Cerpen Zainul Muttaqin (Tribun Jabar, 03 Desember 2017)

Sebutir Peluru dalam Salat ilustrasi Yudixtag - Tribun Jabar.jpg
Sebutir Peluru dalam Salat ilustrasi Yudixtag/Tribun Jabar

PERKARA mengapa Kiai Bintara ikhlas mati oleh sebutir peluru tentara Belanda tidak dilupakan orang sampai saat ini. Tidak ada seorang pun tahu pasti, apa alasan pemimpin Barisan Sabilillah itu membocorkan kelemahannya sendiri, bahwa kematiannya hanya bisa dijemput pada saat sedang mengerjakan salat, itu pun harus permintaannya sendiri.

Peristiwa itu terjadi puluhan tahun silam. Pada penghujung Desember 1947 yang panas selepas magrib, Kiai Bintara didatangi segerombolan tentara Belanda. Mereka mengajak Kiai menaiki mobil menuju arah utara, ke sebuah lapangan Kemisan. Tidak percaya akan omongan tentara itu yang menyatakan penjemputan Kiai untuk melakukan perundingan damai, maka diam-diam para santri membuntuti dari belakang. Khawatir Kiai Bintara dibunuh secara keji, sebab tentara itu tak punya cara lembut untuk memperkenalkan kematian.

Mestinya tentara Belanda itu sudah wajib angkat kaki dari tanah Madura, karena Indonesia telah berdaulat atas tanah sendiri. Kemerdekaan sudah diakui oleh para penjajah. Untuk itulah, Kiai Bintara menghimpun kekuatan secara diam-diam. Ia mengajari santri-santrinya mengaji sekaligus dengan sembunyi-sembunyi mengajari mereka olah kanuragan, berlatih perang guna mengusir tentara Belanda yang tetap bertahan di berbagai pelosok di Madura.

Dalam sebuah pengajian di langgar, lampu teplok bergoyang-goyang bertahan dari tiupan angin. Kiai Bintara mengajari santrinya mengaji dengan cara sorogan. Mereka mengaji secara bergiliran. Hafal Alquran di luar kepala membuat matanya terpejam setiap kali membetulkan bacaan tajwid atau maahkrijul huruf yang salah dilafalkan oleh santrinya.

“Wajib kita mengusir penjajah, apa pun risikonya. Apa kalian siap mati membela Tanah Air?” Pertanyaan itu dilonlarkan Kiai Bintara setelah selesai mengaji. Lirih Kiai, yang melilitkan serban di kepalanya itu, bicara, takut ada mata-mata tentara Belanda mengintai dari luar bilik langgar.

“Apa ini termasuk juga membela agama, Kiai?” Salah seorang santri bertanya, mengerutkan kening, bingung. Kiai Bintara mengambil napas dalam-dalam, memandang santri itu dengan sebaris senyum.

Advertisements