sungainya terawat, sehat dan bermanfaat. Tidak menjadi pembuangan aneka macam kotoran, seperti Cikapundung dan Citarum, yang kini merupakan septic tank terpanjang di dunia.”

Setelah beres urusan di imigrasi, dan pengambilan bagasi, di luar dijemput pemandu wisata. Jumlah rombongan dihitung. Genap empat puluh orang. Cocok dengan catatan pemaandu wisata. Lalu dipersilakan naik bus wisata yang telah tersedia. Pukul 06.30 waktu Paris.

Pemandu wisata mengucapkan selamat datang dengan bahasa Prancis dan Inggris, serta bahasa Indonesia terpatah-patah. Ia menerangkan sepintas tentang Kota Paris. Menyebutkan beberapa nama tempat yang nanti akan dikunjugi.

“Sekarang kita akan sarapan dulu!” kata pemandu wisata.

Semua anggota rombongan bergembira. Maklum, terakhir mengisi perut, di pesawat, sekitar dua jam lalu. Sempat memejamkan mata lagi, walaupun hanya terlayap-layap.

Sepanjang perjalanan menuju restoran, pemandu wisata menerangkan aneka macam makanan yang akan dihidangkan nanti.

Ada soupe a l’oignon, sup bawang merah. Escargots bourguin-nne, panggang daging keong pakai bumbu. Post-au-fieu, rebus-rebusan daging sapi, daging ayam, telur. Dilengkapi macam-macam roti. Ada croissant roti lapis, ada brioches, petit pains roti kering kecil-kecil. Ada bifftek et pommes frites, daging dan kentang goreng. Minumnya cafe au lait, kopi panas. Minuman penutup glace, es krim.”

“Nasi tak diabsen,” yang duduk di kursi belakang menginterupsi.

Anggota rombongan tertawa. Pemandu wisata juga ikut tertawa. Entah mengerti entah tidak istilah nasi.

“Belum juga makan, perut sudah kenyang,” kata seorang di depan, agak keras.

Seisi bus kembali tertawa serempak.

Hampir dua jam di restoran. Semua sibuk memakan apa saja yang mengundang rasa penasaran. Terutama aneka jenis keju yang terbuat dari susu domba. Rupa-rupa warna, rupa-rupa rasa, rupa-rupa nama. Ada requifort, brie, camembert, port-salut, colommiers, dan lain-lain.

“Di Bandung, kita kan makan gehu dan bala-bala terus. Nah, di sini, keju terus,” kata seorang kawan. Tak ada sambutan tawa. Mimgkin karena semua sedang sibuk memilih-milih keju dan makanan padanannya.

Dari restoran, berangkat lagi menuju tempat-tempat wisata yang sudah diagendakan.

“Kita akan berkunjung ke tempat-tempat termasyhur di Kota Paris, hingga pukul 13.00. Nanti kita istirahat dulu di hotel. Pukul 16.00 kita akan berlayar di Sungai Seine,” pemandu wsiata menerangkan lagi.

Yang pertama kali dikunjungi, yaitu Ile de la Cite, tempat berdirinya Katedral Notre Dame. Bangunan buatan abad ke-12. Dinding-dindingnya yang kokoh dan besar penuh ukiran seni Gotik yang halus. Dari puncak menara, asyik mengumbar pandang ke hamparan Kota Paris. Sesekali menatap lukisan yang tertatah di sekeliling dinding katedral. Lukisan timbul yang disebut gargoyles. Gambar rupa-rupa monster aneh-aneh dan menyeramkan. Kepala bertanduk. Mulut berpelatuk. Sering membuat bulu kuduk merinding. Tapi kata pemandu wisata, gambar-gambar itu amat disukai para pengunjung Paris.

“Nanti di bawah, di kios-kios cendera mata, kita bisa membeli kartupos yang dihiasi gambar-gambar monster itu. Laku keras karena dianggap ciri dan simbol Kota Paris.”

Dari katedral, lewat sisi Sungai Seine. Betul sekali, amat bersih. Tak ada sehelai sampah pun. Airnya teramat bening. Hati berdesir. Sedih. Teringat Citarum yang sudah membangkai. Teringat Cikapundung yang airnya hitam legam.

“Betapa indahnya jika Citarum dan Cikapundung seperti ini….” seorang kawan yang berjalan berdampingan setengah berbisik. Ternyata sama seperasaan. Hanya saja, bagaimana mengelolanya walaupun kedua sungai itu ada di “Parisj van Java”.

