Cerpen Risda Nur Widia (Bali Post, 03 Desember 2017)

Traveling ke Kota Perang ilustrasi Citra Sasmito - Bali Post
Traveling ke Kota Perang ilustrasi Citra Sasmito/Bali Post

Berada di puncak kejayaan bagi Tarno benar-benar membosankan. Tarno merasa tidak ada lagi hal yang menarik untuk dilakukan. Segala yang ia inginkan—sekarang—akan segara terkabulkan. Tidak harus menunggu lama. Hanya beberapa jenak saja. Tarno sudah mendapatkannya. Namun meraih segala tanpa adanya proses sama seperti melakukan mastrubasi. Tak ada arti. Selain rasa keterasingan dan kesepian yang mendalam. Kini hal itu terjadi pada kehidupan Tarno; pada tarikan napas, geliat rutinitasnya, serta segala yang dilakukannya.

Semuanya kini telah dimiliki Tarno: mobil yang jumlahnya puluhan dan keluaran paling baru, uang di setiap bank dengan nominal enol yang sulit untuk dieja, kapal pesir, wanita, dan segala perlengkapan lainnya. Semua telah berada dalam satu genggaman tangannya. Bahkan terkadang apabila bosan dengan harta yang melimpah dan kecukupan, Tarno diam-diam mengambil uangnya di bank beberapa koper; membawanya ke dekat perapian; membakarnya sebagai bahan nyala api. Terkadang juga Tarno dengan sengaja menabrakkan mobilnya sendiri dengan mobilnya yang lain; sampai mobil-mobil itu peyot dan bopeng. Namun semua itu akan kembali lagi. Segala kekayaannya seperti tak pernah habis. Malah bertambah banyak. Karena hal inilah, Tarno merasa bosan.

Padahal dahulu—ketika masih kecil—ia harus mendapatkan segala sesuatu dengan susah payah. Tarno masih ingat betul ketika masih umur sepuluh dan harus bertengkar dengan kakaknya karena sepotong telur rebus. Ketika itu ayah Tarno—yang seorang petani kecil di desa—pulang membawa sekotak kecil makanan dari berkah desa. Di dalam kotak itu terdapat sepotong telur. Tarno dan kakaknya harus bertengkar untuk menentukan siapa yang layak mendapatkan bagian lebih.

“Seharusnya orang lebih tua yang mendapatkan bagian banyak,” kata kakaknya.

Bantah Tarno. “Tidak bisa! Seharusnya orang kecillah yang mendapatkan bagian lebih!”

Sejak peristiwa itu akhirnya Tarno berjanji dalam hidupnya untuk tidak selamanya merana. Tarno bertekad ingin hidup lebih baik dari ayah, ibu, serta kakaknya. Tarno ingin mendapatkan segalanya yang lebih dari mencukupi. Hal itu mulai terwujud ketika Tarno terus mendapatkan peringkat pertama di sekolah; dari sekolah dasar hingga menengah atas. Prestasi Tarno sangat mengagumkan. Sampai kemudian Haji Ramli—ketika Tarno lulus—menawarinya untuk kuliah. Haji Ramli menjanjikan kepada Tarno segala biaya kuliah akan didukungnya penuh.

Begitulah. Tarno hanya butuh waktu tiga tahun setengah dalam menyelesaikan kuliah dengan otak encernya di jurusan pertambangan. Lalu setelah lulus, ia bekerja di perusahan minyak besar di Amerika. Lantas melanjutkan studi S2 dan S3-nya di luar negeri. Karir Tarno terus menanjak. Tarno mendapatkan apa yang diingkannya: makanan enak, mobil, uang, wanita, dan masih banyak lainnya. Tarno merasa hidupnya begitu menyenangkan. Di umur ke-50, Tarno kembali lagi ke Indoensia dan dicalonkan sebagai wakil rakyat. Karena dianggap terpandang dan penting, Tarno memenangkan pemilihan umum. Tarno pun menjadi pejabat baru dan mendapatkan segalanya.

