Cerpen Jamil Massa (Koran Tempo, 02-03 Desember 2017)

Burung Merah ilustrasi Koran Tempo.jpg
Burung Merah ilustrasi Koran Tempo

SERATUS hari berlalu sejak terakhir kali hujan mengguyur kota. Pagi itu belum ada tanda-tanda perubahan cuaca. Di teras rumahnya, Yodi memeriksa sepucuk benjamin marauder. Senapan angin itu masih terlihat prima meski telah dua bulan tak melepas tembakan. Laras bajanya berkilat-kilat. Popornya, dari kayu mangga hutan, melengkung dan kesat. Yakin tak ada kebocoran pada tabung angin, Yodi melepas magasin. Empat belas lubang peluru terisi semua. Sekilas tampak sempurna. Namun, setelah memeriksa lebih cermat, ia menemukan suatu cela.

Diputarnya pelat mika yang menutupi magasin, searah jarum jam sampai lubangnya paralel dengan lubang nomor tujuh. Di lubang itulah bercokol sebutir mimis yang tak kelihatan cerukan roknya. Ujung bundar peluru timah sebesar kacang tanah itu menghadap ke luar.

Yodi belum pernah mendengar ada mimis yang melesat mundur karena terpasang sungsang. Sesuai mekanisme standarnya, benjamin marauder dalam situasi demikian hanya akan mengalami kemacetan. Namun, Yodi adalah spesialis hewan gesit; baginya senapan ngadat adalah bencana yang lebih tragis ketimbang menelan peluru sendiri.

“Kupikir Abang sudah berhenti,” Rasmi, yang baru saja muntah dua kali di dapur, berdiri di ambang pintu. Tampak pucat, terhuyung, dan cemberut.

“Sudah empat malam ini burung merah itu muncul dalam mimpiku,” jawab Yodi tanpa menoleh kepada istrinya itu, seolah ia punya mata samping seperti beberapa jenis unggas yang pernah ia bunuh.

“Abang mau anak dalam kandunganku ini lahir cacat?”

Yodi diam sejenak. Setelah membetulkan posisi mimis yang terbalik, ia akhirnya menatap Rasmi,

“Ah, kau ini, percaya yang begituan.”

“Abang sendiri? Percaya mimpi tak jelas.”

“Mimpi yang sama, berkali-kali.”

Rasmi masih ingin mendebat, tapi ia tak tahu mau bilang apa lagi. Ditambah, raungan kasar sepeda motor, yang kemudian memasuki halaman, membuatnya pening kembali.

Jek, si empunya motor, menyapa mereka. Yodi mengangguk. Rasmi menekuk sedikit bibirnya. Sejak hamil, ia jadi tak suka melihat Jek, terutama saban adik semata wayangnya itu membuka mulut, menyingkap deretan geligi yang rompal. Si pemilik mulut sebetulnya bermaksud tersenyum simpatik. Tapi di mata orang lain ia tampak bak sedang tersedak gigi sendiri.

“Jangan pulang terlalu sore,” pesan Rasmi sebelum masuk rumah dan menutup pintu.

***

JEK mengemudi, Yodi membonceng, tak ada percakapan sepanjang jalan. Angin merentang-rentangkan muka mereka seperti adonan roti. Air liur si pengemudi terpercik-percik ke udara, sementara rambutnya yang panjang masai sesekali tercicip si pembonceng. Jarak dari rumah Yodi ke Danau Limboto tak begitu jauh. Sepuluh menit di atas sepeda motor yang dikebut, mereka pun tiba.

Yodi pernah mendengar dari Meli, keponakannya, danau itu akan menghilang tak sampai sepuluh tahun lagi. Meli yang kuliah di satu-satunya universitas negeri di kota itu bilang, “Pendangkalan terlalu cepat untuk dihentikan. Hutan di hulu rusak. Orang-orang bikin ladang di tempat dangkal dan karamba di tempat dalam. Eceng gondok subur karena pupuk dan pakan ikan ditebar sembarangan.”

Tiap kemarau, beberapa bagian danau mengering dan pecah-pecah seperti lapangan sepak bola kelas kampung. Bahkan, benar-benar ada yang bermain sepak bola di bagian yang mengering itu. Misalnya, di tempat yang puluhan tahun lalu jadi lokasi pendaratan Catalina milik Presiden Soekarno. Jika kemarau belum begitu panjang, tanah yang kering cuma ada di lapisan atas. Di bawahnya, lumpur siap memangsa kaki-kaki yang lengah. Tapi hari itu, setiap pijakan yang dilalui Yodi terasa tak tergoyahkan.

