Cerpen Rifal Fauzi (Rakyat Sumbar, 02 Desember 2017)

Cerita untuk Rifal ilustrasi Google.jpg
Cerita untuk Rifal ilustrasi Google

CERITAKAN pada Rifal mengenai keteguhan hati, hai Tukang Cerita. Lalu, berceritalah Si Tukang Cerita itu mengenai seorang Ibu yang membesarkan ketiga anaknya—Anak pertama Si Delapan tahun, kedua Si Enam tahun, dan Si Tiga tahun—yang masih kecil semenjak ditinggal mati suaminya.

Si Ibu masih ingat sebelum suaminya dikuburkan di pemakaman daerah kampungnya, ia melihat banyak luka di bagian dada dan lubang di kepala. Anehnya jantung suaminya hilang tidak ditemukan. Perasaan sedihnya itu terobati oleh tawa kedua anaknya—Si Delapan Tahun dan Enam Tahun—yang sibuk bermain ke sana ke mari menghindari barisan batu nisan pekuburan dengan memakai peci, baju dan celana putih.

Si Ibu hanya bisa melihat kedua anaknya dengan air mata terurai sambil menggendong Si Tiga Tahun, Apa laa yang mereka tau mengenai kematian pikir Si Ibu.

Adzan telah dikumandangkan, barisan papan telah ditutup dan butiran-butiran tanah sudah dibenamkan di dalam lubang dua meter itu. Tanah yang berjatuhan itu ditemani lantunan Alfatihah dan doa oleh Ustad.

Amin. Para peziarah telah berpergian meninggalkan kuburan Si Suami. Enam langkah telah berlalu menyebabkan dua malaikat datang dengan garang mendekati mayat itu. Entah apa yang terjadi tidak ada satu orang di dunia tahu, hanya binatang yang memiliki indra pendengaran khusus yang bisa mendengar jeritan atau canda tawanya dengan malaikat.

“Nak ayo pulang,” panggil Ibu. Si Delapan menoleh dan menghampiri Si Ibu yang berdiri di sebelah kuburan suaminya. Ia melihat tulisan kayu di atas papan itu dan berpikir itu nama ayahku Kenapa nama ayah ada di batu nisan? Keempat emak beranak itu berjalan pulang meninggalkan pemimpin keluarganya di liang lahat itu.

Sampai di rumah Sang Ibu berpikir apakah dendam harus dibalaskan atau ia memulai hidup baru memperbaiki ini semua, entahlah beban ini semakin terasa berat.

***

Putuslah amalan anak cucu adam kecuali doa anak yang sholeh. Selama ini, pernyataan itulah yang mengganggu pikiran Si Ibu, menyiapkan pendidikan agama untuk ketiga anaknya agar bisa mendoakan ayahnya yang tidak pernah beribadah sekalipun. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, apakah mereka akan menjadi seperti ayahnya? pikir Si Ibu. Di sela keresahan itu dalam hati ia bersyukur karena tidak memiliki anak perempuan, akan susah nantinya jika aku mempunyai anak perempuan.

Semua pikiran itu sungguh lelah untuk perempuan yang baru ditimpa kemalangan itu, ia pun beranjak ke tempat tidur, sebelum kedua matanya terpejam kejadian malam itu datang lagi padanya.

“Aku pergi dulu yaa, kali ini bayaran untuk kepalanya lebih besar.”

Si Ibu tersenyum ketika Si Ayah mencium kening Si Tiga yang masih tidur dalam ayunan. Sesaat terdengar tangisan Si Tiga, tangisan anak ketiga mereka ini terdengar berbeda, tangisan ini seperti tangisan perpisahan, tangisan kepergian. “Biar aku yang menenangkannya kamu jenguklah mereka berdua,” Si Ayah hanya mengangguk, kemudian meninggalkan Si Ibu.

“Nak, ayah pergi dulu yaa,” kata Si Ayah saat memasuki kamar tidur kedua jagoannya yang bising dengan suara game. “Nak, ayah pergi dulu,” ulang Si Ayah lagi. Namun masih tetap tidak ada jawaban, Duh biarlah ini, lagian aku juga terlalu asyik saat menghabisi orang yang membuat kubisa membelikan mereka game ini, pikir Si Ayah.