Harta yang dimiliki Tarno semakin banyak. Kini saat umurnya menginjak ke-65, harta yang dimilikinya tak susut dari berbagai usahnya. Namun Tarno mulai merasakan ada kejenuhan dalam dirinya. Tarno merasa bosan dengan apa yang dimilikinya hari ini. Tiba-tiba, Tarno teringat masa kecilnya yang serba kekurangan. Walau ketika itu sangat kekurangan, Tarno dapat hidup dengan bahagia. Tarno menikmati ketika dirinya berbagi dengan kakaknya atau dengan ayah-ibunya yang acap mengalah. Tarno merrindukan segala peristiwa itu. Bahkan kalau bisa mengulang masa-masa sederhana itu, Tarno rela membelinya dengan segala harta yang dimilikinya kini. Sayangnya semua itu tak mungkin terjadi.

Tarno termenung menatap halamannya yang luas. Hati Tarno semakin kacau. Tarno tak tahu harus berbuat apa. Lalu ketika ia melirik ke arah koran pagi di meja, Tarno melihat sebuah iklan yang tercetak dengan huruf kapital: “LIBURAN MENCEGAH BUNUH DIRI”. Tarno mengamati secara seksama iklan tersebut. Pada iklan itu tertera sebuah liburan yang berbeda daripada biasanya. Namun Tarno ragu dengan iklan tersebut. Karena bagi Tarno tak ada tempat yang benar-benar belum didatanginya. Semua liburan dan tempat paling mewah serta mahal, pernah dikunjunginya. Tarno berpikir: Apa yang membuat iklan liburan ini berbeda? Karena tidak memiliki kesibukan selain meratapi kebosananya, Tarno menelepon nomer layanan iklan tersebut.

“Selamat pagi!” Sahut seorang wanita lembut. “Kami melayani liburan yang berbeda!”

“Liburan macam apa?” Timpal Tarno tanpa basa-basi.

“Kami memiliki perjalanan ke daerah-daerah perang dan konflik!”

Tarno tergeregap mendengar itu. Belum pernah dirinya mendengar liburan yang begitu sinting semacam itu. Namun karena memiliki banyak waktu luang dan harta yang melimpah, Tarno mengambilnya juga.

***

Seperti yang sudah dijanjikan, pesawat Tarno datang ke sebuah kota perang. Saat pesawat itu terbang, sempat ia melihat pesawat-pesawat jet melemparkan rudal-rudal ke tengah kota. Lantas dari atas pesawat, Tarno melihat kepul asap hitam pekat yang menyaput kota dari tembakan serta api yang menghajar bangun. Tarno melihat itu semua dengan tubuh bergidik. Ia tidak bisa membayangkan apabila nanti saat berlibur dirinya kena salah satu rudal dari pesawat-pesawat jet yang ditembakan ke arah kota. Hal yang sama sebenarnya terjadi pada rombongan pelancong yang kebanyakan orang kaya tersebut. Mereka terlihat pucat dan ketakutan. Namun cepat pemandu wisata menenangkan.

“Tidak perlu ada yang ditakutkan,” kata seorang wanita dengan wajah santai. “Rudal-rudal itu tidak akan mengenai atau menembak kita. Karena kita tidak terlibat dengan huru-hara mereka. Kita hanya seorang pelancong saja.”

Pesawat itu mendarat dengan aman sampai di bandara. Sebuah bis mengilap warna putih sudah menunggu Tarno dan para pelancong lainnya di lobi hotel. Mereka dipandu untuk naik ke atas bis tersebut. Dan bis itu melaju dari bandara yang cukup rapi, menuju kota yang terlihat sangat berantakan. Mula-mula, Tarno melihat gedung-gedung yang menjulang rongsok; ringsek karena ledakan bom yang dilemparkan ke arahnya. Tarno juga melihat mobil-mobil berserak peyot; penuh lubang peluru; gosong akibat terbakar. Di tepi jalan Tarno melihat anak-anak kurus berlari-lari mengejar bis wisata yang digunakannya. Para pelancong itu seperti sedang melakukan perjalan ke kebun binatang, dan melihat nasib penduduk kota yang terkerangkeng kesedihan seperti hewan-hewan melata.

