Cerpen Ken Hanggara (Rakyat Sumbar, 09 Desember 2017)

Bus Gaib ilustrasi Google.png
Bus Gaib ilustrasi Google

SAYA tidak tahu apakah bus itu milik setan atau malaikat atau kaum bidadari. Yang pasti, saat duduk di bangkunya, saya tidak merasa ada yang aneh. Di kanan kiri, juga depan belakang, para penumpang diam. Mungkin seperti saya, mereka lelah.

Sudah dua tahun ini saya berangkat dan pulang kerja naik bus. Karena lelah, tak memperhatikan plat nomor bus (saya hampir tidak pernah melakukannya; lagi pula, pentingkah?). Saya naik begitu saja dan mencari bangku kosong, karena berpikir harus segera sampai super market depan gang rumah. Lily, anak saya, besok ulang tahun. Dan dia minta boneka Barbie plus sekantung cokelat.

Satu-satunya suara di bus—yang biasa saya tumpangi—adalah datang dari kenek. Ia berdiri di pintu depan atau belakang, melambai ke para pejalan kaki, meneriakkan arah tujuan bus. Kadang suara kenek beradu nyanyian pengamen. Di bus, saya jarang dengar pengamen bersuara merdu. Biasanya cempreng, bahkan cenderung tidak paham nada, yang dua menit kemudian menyodorkan bungkus permen setengah memaksa demi beberapa receh.

Tapi di bus ini tidak ada kenek atau pengamen.

Saya tidak curiga, malah senang. Ada bus begini, ya? Coba setiap pulang kerja, busnya begini, tidak berisik dan gaduh, wah, bakal awet muda. Cukuplah beban pikiran tinggal di kantor, tidak terbawa sampai ke rumah, karena di rumah tugas saya sebagai Ayah adalah menyenangkan anak dan istri.

Kira-kira lima menit saya duduk di bangku itu dan bus belum juga berangkat. Tidak ada tanda-tanda pengemis masuk. Saya kira, mungkin, pemerintah daerah mulai memberlakukan peraturan baru, yakni pengamen dan pengemis dilarang masuk bus. Barangkali bus ini bersertifikat dan secara resmi membuatnya jadi eksklusif. Saya tidak tahu apa benar begitu, karena saya sendiri hampir tidak pernah baca-baca koran, apalagi nonton televisi.

Maka, saya bersiul sambil mengamati jalan raya yang disirami lampu-lampu jalan. Sore begini jam pulang kerja, orang kalau tidak berebut bus, mesti berdiri. Tapi saya lihat penumpang bus ini tidak sampai berjejalan. Bangku-bangku terisi semua dan tidak ada yang berdiri. Pria tua bercelana cargo naik. Setelah menyelipkan sebotol air mineral di kantung celananya, ia duduk di kursi kemudi. Mesin menyala dan bus pun berangkat.

Saya tidak tahu apakah bus itu milik setan atau malaikat atau kaum bidadari. Yang pasti, saat duduk di bangkunya, saya tidak merasa ada yang aneh. Saya juga tidak heran melihat wajah kurus kenek—yang entah sejak kapan berada dalam bus ini. Setahu saya tadi tidak ada kenek. Mungkin, pikir saya ketika itu, dia naik ketika saya sedang asyik melihat suasana jalan.

Kenek itu melangkah dari belakang, menarik ongkos ke para penumpang. Tiba di bangku saya, telunjuknya mencolek. Saya beri lima ribu rupiah. Lalu dia bilang, “Uang pas, Pak.” Apa tarifnya turun, tanya saya. Dia diam dan mencari-cari kembalian di sakunya. “Buat kamu saja,” kata saya pendek.

Dia bisu beberapa detik dan memandangi saya dengan wajah pucat, lalu menarik ongkos ke penumpang di depan saya.

Saya kira ini sore yang hebat, bukan aneh. Tidak merasa ada yang berubah, kecuali hal-hal yang sifatnya material pada bus, yang mungkin dapat berevolusi kurang dari 24 jam bagi seorang minim informasi. Televisi di rumah lebih banyak diisi acara kartun kesukaan Lily dan kakaknya, Bella. Istri saya sendiri muak dengan acara gosip dan berita korupsi yang itu-itu saja. Kami juga bukan kutu buku sejak lama, maka koran bukan kebutuhan. Membaca jadi urusan kesekian. Karena itulah, saya Cuma menduga-duga, mungkin, bus yang saya tumpangi sore ini diubah sedemikian rupa oleh pemerintah daerah, hingga kenyamanan penumpang pun benar-benar maksimal.

Saya baru sadar, setelah kira-kira bus berjalan beberapa menit, bahwa kursi yang saya duduki empuk. Bus ini sejuk, tidak seperti biasa yang gerah. Oh, rupanya dipasang AC. Tak terbilang betapa girang. Sebagai pecinta lingkungan, saya tidak suka motor atau mobil pribadi. Polusi udara bikin kesehatan anak-anak terancam, pikir saya. Karena bus berkualitas ini, saya bayangkan ke depan, semua pemilik kendaraan pribadi sesekali menjajal public transport. Tidak kalah nyaman dengan naik kendaraan sendiri.

Setelah tahu kursi bus empuk—dari yang sebelum ini keras dan diterai kata-kata cabul, nomor hand phone antah berantah, sampai puisi-puisi murahan—saya bersandar menikmati setengah jam perjalanan. Penumpang lain sama; mereka bahkan mendengkur, dan ada yang sekadar bersandar dan melamun.

Saya tersenyum dan memejamkan mata. Wajah saya dibelai udara sejuk AC yang menenangkan. Pelan-pelan, sepotong demi sepotong kesadaran saya copot. Pelan-pelan, saya terperosok ke lubang mimpi.

