Oleh Zhilan Zhalila (Rakyat Sumbar, 09 Desember 2017)

Fitnah ilustrasi Google.jpg
Fitnah ilustrasi Google

YOLA dipanggil ke ruang BK, berarti ia tak bisa merasakan kantin yang sejuk. Apa yang membuat Yola harus menghadap guru BK? Langkahnya lemah menuju ruangan yang agak jauh dari kantin. Mie rebus dan teh es yang dipesannya, tak sempat dihabiskan.

Di ruangan BK, ada seorang siswi menangis tersedu-sedu. Wajahnya merah, mata merah bercampur bulir air yang menyanak, bibirnya juga merah. Yola kaget. Mengapa Nisa menangis?

Yola melihat wajah miss Yoshi tegang, ia tercekam dan canggung di ruangan yang dingin. “Kenapa Yola berbuat seperti itu?” tanya Miss Yoshi setelah menceritakan kejadian Nisa yang sedang menangis, membuat Yola terkejut.

“Hah? Bukan Yola, Miss! Yola ngak pernah. Ngak pernah melakukannya. Ini fitnah, Miss. Nisa Fitnah!” Yola menunjuk Nisa yang sedang menangis tersedu-sedu. Nisa hanya terdiam. “Nisa punya buktinya Yola. Miss ngak nyangka kalau Yola seperti itu,” miss Yoshi menujukan muka kecewanya, membuat Yola menjadi kecewa, mengecewakan guru tersayangnya.

Yola pun meminta maaf kepada Nisa. Lebih tepatnya dipaksa misss Yoshi. Yola tidak tahu apa yang diinginkan Nisa sampai memfitnah dirinya, padahal mereka sahabat baik, dekat malah. Yola pun keluar ruangan BK berbarengan Nisa. Lalu Nisa memiringkan senyumnya ke arah Yola, membuat Yola semakin bingung. Yola kembali ke kantin. Di sana sudah ada sahabat dekatnya.

“Ngapain di panggil ke ruangan BK, Yol?” tanya Mutia setibanya kantin, Mie rebusnya sudah dingin dan mengembang.

“Aku dituduh Mut sama Nissa, padahal aku ngak ngapa-ngapain,” Yola bercerita kepada Mutia yang masih menyantap nasi goreng porsi keduanya.

“Ha? Kok bisa Yol? Rasanya kita baik-baik aja deh sama Nisa” ucap Mutia tidak percaya.

Yola menggeleng

“Oh ya, Yol, itu makananmu, Yol,” sambung Mutia melihat makanan Yola yang tergeletak.

“Gak, Mut, hilang nasfu makan Yola.”

Tiga hari berlalu, Mutia juga menghindari Yola. Padahal dulu ada Nisa, Aisyah, Tasya, Zsazsa bersahabat dengan Yola dan Mutia. Entah kenapa, Yola merasa kalau dirinya difitnah Nisa.

“Eh, ada si Penghianat nih,” ucap Nisa sambil menarik rambut Yola yang dikucir kuda.

“Nis, Nisa, sakit…” Yola berusaha melepaskan tangan Nisa dari rambutnya, tetapi tidak berhasil.

“Makanya jangan jadi penghianat!” bentak Nisa

“Sebenarnya siapa sih yang penghianat?” balas Yola, amarahnya memuncak

“Eh, kalau ngak tau diem aja!” Nisa kembali membentak kasar.

Yola sangat marah kepada Nisa, “Emang ngak tau!”

Lalu, mulailah pertarungan antara bendahara dan wakil ketua OSIS di kantin. Pertikaian itu menarik perhatian pengunjung. Ada yang sibuk memvidiokan, sibuk membela. Fajar yang dari kejauhan melihat perterungan mereka mencoba melerai, tapi sayang. Kekuatan wanita pada saat marah jauh lebih hebat dibanding dirinya.

Jambak-menjabak terjadi, cakar-mencakar di setiap tangan. Belum lagi kuku mereka panjang-panjang. Semua murid melihat mereka seperti anak kala yang tidak tahu dimana tempat berkelahi terbaik. Rambut mereka acak-acakan sudah tidak rapi lagi seperti saat mereka datang ke sekolah. Helaan nafas mereka terdengar dan suara goresan kuku mereka.

Fajar akhirnya meminta bantuan Lia dan Tasya untuk melerai mereka dengan memeluk tubuh mereka. Tapi sayang, tangan Lia keburu terkena kuku Nisa yang ingin menyerang perut Yola. Mereka kalap.

Akhirnya, Gausan memanggil miss Yoshi, Guru BK. Mendengar teriakan miss Yoshi yang lantang. Pertarungan antara mereka pun terhenti, membuat para penonton juga terdiam, sehingga bisa terdengar helaan angin dan jarum jatuh. Mereka kena masalah.