Area yang ditujunya adalah suatu genangan di bagian tengah, setengah kilometer dari tepi danau. Ia dan Jek cuma berjalan, tanpa perlu menyewa perahu. Sejumlah besar eceng gondok menyebar seperti pulau kecil. Bunga-bunganya merah muda segar, tapi tak mampu melipur bau busuk yang dilepaskan endapan lumpur. Segerombol gelagah setinggi nyaris dua meter mencuat di satu sisi. Di balik tanaman itulah mereka kemudian menyembunyikan diri. Yodi memasang senapan pada topangan dan membidik sekitar lima puluh meter ke barat laut, ke salah satu puncak barisan tonggak bambu tempat nelayan biasa memasang jaring apung. Dalam empat kali mimpinya, burung berbulu merah menyala itu selalu bertengger di sana.

***

“SENAPANNYA bagus ya, Bang.” Jek membuka obrolan setelah cukup lama tak ada suara di antara mereka.

Yodi yang sedang tengkurap, bergumam pendek tanpa melepas perhatian dari teropong. Hampir sejam ia bertahan dalam posisi itu, tapi yang ditunggu belum juga tampak. Beberapa kali lewat kawanan duwiwi, ia tak peduli. Di hari lain pun ia tak akan peduli. Bukan lantaran dagingnya tak enak—sebab ia bukan berburu untuk makanan—tapi lantaran menembak itik danau bagi Yodi adalah olahraga yang terlampau gampang, sehingga terkesan kurang bermartabat. Biasanya ia lebih suka duayo, bondula, lilimu, buluwito, bulia atau beberapa jenis lain yang ia tak tahu namanya. Namun hari itu ia pun sedang tak ingin memburu burung-burung tersebut. Bukan untuk mereka ia repot-repot menyingkirkan debu dan sawang buat menurunkan senapan anginnya dari loteng. Bukan un tuk mereka ia melanggar janji berhenti berburu yang dua bulan silam dinyatakannya di hadapan Rasmi. Hari itu ia menginginkan si burung merah semata.

Ia ingat kata Meli, beberapa jenis burung yang singgah di Danau Limboto adalah pengembara dari Cina, Jepang, Australia dan Rusia. Tentu saja, pikirnya, semua yang berasal dari Rusia pasti berwarna merah. Mimpinya jelas sebuah pertanda. Dan membunuh burung komunis akan jadi kegiatan paling menghibur di musim yang keparat ini.

“Beli di mana?” Jek berkata lagi.

“Hadiah,” jawab Yodi malas-malasan.

Jek kembali terdiam.

Yodi mendengkus, lalu bangkit dan duduk. Ia mengeluarkan sebatang rokok, menyelipkannya di bibirnya sendiri dan menawarkan sebatang kepada Jek. Selepas dua isapan, ia mulai bercerita. “Beberapa tahun lalu, ada pesawat penumpang jatuh di pegunungan sebelah utara. Abang ikut dalam suatu tim gabungan. Orang SAR cuma Abang dan seorang teman lagi. Sisanya, setengah peleton tentara. Bayangkan, menyusuri belantara, kami cuma dibekali masing-masing tiga bungkus mi instan. Sabtu berangkat, besok paginya habis.”

Yodi sejenak menoleh ke arah deretan tonggak bambu. Tak ada apa-apa.

“Di hari ketiga, kami mulai makan daun. Minum air dari batang rotan. Hari keempat, pesawat itu belum juga ketemu…sampai menjelang sore, seorang prajurit melapor kepada komandannya kalau mereka melihat seekor monyet berbulu hitam.”

Yodi menghentikan cerita kembali. Kali ini untuk meluruskan kakinya yang mulai mati rasa.

“Monyet itu sedang makan. Ada dua atau tiga prajurit membidiknya. Lalu, entah siapa yang menembak, dor! cuma kena bahu. Dia lari dengan darah bercucuran, sambil menjerit-jerit. Biarpun terluka, monyet itu gesit juga. Mungkin karena lukanya terlalu parah, dia tidak pernah mencoba memanjat. Hanya berlari, terus sampai kehabisan tenaga. Abang sempat melihat hewan itu terduduk, memetik segenggam daun, dan menempelkan daun itu ke lukanya. Seperti manusia saja. Seorang penembak di sebelah abang membidiknya lagi. Tembakan kedua itu benar-benar tepat sasaran…otaknya berantakan.”

Jek bergidik.