***

“Silakan, pilih sedotan. Bebas!”

Seorang lelaki, berbaju serba hitam, menyodorkan gelas berisi ratusan sedotan. Saya terbengong-bengong. Perasaan tadi ada di bus hebat, kok mendadak di sini?

Saya ingat permainan masa kecil. Di SD, dulu ada penjual mainan. Orang itu kakek berkepala gundul. Menggelar dagangan berupa balon dan beberapa mainan. Sesekali membawa mainan mahal berupa bus mini dengan jalan raya model bongkar pasang dan berbagai rambu lalu lintas yang bisa kita rangkai sesuka hati.

“Kamu nggak usah beli kalau mau yang ini,” kata kakek itu dulu, semasa saya SD. “Tinggal bayar lima ratus, boleh pilih sedotan.”

Peraturannya, kalau saya dapat sedotan dengan tulisan ‘selamat’, bus mini itu jadi milik saya, tanpa membayar uang lima puluh ribu—harga aslinya.

Sayangnya saya tidak pernah berhasil. Kalau dihitung-hitung, hampir seratus kali saya ambil sedotan dalam gelas si penjual mainan. Itu saya lakukan dengan memecah celengan ayam punya kakak, karena setiap sedotan dihargai lima ratus rupiah. Saya kecewa dan sedih. Sudah tidak dapat mainan, dihukum juga oleh Ibu, karena mencuri celengan yang bukan punya saya.

Ibu menasihati, “Ingat, Nak, segala tujuan tidak akan tercapai kalau caranya salah.”

Saya tahu saya nyuri tabungan kakak, tapi saya belum mengerti. Barulah ketika dewasa, saya tahu maksud Ibu. Saya resapi nasihat itu dan saya terapkan di kehidupan. Saya menjadi manusia paling lurus. Dan saya yakin, sayalah manusia paling hebat yang ibu saya lahirkan.

Sekarang, saya melihat di kiri kanan ada manusia lain. Saya kaget, karena pernah bertemu satu-dua orang. Oh, saya sadar. Rupanya mereka penumpang bus itu. Kami berbaris. Di depan saya, orang-orang memegang sedotan dan menunduk kecewa. Di belakang, penumpang lain tidak sabar menunggu saya mengambil sedotan. Agaknya kami mendapat tugas mengambil sedotan dari lelaki berbaju serba hitam. Untuk apa, saya tidak tahu.

Wajah lelaki di depan saya buram, tertutup kerudung yang biasa dipakai penyihir di film horor Eropa. Saya patuh dan mengambil satu sedotan. Di sana tertulis kata ‘selamat’. Karena memenangkan undian, saya disuruh belok ke kanan, tidak berjalan lurus seperti orang lain yang sebelumnya ada di antrean depan saya. Entah mereka dibawa ke mana, saya tak tahu. Saya sendiri juga tidak tahu digiring ke mana.

***

Saya tidak tahu apakah bus itu milik setan atau malaikat atau kaum bidadari. Yang pasti, saat duduk di bangkunya, saya tidak merasa ada yang aneh. Tetapi, sebangun dari mimpi, barulah saya merasa aneh.

Di mimpi itu saya dibawa ke super market dan boleh mengambil ratusan bungkus cokelat sebagai imbalan karena berhasil mengambil sedotan yang tepat. Saya tidak ingat Lily. Saya kira itu hadiah yang pantas untuk saya. Saya makan cokelat sampai kenyang. Lalu perut saya menggelembung besar. Ketika itulah, saya ingat anak dan istri di rumah. Saya ingin pulang, tetapi orang-orang meninggalkan saya dalam keadaan lemas karena kebesaran perut.

Saat bangun, perut saya kembali kurus. Saya panik. Ini bukan bus biasa. Ini bus setan, pikir saya. Saya menoleh kiri-kanan, depan-belakang. Semua bisu dan diam. Di sini, jalanan terang dan matahari sudah terbit. Apa saya tidur terlalu lama?

Wajah-wajah penumpang yang disirami cahaya pagi tampak pucat. Saya tidak tahu bus apa ini. Saya ingin turun, tetapi penumpang di sisi saya—ibu-ibu paruh baya—tidak mau memberi jalan.

Saya bilang, “Permisi, Bu.”

Dia diam.

“Bu, saya turun!”

Masih diam.

Akhirnya ibu-ibu itu saya dorong sampai terjerembab. Kenek di depan melotot dan mengutuk saya. Para penumpang, masih dalam posisi duduk, memandang benci ke arah saya tanpa satu pun yang menolong ibu-ibu tadi. Wajah mereka mirip vampire sehingga saya terkencing-kencing.

“Kalau mau turun, Anda harus lompat!” kata sang kenek.

Si sopir, yang tua dan membawa botol air mineral di kantung celana cargo-nya itu, tertawa keras. Saya tidak berani lompat, karena bus ini semakin kencang lajunya, seperti sengaja biar saya tidak turun. Saya hampiri si kenek, saya cengkeram bajunya. Saya bilang, dia dan sopir itu bisa dipenjara kalau begini. Dia tersenyum sinis dan menantang, “Emang bisa?”

“Saya orang kaya!”

“Tidak peduli kaya atau miskin, atau anggota DPR sekalipun. Semua kalau sudah numpang bus ini, tidak kembali.”

“Bus apa ini?! Saya mau pulang! Dan ini bukan jalan pulang!”

“Omong kosong. Anda sudah pulang! Hahahaha!” (*)

 

KEN HANGGARA. Menulis puisi, cerpen, novel, dan esai. Karyanya terbit di berbagai media cetak.

Advertisements