Miss Yoshi kemudian memberikan hukuman. Keduanya membersihkan halaman. Nisa di halaman depan, Yola di belakang. Ancaman Miss Yoshi, jika perkelahian berlanjut, mereka akan membersihkan toilet dan harus membawa orang tua masing-masing.

***

Yola bergegas ke ruangan OSIS. Hari ini ada rapat OSIS. Selepas jam pelajaran terakhir, ia mampir sebentar ke pustaka, mengembalikan buku yang dipinjam tiga hari lalu. Ia melangkah setengah berlari-lari kecil. Ia terburu-buru. Tanpa sadar, ia menabrak Fajar yang juga hendak ke ruangan OSIS.

Benar saja. Mereka datang terlambat. Saat memasuki ruangan rapat, rapat sudah berlangsung. Dipimpin sang Ketua OSIS Gausan, di sebelahnya ada Nisa si Wakil ketua OSIS, dan Lia sebagai Sekretaris OSIS. Rapat OSIS kali ini membahas agenda acara peringatan kemerdekaan Indonesia.

Yola gugup dengan tatapan ‘sahabatnya’ tak pernah dilakukan Nisa. Yola kemudian memilih duduk dekat Aisyah dan Mutia. Sedangkan Zsazsa dan Tasya duduk di seberang meja tersebut.

Selama 30 menit rapat berlangsung, terjadilah perang dingin. Yola dan Nisa saling diam, dan saling bertatapan tapi di hati masing-masing. Sebuah pertanyaan dalam hati Yola tak bisa terjawab.

Selesai rapat ditutup, Nisa bersuara lantang. Di hadapan semua pengurus OSIS, ia memerintahkan Yola untuk membersihkan ruangan OSIS sebagai hukuman keterlambatan, lalu ia menekankan kalimatnya, “Sekarang! Tidak nanti!” katanya.

“Saya bagaimana?” tanya Fajar bingung karena ia tahu dirinya sama-sama terlambat dengan Yola.

“Biar aja Yola sendiri yang bersihin” jawab Nisa ketus.

Nisa pun keluar ruangan bersama Tasya dan menunggu Fajar keluar dari ruang OSIS, Nisa ingin nebeng pulang bersama Fajar. Rumah mereka searah. Nisa juga mengagumi Fajar.

Yola mulai menyapu ruangan OSIS, sudut demi sudut. Hati kecilnya berkata-kata, mengapa Nisa sebenci itu kepadanya? Apa sebenarnya salah Yola? Sampai masuk BK, bersihin halaman, dan sekarang membersihkan ruang OSIS. Mentang-mentang wakil ketua OSIS, cih batin Yola. Tetapi, mengapa Fajar masih disini? Seharusnya ia sudah pulang.

Selang 10 menit kemudian, Nisa dan Tasya menunggu kedatangan Fajar dari balik pintu, tak kunjung datang yang mereka cari. Nisa pun pergi ke ruangan OSIS, dan sedihnya lagi Nisa melihat Fajar yang membantu Yola membersihkan ruangan OSIS berduaan sambil melemparkan gelak tawa mereka yang mengembang ke atmosfer mereka berdua.

Kehadiran Nisa, menghancurkan atmosfer kebahagiaan mereka. Nisa pun berkacak pinggang menatap kebahagiaan keduanya, Tasya sibuk menatap layar handphonenya.

“Fajar, Nisa bilang Yola yang bersihin!” bentak Nisa.

Yola hanya menunduk, Fajar melangkah ke arah Nisa. “Yang telat, Fajar sama Yola.”

“Tapi Nisa mau Yola yang bersihin!” intonasi suara Nisa lebih tinggi.

“Jadi pemimpin itu harus adil, Buk!” lalu Fajar melangkah keluar ruangan, meninggalkan Nisa yang masih berdecak pinggang Fajar tak lupa menarik tangan Yola yang berdiam diri terpaku di belakangnya, Nisa tetap diam. Tasya pun kini menoleh, melihat apa yang terjadi. Nisa tetap menatap punggung mereka yang menjauh dan tiba-tiba hilang di balik dinding.

***

Malam ini adalah malam api unggun, atau malam keakraban. Yola ditemani Najla dan Friskha di sana, hanya mereka yang nyambung diajak bicara oleh Yola. Sesekali ia menatap sahabat-sahabatnya. Ia iri, padahal ia juga ingin bergabung di sana. Para sahabat karibnya ada di sana. Nisa dan teman-teman lainnya bernyanyi dengan gitar di tangan Hisyam, sesekali mereka tertawa lebar. Tak lama datang Fajar yang menghampiri Yola.