Enam langkah meninggalkan rumah tangisan Si Tiga semakin menyalak, si Ibu langsung mengeluarkan puting susunya dan menyumbat mulutnya namun tetap saja Si Tiga masih menangis. Ada yang aneh dari perasaan Si Ibu, entahlah perasaan apa ini.

DORR!! Terdengar suara tembakan yang mengenai Si Ayah. Pria itu langsung tumbang mengeluarkan darah segar dari kepalanya disusul cairan putih kental, otaknya telah hancur.

Seketika terdengar teriakan, “Itu balasan untuk kepala ayahku yang kau habisi jahannam!”

Para penduduk yang ketakutan mendengar suara tembakan hanya melihat dari celah-celah jendela, tidak ada yang berani keluar.

“Bos ayo pergi sudah tumbang jahannam itu, ayo bos sebelum ada banyak masyarakat yang keluar,”

DORR!! Laki-laki yang dipanggil Bos itu mengeluarkan tembakan ke atas langit. Tidak ada yang berani keluar jika mendengar suara senapan, pikirnya. “Aku masih belum puas, kita ambil jantungnya untuk anjing dirumah.”

***

Si Enam juga merasa kehilangan. Ia merasa rumah yang ditinggalinya sunyi, tidak ada suara televisi yang tiap malam hidup memekakkan suara komentator bola, terkadang suara komentator tinju, atau suara dalang memainkan wayang golek. Tidak ada bau asap rokok di rumahnya atau gelak tawa seorang pria yang kadang mengganggu tidurnya. “Ayah di mana, Bu?” tanya keduanya yang dijawab Ibu hanya dengan senyuman sambil berlinang air mata.

Semenjak kematian suaminya itulah Si Ibu berusaha untuk menjauhkan anaknya dari barang-barang peninggalan suaminya, ia juga tidak mau ketiga anaknya tahu kalau ayahnya dibunuh, takut-takut timbul dendam dari anaknya dan mereka akan berakhir seperti suaminya, Buah jatuh tak jauh dari pohonnya.

Aku tidak mau anakku menjadi seperti ayahnya, aku tidak mau. Keesokan harinya Si Ibu mendaftaran anaknya mengaji, mulai mengenalkan agama kepada kedua anaknya yang mulai beranjak dewasa. Putuslah amal anak adam kecuali doa anak yang soleh.

Hari terus berlanjut Si Ibu membesarkan ketiga anaknya sendirian tanpa pekerjaan tetap ia pergi pagi pulang petang berjualan serabutan, pergi pagi pulang malam dari pasar menjual segala barang mewah peninggalan suaminya dahulu dan menjual segala perhiasan untuk modal jualan dan menyambung hidup.

Si Enam bingung semenjak ayahnya pergi ia dilarang bermain video game dan baju yang dikenakannya mulai lusuh, makanan yang biasa dimasak ibunya juga tidak sebanyak dulu.

Berbeda dengan Si Enam, Si Delapan juga tidak tahu kenapa semenjak ayah mereka pergi si ibu jarang sekali memukul atau mencubitnya jika berkelakuan nakal, berbeda dengan Si Ayah, Si Ibu lebih tegas dan kejam dalam mendidik mereka berdua.

Pernah suatu waktu ia tidak pulang ke rumah hingga adzan magrib berkumandang. Sampai di rumah si ibu telah menunggu di depan pintu masuk.

Si Delapan memegang pahanya dan memegang telinganya, ia bersiap diri sebelum dua bagaian tubuh yang dipegangnya terkena cubitan dan pukulan sang ibu, ia masuk rumah beruntung nasibnya sebab ayah mereka sudah pulang ke rumah menyelamatkan Si Delapan dari cubitan Si Ibu.

“Tangan, dan baju ayah kenapa berdarah?”

“Sudah, ayo segera mandi dan bersiap ke mesjid, jadilah anak yang soleh untuk ayah.”

***

Selama lima tahun membesarkan anaknya lewat kedisplinan membuat anaknya menjadi anak yang soleh, setidaknya untuk mendoakan ayah mereka.

Shodaqallah Huladhzim. Selama lima tahun pula Si Ibu berhasil membuat disiplin untuk mengaji mengisi rumahnya.

“Bu, aku udah mau khatam ngajinya yee,” kata Si Enam yang kini sudah berusia Sebelas tahun sambil membuka halaman selanjutnya.