Tarno hanya duduk termangu memandang semua panorama mengerikan itu. Namun para pelancong lainnya tidak peduli dengan semua diorama tersebut. Para pelancong memotret dan tertawatawa melihat kejadian itu. Ditambah lagi ketika seorang pemadu menyeret mereka ke barak pengungsian kumuh.

“Di tenda-tenda itu terdapat anak-anak, ibu-ibu, atau para pria yang menjadi korban perang,” kata pemandu. “Anda bisa melihatnya sendiri.”

Tarno pun melihat dengan jelas pemandangan mengerikan tersebut. Di hadapannya tampil orang-orang dengan wajah murung yang lelah. Darah yang meleleh dari tubuh yang dikoyak peluruh. Ratap tangisan setelah ditinggal mati keluarga. Lalu anak-anak yang menatap putus asa ke arahnya. Semua pemandangan itu seakan berbanding terbalik dengan segala kesenangannya yang didapatkan dari harta-kekayannya yang melimpah. Kesedihan dan kehilangan itu seakan tidak bisa ditebus oleh uang Tarno yang melimpah. Bahkan ketika Tarno melihat keluarga yang sedang makan bersama dengan nasi tanpa lauk, Tarno teringat keluarganya dahulu.

***

Bis terus melaju. Setelah melewati padang pengungsian, Tarno beserta rombongan lainnya memasuki gurun luas dan gersang. Di tengah gurun itu tidak ada pemandangan selain tanah tandus. Sempat para pelancong itu bingung mengapa bis memasuki daerah itu. Pemandu wanita berwajah baik itu cepat menjelaskan kepada para pelancong mengenai tempat kunjungan itu.

“Kalian bisa menengok ke arah kanan bis ini!” Kata pemandu cantik itu. “Di sana terlihat orangorang yang berjajar rapi!”

Tarno melihat orang-orang yang dibariskan rapi. Jumlahnya ada 20 orang. Tangan serta mata mereka diikat dengan kain. Dan ada 5 orang menodongkan senjata ke arah orang-orang yang wajah dan tangannya diikat tersebut.

“Hari ini orang-orang itu akan dieksekusi!” Kata si pemandu. “Kita beruntung karena bisa melihat eksekusi ini! Mereka adalah para pemberontak.”

Tarno melihat dengan jelas ketika orang-orang itu dibunuh dengan keji dan brutal. Mereka ditembaki dengan membabi-buta; tidak memberikan kesempatan apapun. Bahkan untuk menanyakan kesalahannya, tak bisa. Tarno bergidik dan mual. Tarno merasa apa yang dimilikinya selama ini sama sekali tak berarti setelah melihat segala kemalangan itu. Harta yang dimiliki Tarno tidak lebih hanya sampah; bisa kapan saja raib dan lenyap entah ke mana.

***

Usai melihat segala kekacaun dari paket liburannya itu, hati Tarno semakin hampa. Ia merasa kalau segala yang dimilikinya—harta melimpah itu—sama sekali tidak berguna di tengah keributan peluru dan bom. Ingin bertindak melakukan suatu hal, rasanya Tarno tak mampu. Ia tidak bisa mengubah apapun dengan uangnya. Pun sepualang tamsya, ia hanya memberikan sebagaian jumlah kekayaannya pada pengungsi dan relawan. Itu juga dengan cara sembunyi-sembuyi. Begitulah. Pesawat membawa kembali Tarno ke negaranya. Dan nyaris sepanjang waktu ketika pesawat melintasi kota itu, ia melihat kekacauan masih terus terjadi.

 

Risda Nur Widia. Belajar di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa. Pernah juara dua sayembara menulis sastra mahasiswa se-Indoensia UGM (2013), Nominator Sastra Profetik Kuntowijoyo UHAMKA (2013). Penerima Anugerah Taruna Sastra dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa; Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (2015). Nominator tiga besar buku sastra terbaik Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Yogyakarta 2016. Buku kumpulan cerpen tunggalnya: Bunga-Bunga Kesunyian (2015) dan Tokoh Anda Yang Ingin Mati Bahagia Seperti Mersault (2016). Cerpennya telah tersiar di berbagai media.

Advertisements