Yang dituju Museum Louvre. Salah satu museum seni terbesar di dunia. Tempat menyimpan karya-karya adiluhung, baik lukisan maupun patung, yang harganya tak terukur oleh jumlah nominal. Di antaranya karya-karya dari zaman Yunani Kuno, seperti Venus de Milo, Winged Victory, dan lain-lain. Juga, lukisan Monalisa kaya Leonardo da Vinci, yang hidup pada abad ke-3.

Karya-karya lukisan generasi baru, baik aliran impresionis maupun pos-impresionis, disimpan di Museum Je de Paume, tak jauh dari Louvre. Di antaranya karya-karya Edoard Manet, Claude Monet, Paul Cezzane, dan Paul Gauguin. Warna-warni lukisannya meriah, segar. Menarik perhatian setiap orang yang memandangnya. Bahkan yang tak mengerti soal seni lukis sekalipun.

Mengenai banyaknya museum di Paris, yang dikunjungi ribuan orang setiap hari, pemandu wisata menjelaskan penuh rasa bangga:

“Di negara beradab berbudaya, tentu akan lebih banyak gedung museum daripada gedung penjara. Pengunjungnya juga lebih banyak daripada pengunjung penjara.”

“Ah, kau menyindirku. Kurang ajar,” hati menggerutu. Tapi memang betul. Ingat ke negeri sendiri. Jarang sekali bangunan museum. Kalah banyak oleh gedung penjara. Malah penghuninya amat padat. Melampaui kapasitas. Seharusnya berisi seribu narapidana, ini diisi dua ribu. Dijejal bagai ikan pindang. Jikapun ada museum, jumlah pengunjungnya kalah oleh jumlah orang yang besuk ke penjara.

Pas pukul 13.00, rombongan diantar ke hotel. Ada waktu istirahat kira-kira tiga jam. Dan sebelum merebahkan diri di tempat, melaksanakan dulu salat Zuhur jama qasar dengan salat Asar. Pukul 16, seusai mandi, dan ganti pakaian, turun ke lobi hotel. Pemandu wisata sudah siap menunggu rombongan kumpul.

“Kita sekarang ke Sungai Seine,” pemandu wisata melangkah ke luar hotel setelah menghitung anggota rombongan.

Berjalan sepanjang pinggir dermaga sungai yang ditembok. Cukup luas. Enak dan aman buat pejalan kaki. Pemandu wisata menerangkan, Sungai Seine amat terpelihara sejak hulu hingga muara. Pelan-pelan ia mendendangkan lagu rakyat Prancis kuno, yang menggambarkan Sungai Seine sebagai “kekasih yang saling mengasihi dengan Paris”.

Selama berjalan di dermaga, menuju pangkalan bateau mouche, perahu untuk berlayar, tak terlihat ada lubang-lubang pipa menjulur ke sungai, seperti banyak terlihat di Cikapundung dan sungai-sungai lain di seluruh Tanah Air.

“Di Paris, di Prancis, serta negara-negara Eropa lain, orang yang membuang sampah atau kotoran lain ke sungai akan dikucilkan oleh tetangga dan warga sekitar. Dan diajukan ke pengadilan. Mendapat hukuman setimpal. Di penjara dan didenda ribuan euro,” jawab pemandu wisata ketika ditanya soal tak ada lubang pipa pembuangan di pinggir sungai. “Setiap rumah di piggir sungai, bagian depan rumahnya harus menghadap ke sungai. Tiap rumah wajib memiliki sarana pembuangan kotoran. Nanti pada hari tertentu diangkut oleh petugas kebersihan kota. Dibawa ke tempat pengolahan limbah.”

Sepanjang belayar di atas bateau mouche, menyusuri Seine, sangat asyik menikmati panorama sungai dan sekitarnya. Tapi mata sibak basah, dan pikiran melayang ke Citarum, ke Cikapundung, keindahannya dirusak kelakuan orang-orang, serta tak ada hukum yang melindunginya.

“Parisj van Java hanya tinggal nama….” ingat lagi pada tulisannya yang dulu dianggap sinis. Namun setelah membandingkan sendiri, langsung di lokasi, hati menyetujui.

Dan di Seine, meratapi Citarum yang sudah lama busuk membangkai. ***

 

2017

Usep Romli H.M. adalah sastrawan Sunda yang lahir di Limbangan. Garut. 16 April 1949. Usep menulis, terutama dalam bahasa Sunda, sejak masih duduk di SPG. Sajak dan cerita pendeknya dimuat di sejumlah media. Ia pernah menerima berbagai penghargaan, termasuk Hadiah Sastra LBSS dan Hadiah Sastra Rancage.

Advertisements