“Jadilah menu malam itu monyet bakar. Geli juga, seperti mau makan manusia saja. Bulu-bulunya belum dicabuti semua pula. Tapi, akhirnya Abang makan juga. Selain karena lapar, si komandan peleton juga selalu mendesak Abang. Katanya, ‘Mari, dek. Jangan sungkan. Ini makanan saya di Timor Timur’.”

Yodi tergelak, begitu pula Jek.

“Besoknya, kami berhasil keluar hutan. Puing pesawatnya tidak kami temukan. Ternyata kami salah perhitungan. Andai di seperempat perjalanan kami belok ke barat, pasti ketemu. Tak ada yang selamat dari kecelakaan itu. Abang kemudian akrab dengan peleton itu, paling akrab dengan si penembak monyet. Dari dia, Abang belajar berburu. Sebelum pulang ke Jawa, dia menghadiahkan senapan ini untuk Abang.”

Jek menatap penasaran benda yang dimaksud. Yodi tersenyum kecil. “Kapan-kapan, Abang ajari kau menembak.”

Jek mengangguk.

Sejurus kemudian, Yodi membuang rokoknya yang hampir habis, lalu kembali tengkurap dan menempelkan mata di belakang teropong.

“Bang…” bisik Jek.

“Hmmm?”

“Mengapa Kakak seperti membenci saya?”

Yodi berpikir sesaat. “Kamu masih ngelem?”

“Tidak lagi, Bang. Saya sudah bersih.”

“Mungkin cuma efek ngidamnya kakakmu.”

Jek masih ingin bertanya, tapi Yodi tiba-tiba mengacungkan telunjuknya. Jek terkesiap, ikut tiarap. Ia pusatkan perhatian ke pucuk salah satu tonggak, tapi ia tak bisa melihat apa-apa. Mungkin burung itu terlalu kecil untuk mata telanjang, pikirnya.

Yodi melepas tembakan, lalu menegakkan kepala. Kurang yakin, ia kembali mengokang dan mengeker. “Kau lihat tadi?”

Jek tak menjawab. Sejurus ke mudian Yodi bangkit dan berlari ke arah bidikannya. Ia mencari di sekitar deretan tonggak, meneliti arus air dan jaring apung. Namun, setelah hampir sepuluh menit, ia tak menemukan apa pun. Terdengar gemuruh. Ia mendongak dan tahu-tahu mendung sudah tampak pekat. Mungkin kemarau akan berakhir dan itu membuatnya risau. Kesempatan bertemu burung merah itu mungkin tak akan terulang lagi.

Ia memutuskan kembali ke tempat ia meninggalkan Jek. Sepanjang jalan pulang ia sesekali menilik ke sekitar. Barangkali bangkai burung itu teronggok di antara eceng gondok. Namun, ia tetap saja tak menemukan apa yang ia cari.

Tiba di tempat pengintaian ia terkejut mendapati Jek telah berdiri, menggenggam si benjamin. Ujung laras mengarah tepat ke wajah Yodi. Darahnya langsung naik ke kepala saat ia ingat belum membatalkan kokangan yang tadi.

Yodi pernah membaca di suatu brosur, bekas pecandu lem cenderung punya gerak refleks berlebihan. Informasi tersebut terpikir olehnya siang itu.

“Jangan main-main,” tegur Yodi setenang mungkin agar otak rusak adik iparnya tidak membuat siapa pun di antara mereka terluka, “Letakkan pelan-pelan.”

Jek cuma nyengir. Ia baru akan melakukan perintah Yodi saat petir laknat itu menggelegar. Ia terkejut, melompat, dan tak sengaja menarik pelatuk. Sebutir mimis melesat, menghantam mulut Yodi yang sedang terbuka.

Hujan lalu turun. Semakin lama semakin deras. Jek hanya terperangah melihat Yodi menggelepar dan berdarah.

 

Gorontalo, 2017

 

Catatan: duwiwi (Anas gbiberifons), duayo (Egretta garzetta), bondula (Porphyrio porphyrio), lilimu (Himantopus leucocephalus), buluwito (Porzana cinerea), bulia (Pandion haliaetus).

 

Jamil Massa, lahir di Gorontalo, 14 Maret 1985. Menulis puisi, cerpen, dan esai. Sekarang tinggal di Gorontalo dan aktif dalam sejumlah kegiatan literasi di kota tersebut. Telah menerbitkan dua buku puisi berjudul Sayembara Tebu (2016) dan Pemanggil Air (2017). Saat ini sedang menyiapkan buku kumpulan cerpen pertamanya.

 

Untuk artikel Sastra dan Puisi Koran Tempo Akhir Pekan bisa dikirim ke email: sastra@tempo.co.id

Advertisements