“Abang udah hafal sebagian juz ‘amma Bu…” kata Si Delapan yang kini sudah berusia Tiga Belas tahun sambil membenarkan lipatan sarungnya yang masih berantakan.

Si Ibu yang duduk di atas meja makan sambil menyuapkan makan Si Tiga yang kini berusia Delapan tahun tersenyum senang, ia merasa berhasil mendidik anak-anaknya. Anakku tidak akan menjadi seperti ayahnya.

“Oohh Anak-anakku elok-eloklah kelakuan kalian, nanti jadi bulanan orang kalian, anak yatim jahat, wajar anak yatim jahat tidak punya ayah,” nasehat Ibunya, “Jangan lupa doakan ayah kalian di sana, doakanlah ia nak biar tenang di sana.”

Adwek kwapan dwiajawri ngwaji, Bu? (Adek kapan diajari ngaji Bu?)” tanya Si Tiga yang kini berusia Delapan dengan mulut yang penuh dengan nasi.

“Hahaha.”

Untuk sekian kalinya Si Ibu meneteskan air mata lagi melihat anaknya menjadi seorang anak yang baik, Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya tidak berlaku untuk anak-anakku, pikir Si Ibu.

Hari terus berjalan dan mereka terus belajar agama dan mendoakan ayah mereka di alam lain sana. Sampailah tiba hari yang paling membahagiakan si Ibu ketika anaknya mengimami sholat di mesjid di daerah kampungnya.

***

Minggu pagi ini Si Ibu tidak berjualan ke pasar, ia ingin menghabiskan hari ini dengan anaknya yang libur sekolah, ia akan memasakkan anaknya semur ayam, tempe bacem, tumis kangkung untuk anaknya. Hari ini akan menjadi sempurna.

“Permisi! Selamat Siang!”

Seorang pria dengan setelan jas dan topi semi koboy mengetuk rumah Si Ibu didampingi dua orang yang terlihat seperti pengawalnya. Dari dapur Si Ibu langsung ke depan dan mempersilakan tamu itu duduk.

Pria yang mengenakan jas dan topi koboy itu memperkenalkan diri bahwa dia adalah client terakhir yang menyewa suaminya untuk misi di malam suaminya terbunuh. Ia mengatakan ada perjanjian antara dia dan suaminya jika misi gagal keluarganya akan mendapat bayaran untuk dana santunan mereka.

“Kenapa datang sekarang? Itu sudah lima tahun yang lalu.”

“Kalau kami datang di hari suami ibu dikuburkan kami khawatir akan keselamatan Ibu dan anak-anak, tidak ada yang bisa menjamin.”

“Menjamin? Apa maksudmu menjamin?”

“Di bisnis ini semua keturunan akan dibantai, kami tidak tahu kenapa mereka tidak menghabisi ibu satu keluarga pada malam itu, kami memilih lima tahun adalah waktu yang tepat untuk kami menyerahkan dana ini.”

Dengan memberikan kode tangan kepada dua pengawalnya, pengawal yang satu langsung memberikan koper yang berisikan lemaran-lembaran rupiah.

“Harap diterima, Bu.”

Si Ibu hanya memerhatikan amplop itu, seketika kejadian malam itu menghantuinya, terdengarnya suara tembakan, hilangnya jantung suaminya.

“Aku tidak bisa menerima.”

DORR!! Suara tembakan dari luar rumah.

“Aaaa,” teriak Si Ibu berlari menuju kamar anaknya, “Anak-anakku menunduk kalian.”

“Tuan, sepertinya mereka menembak mobil kita.”

“Sialan, sudah lima tahun apa maksudnya mereka menyerang sekarang?”

“Kau lindungi aku, kau lindungi Ibu itu.”

“Ayo sikat jahannam di luar itu.”

Ada puluhan orang telah berkumpul di depan rumah Si Ibu.

“Keluar kau jahannam!”

“Bos kita langsung masuk saja, sudah lima tahun ini momen yang pas untuk membunuh jahannam itu dan keluarganya biar tidak ada dendam.”

Si Tukang Cerita berhenti sampai disini, ia termenung dan menetaskan air mata.

“Dan akhirnya apakah si Ibu kembali untuk mencium kening si Tiga Tukang Cerita?”

“Hanya satu orang yang tersisa dari keluarga itu dan sedang mengisahkan kisahnya.” (*)

Advertisements