Fajar duduk manis di samping Yola, sedangkan pandangan Yola tetap ke sebrang api unggun. Melihat Nisa dan yang lain sedang bernyanyi. Yola ingin ke sana bergabung mereka. Najla dan Friskha sudah agak menjauh karena kedatangan Fajar yang ngotot ingin duduk di sebelah Yola.

Fajar menawarkan sebungkus cemilan ke Yola. “Nih, aku bawain cemilan, Yol.”

Yola pun menoleh ke sumber suara, yang tepatnya di sebelah kirinya sendiri. Lalu mengganguk menerima cemilan yang diberikan Fajar, adalah makanan favoritnya.

“Pasti Yola kepengen join bareng Nisa dan yang lain?” tanya Fajar sibuk dengan cemilannya.

Yola mengganguk, pura-pura sibuk dengan makanan di tangannya itu.

“Sabar aja ya Yola, mungkin waktu belum berbaik ke Yola. Suatu hari nanti, Yol, kita bakal tau kenapa Nisa jauhin Yola. Pasti ada sebab dan alasannyal.” ucap Fajar

“Tapi, apa salahnya Nisa langsung bilang ke Yola? Bukan seperti ini, Jar.” Jawab Yola.

Fajar berbicara selembut mungkin, agar Yola tidak tersinggung. “Pasti ada alasannya.”

Yola hanya terdiam, menikmati hembusan angin malam dan hangatnya api unggun yang besar membara-bara di depan Yola. Sedangkan Fajar sibuk memperhatikan siluet wajah Yola di malam hari dengan wajah sendunya itu. Yola yang malang, yang ditinggalkan oleh sahabat-sahabatnya sendiri.

Sebelum dini hari, semua sudah kembali ke tenda. Sebelum subuh, sirine dibunyikan untuk membangunkan semua, agar bisa bersiap-siap subuh berjamaah. Di Lokasi camping ini disediakan musala dan juga kamar mandi, tempat makan. Semua fasilitas tersedia. Semuanya pun bergegas untuk menunaikan ibadah subuh berjamaah.

Yola tertinggal sendirian di tendanya, ia masih sibuk mengusai tasnya mencari mukena. Sehabis salat Isya, dia sudah menyiapkan mukena di sebelah ia tidur agar tidak ribet saat subuh, tapi ekspektasinya hancur. Mukena Yola hilang. Teman setendanya, Nabila dan Frishka sudah tidak ada lagi. Semuanya sudah berada di musala. Yola bingung ingin salat pakai apa?

Yola pun berjalan menuju musala. Barang kali, mukenahnya ketinggalan, walau ia tidak yakin hal itu terjadi. Sepi. Hanya suara jangkrik, desah angin dan dinginnya udara subuh.

Sesampai di musala, semua sudah salat. Ia juga tak menemukan mukenanya. Yola mengupat dirinya sendiri. Yola akhirnya menyerah, ia kemudian meminjam mukenah Frishka ketika sudah selesai nanti.

Dua hari pun berlalu, saatnya mereka kembali ke rumah mereka masing-masing, dan sampai sekarang mukenah Yola tetap tidak tau dimana letaknya, sehingga selalu meminjam mukenah Frishka. Sesekali Zsazsa berkomentar tentang mukenah Yola, “Alah! Gak modal, beli mukenah aja ga bisa, minjem-minjem segala lagi.”

Yola tak menggubris, namun harinya teriris. Sesampai di rumah, ia masih memikirkan mukena dan sahabatnya. Ia mengingat masa-masa indah dengan para sahabatnya, dan kemudian melintas bayangan perlakuan buruk sahabatnya pada dirinya.

***

Saat jam istirahat, Yola ditemani Lia. Keduanya bicara banyak. Lia mendengarkan secara cermat masa-masa indah dirinya bersama para sahabatnya. Ketika Lia menanyakan kenapa hubungan mereka putus, Yola tak bisa menjawab. Ia tak tahu kenapa semua terjadi begitu saja.

“Setiap kejadian, pasti ada hikmahnya, Kak,” kata Lia, “ini ujian dari Allah. Allah tidak akan memberikan ujian di luar kemampuan hambanya, Kak. Sebuah ujian adalah pengikisan dosa. Pesan itu sering Lia dengar dari ustazah,” kata Lia yang aktif di ekskul Rohis.

Mata Yola tiba-tiba berkaca-kaca, terharu mendengar penjelasan sahabatnya. Mungkin ada yang salah dari dirinya sehingga Allah menegurnya. Yola pun berjanji akan berubah.

