Cernak M Z Billal (Padang Ekspres, 03 Desember 2017)

Tegar dari Kebun Limau ilustrasi Orta - Padang Ekspres.jpg
Tegar dari Kebun Limau ilustrasi Orta/Padang Ekspres

Kebun Limau adalah nama desa kecil itu. Meski limau berarti jeruk, tapi desa itu hanya memiliki satu pohon jeruk yang tumbuh besar di jalan masuk kampung. Sisanya adalah pohon karet. Lebih cocok dinamakan Kebun Karet daripada Kebun Limau. Itu sebabnya sembilan puluh lima persen penduduk di Kebun Limau bekerja sebagai penyadap getah karet. Entah itu sebagai pemilik kebun atau pun orang yang bekerja di kebun milik orang lain. Bukan sebagai penjual jeruk.

Di desa itu jugalah hidup seorang anak laki-laki bernama Tegar yang selalu menjadi buah bibir penduduk desa karena kepintarannya. Tegar tidak seperti kedua kakaknya, Yamila dan Fauzan. Meski baru berusia sepuluh tahun, namun ia memiliki pemikiran yang terbilang bagus dalam membuat keputusan. Otaknya seperti cepat menyerap pelajaran yang ia terima, tidak seperti anak-anak di Kebun Limau pada umumnya. Itu membuatnya selalu berhasil meraih rangking pertama di kelasnya. Selain itu, Tegar juga pandai mengaji dengan irama yang merdu.

Namun tahukah, sebab utama yang membuat Tegar kerap menjadi bahan cerita yang manis di kalangan penduduk Kebun Limau? Tidak sepenuhnya tentang kepintaran dan keramahannya saja. Melainkan dari latar belakang kehidupannya.

Tegar tidak dilahirkan di keluarga yang berkecukupan. Ia hidup bersama ibu dan dua kakaknya yang bekerja sebagai penyadap getah di kebun milik orang kaya yang tinggal di kampung sebelah namun memiliki kebun karet luas di Kebun Limau. Ayahnya sudah tiada sejak ia masih berumur sebulan.

Kedua kakaknya seperti mengikuti jejak ibunya yang tidak mampu untuk bersekolah. Selain karena himpitan biaya, juga karena otak mereka yang kesulitan menerima pelajaran. Keduanya hanya berakhir di kelas dua sekolah dasar dan segera menjalani kehidupan bersama ibunya di kebun karet atau sesekali masuk ke hutan lepas mencari rotan.

Tetapi tidak untuk Tegar. Meski ia juga membantu ibunya di kebun, itu tak membuatnya mundur seperti anak-anak seusianya di Kebun Limau yang memilih untuk berhenti sekolah. Ia tetap berjalan melewati pohon-pohon karet untuk sampai ke sekolah di kampung sebelah, menyeberangi parit lebar berarus deras, dan menghindari kawanan anjing yang menggongong. Ia selalu bersemangat untuk itu. Baginya perjalanan menuju sekolah ditemani matahari yang bersinar terang menembus daun-daun pohon karet yang rimbun seperti kekuatan yang menentramkan hatinya. Ia membayangkan wajah ibu dan kedua kakaknya. Ia tak mau melewatkan sedikit saja pembelajaran. Ia tak mau sebodoh dan tidak peduli seperti kawan-kawannya di Kebun Limau. Karena ia ingin membahagiakan ibunya. Ia ingin membangunkan sebuah rumah yang hangat untuk ibunya suatu hari nanti.

Di sekolah pun Tegar memiliki banyak teman. Meski baju yang ia pakai tak seputih siswa lainnya. Itu tak membuatnya malu, bahkan untuk mengakui kehidupan sehari-harinya. Para guru bersimpati dengan sikap Tegar yang benar-benar setegar namanya.

Namun masalah yang kemudian ia hadapi membuatnya merasa berat untuk menjalani hidup. Kakak laki-lakinya, Fauzan, menghadap Tuhan lebih dahulu karena demam berdarah yang diderita selama seminggu. Tegar sampai tak bisa mengeluarkan air mata lagi karena musibah yang menimpa keluarganya itu. Ia terlalu sering menangis dalam dekapan ibunya. Karena bagaimana pun juga Tegar tetaplah anak-anak.

Ia mulai dilanda keraguan. Ia mulai kehilangan semangat. Ia tak mau melihat ibu dan kakak perempuannya bekerja dengan susah payah di kebun karet yang luas itu. Ia ingin membantu. Ia menjadi sangat khawatir jika keduanya dalam bahaya. Sampai pada akhirnya ia memutuskan untuk berhenti sekolah, meski hatinya menolak untuk itu.

Dua minggu tak ada kabar yang ia kirimkan ke sekolah sejak kepergian kakaknya. Orang-orang di Kebun Limau menyesalkan keputusan Tegar, namun mereka tak bisa memaksanya untuk bertahan. Ia bangun pagi tidak untuk berangkat ke sekolah, melainkan ke kebun karet menemani ibu dan kakak perempuannya.

Sampai pada suatu siang yang cerah di hari Senin Tegar mendapatkan kunjungan dari wali kelas dan teman-temannya. Tegar malu ketika berhadapan dengan mereka. Sesaat terlintas di kepalanya untuk berlari menjauh. Namun, itu tak mungkin ia lakukan. Ia berusaha menjelaskan keadaan hidupnya yang sekarang. Ia bahkan sampai menitikkan air mata yang membuat teman-temannya juga tak kuat menahan linangan di pipi mereka.

“Saya hanya ingin bersekolah, bu. Tapi keadaan seperti ini sulit untuk dihadapi. Saya hanya seorang anak yang takut kehilangan ibu dan kakak perempuannya.” Tegar mengakhiri kata-katanya sambil duduk menunduk di hadapan ibu guru kelasnya.

Ibu Guru mengusap-usap rambut Tegar. Ia paham pada masalah yang dihadapi oleh Tegar. Siapa pun akan sangat menderita dengan situasi seperti itu.

“Nak, kami datang kemari itu karena kami semua merindukanmu. Kami rindu pada Sang Matahari yang menerangi kelas dengan kepintaran dan kebaikan hatinya,” kata Ibu Guru kepada Tegar sambil tersenyum. “Lihat baik-baik, teman-temanmu di sini memintamu kembali ke sekolah. Mereka tidak sabar untuk mendukungmu merebut juara di olimpiade,” ucap Bu Guru.

Tegar mengangkat kepalanya. Memandangi wajah teman-temannya yang datang ke rumahnya. Ia merasakan kebahagiaan yang sulit untuk diungkapkan.

“Ayolah, Tegar! Kami berharap bisa bersamamu sampai tahun kelulusan nanti,” Dita, si juara kedua menyuarakan isi hatinya kepada Tegar. Diikuti oleh suara teman-temannya yang lain, yang juga memintanya untuk kembali bersemangat.

Teman-temannya duduk mengitari dan langsung merangkulnya dalam pelukan persahabatan. Tegar sangat terharu. Ia kembali menangis. Sampai akhirnya ia berjanji di hadapan ibu dan kakak perempuannya, serta ibu guru dan teman-temannya untuk kembali menjadi Tegar yang dahulu. Ia akan kembali masuk sekolah untuk meneruskan perjalanannya dalam meraih kehidupan yang lebih baik. (*)

Advertisements