Puisi-puisi Wans Sabang (Koran Tempo, 02-03 Desember 2017)

 

Hujan Musim Gugur ilustrasi Google.jpg

Hujan Musim Gugur ilustrasi Google

Hujan Musim Gugur

: Autumn from the Four Seasons by Vivaldi (1678-1741)

 

Angin dingin menyapu pilar-pilar Katedral. Sisa genangan air dari

laguna masih membasahi gang-gang kecil hingga ke alun-alun.

 

Di tepi Grand Canal, telingaku pejal menangkap momen-momen yang

diterjemakan oleh bunyi instrumen, tipis dan tebal. Rendah dan tinggi

nada, dalam tempo yang berbeda.

 

Akankah bisa diterjemah dalam tiap bait kata, lalu untuk apa orkestra

yang mengiringi drama? Kekuatan sihir bunyinya bisa buat sedih dan

senang, tegang juga lega, seperti tiap-tiap plot dalam cerita.

 

Untuk itukah aku ada, terdampar di jalan-jalan di antara bangunan

berukiran bunga-bunga berwarna suasa. Untuk itukah kita berjumpa.

Dipantulkan laguna berkaca, senja makin jingga. Mozaik cinta yang

sempat buatku terperangah. Di atas gondola, melewati Rialto bridge,

bibirku mengecup surup matamu. Atau hujan musim gugur yang buat

wajahmu sebal.

 

Sejumput lagi waktu surut. Lukisan matahari pun absurd. Entah

perpisahan kita yang megah. Atau empat patung kuda yang gagah

berdiri di bawah lengkung kubah.

 

Sebentar lagi Winter. Angin tak lagi menyisir sela-sela rambutku yang

tergerai kusut. Mata redup, Konserto demi Konserto telah buat hatiku

kuyup. Rasanya, Vivaldi menulis simfoni tentang hatiku yang telah

condong putih. Dari atas balkon, aku pandangi puisi yang pergi.

 

2017

 

Melodi Air Mata

: A Melody of Tears by Beethoven (1770-1827)

 

Adakah buah ceri yang sama manisnya. Walau berasal dari pohon

yang sama, bulat dan ranumnya sama. Adakah bunga mawar yang

sama merahnya. Walau berasal dari tangkai yang sama, jumlah

kelopak dan harumnya sama.

 

Bagai bunga bakung batangnya tumbuh bercabang dua, satu batang

merunduk ke bumi, satu batang lagi tengadah ke langit.

 

Apakah kau yang pergi bagai burung bul-bul mencari kabar suka cita

untuk Solomon serupa dengan bayang kecantikan yang tersembunyi

di balik cadar Sheba.

 

Oh terkutuklah semua tempat di bumi ini yang telah membuat

perpisahan menjadi sangat menyedihkan. Oh terkutuklah semua hari

di abad ini yang telah menjadi saksi atas hati yang mencintai dengan

sangat tulus. Oh terkutuklah semua obat penawar sakit hati, jika

rindu selalu kambuh, derita tak pernah sembuh, semua cara terasa

buntu selain ingin mati buru-buru. Oh terkutuklah semua khotbah

yang cuma mendogma tentang surga dan neraka, sedang Tuhan

tak pernah menetap di gereja, Ia tak pernah lama menetap di hati,

datang dan pergi sesuka hati. Oh terkutuklah air mata-air mata yang

telah menggerus biji-biji gandum hingga jadi tepung, mengayak dan

menyaring hingga jadi serbuk. Oh terkutuklah kegilaan demi kegilaan

ini!

 

Senyum pahitku telah memupus hapus semua kenangan

bersamamu. Air mataku intan yang tak akan retak walau ditetak

dengan mata pahat sekalipun.

 

2017

 

 

Wans Sabang, cerpen dan puisinya dimuat beberapa media dan sejumlah buku antologi bersama. Tinggal di Bogor, menjadi pegiat sastra dan penulisan naskah film.

 

 

Untuk artikel Sastra dan Puisi Koran Tempo Akhir Pekan bisa dikirim ke email: sastra@tempo.co.id

Advertisements