“Jangan janji sama Lia, Kak. Janji sama Allah dan diri kakak sendiri,” senyum Lia membawa keteduhan. Fajar yang sedari tadi duduk di depannya, menggangguk.

Yola kemudian membisikkan kepada Lia, ia ingin berhijab, seperti Lia. Lia pun terkejut mendengar pernyataan bendahara OSIS-nya itu.

“Kakak yakin?”

Yola mengganguk mantap

“Pakai jilbab ngak boleh asal-asalan, loh Kak. Ngak boleh buka-tutup” Lia menjelaskan

“Iya, Lia, kakak mau berhijrah Lia, ke jalan yang benar.”

Yola tersenyum haru.

***

“Nis, maafin Yola kalau Yola ada salah sama Nisa,” ucap Yola kepada Nisa di hadapan teman-temanya. Ia menguatkan diri menemui Nisa dan kawan-kawannya seorang diri.

“Hah? Sejak kapan Yola?” Nisa menatap Yola tidak percaya, begitu juga teman-teman lainnya.

“Yola baru belajar, Nisa. Maafin Yola kalau selama ini telah membuat Nisa sama teman-teman benci Yola,” suara parau Yola mengiang di telinga Nisa, jelas sekali ia menahan air matanya yang sudah menunggu untuk meluncur di pipinya.

Dalam hitungan sepersekian detik, Nisa memeluk Yola. Pelukan sahabat yang sudah lama ia tidak rasakan. Ia peluk sekuat-kuatnya sambil menagis. Mutia, Zsazsa, Tasya, dan Aisyah juga berhamburan memeluk tubuh Yola. Siapa yang tidak rindu dengan pelukan sahabat yang hangat?

Lia dan Fajar yang memperhatikan mereka dari balik dinding tersenyum bangga. Apalagi Fajar bisa membuat Yola tersenyum lagi. “Misi kita selesai Lia,” desisnya, Lia membalasnya dengan senyum.

Hari itu juga, mereka bersahabat dengan baik kembali. Mereka pun makan ke kantin, di meja persahabatan mereka dulu, tertawa riang kembali membahas kejadian-kejadian dulu yang mereka alami bersama, tak lupa juga Lia ada di meja persahabatan mereka. Semuanya menjadi indah.

“Kak Nisa, kalau boleh tau, kenapa ya kakak fitnah kak Yola?” tanya Lia. Dasar ceplas ceplos, batin Yola sambil tepuk jidat.

“Hm, maaf ya Yol, aku cuma iri kenapa kamu punya banyak teman bukan hanya kita aja. Aku juga iri karena kamu dekat sama Fajar. Sekarang, aku juga sedang mengumpulkan keberanian untuk minta maaf sama kamu, Yola. Awalnya aku mikir gengsi tapi lama kelamaan kami kesepian ngak ada kamu. Ngak ada yang buat ketawa lagi, ternyata enggak enak ya punya musuh. Sekarang aku sadar, sahabat lebih dari apa pun,” Nisa pun mengeluarkan senyum lebarnya disertai air mata.

“Iya, Yol, Mutia juga maaf. Ninggalin Yola sendirian, kayanya Mutia belum pantas jadi sahabat yang baik, Yol. Yola masih mau menerima Mutia jadi sahabat Yola kan?” Mutia, ia menunduk, rasa bersalahnya melekat.

Sepekan berselang, Nisa dan semua sahabatnya mengungkapkan keinginan mengejutkan. Mereka ingin seperti Yola dan Lia. Ingin berhijab. Mereka bertanya kepada Yola, namun Yola menunjuk ke Lia.

“Kakak merasa belum jadi muslimah yang baik, ibadah masih bolong-bolong gimana? Bukannya perbaiki akhlak dulu kah?” tanya Zsazsa.

“Jilbab dan akhlak adalah dua hal yang berbeda kak. Lia mendapat kutipan ‘berjilbab murni perintah Allah, wajib bagi kaum wanita muslim yang tekah baligh tanpa memandang akhlak. Sedangkan akhalak adalah budi perkerti yang tergantung pada pribadi masing-masing. Jika seorang wamita berjilbab melakukan dosa itu bukan karena jilbabnya melainkan akhlaknya. Yang berjilbab belum tentu berakhlak mulia, namun yang berakhlak mulia pasti berhijab’.

Semuanya mengganguk dengan mata yang berbinar, mendapat pencerahan dari adik kelasnya sendiri. Mereka ingin merubah diri mereka dan juga akhlak mereka.

“Tapi nanti kalau udah di pakai, jangan buka-tutup, ya? Janji, Kak?” tanya Lia.

“Janjiiii….” mereka menjawab serempak. *

 

*) Penulis adalah pelajar SMP Islam Al-Azhar 32 Padang.

Advertisements