Oleh Setta SS (Eramuslim, 17 Juli 2009)

Tekad yang Diproklamirkannya Malam Itu ilustrasi Lakonhidup.Com

AWAL Juli hingga akhir Agustus 2007. Selama dua bulan penuh saya menjadi relawan Program Pemberantasan Buta Aksara yang diprakarsai oleh Universitas Gadjah Mada bekerja sama dengan Departemen Pendidikan Nasional. Meski awalnya terlintas keengganan menggelayut di benak ini, tetapi kemudian saya berusaha untuk menikmatinya dengan sepenuh hati. Mencoba memaknai setiap momentum yang terjadi selama menjadi relawan itu.

Saya ditempatkan di Dusun Wedusan Lor, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Salah satu dari lima dusun di kawasan Desa Santri Balunganyar, 22 kilometer dari pusat kota Pasuruan. Sekitar 2 jam perjalanan ke arah timur dari Surabaya.

Warga Dusun Wedusan Lor 90% berprofesi sebagai peternak sapi perah, salah satu kawasan penghasil susu terbanyak di Kabupaten Pasuruan. Sisanya bekerja sebagai petani, nelayan, pedagang, karyawan pabrik, buruh bangunan, dan ada juga yang bekerja serabutan menyediakan jerami untuk pakan sapi. Hampir 100% adalah warga keturunan Madura sehingga bahasa keseharian mereka adalah bahasa Madura, bukan bahasa Jawa.

Salah satu permasalahan terbesar yang ada di Dusun Wedusan Lor dan Desa Balung Anyar pada umumnya adalah, fakta bahwa lebih dari 85% penduduknya masih belum melek aksara. Belum bisa membaca, menulis dan berhitung. Sebuah ironi yang sungguh mengiris hati mengingat mushala nyaris ada di setiap RT dan keberadaan Masjid Agung Baiturrahim yang berdiri megah di samping kantor Desa Balunganyar.

“Pak, sejak kecil saya belum pernah sekolah,” ungkapnya polos. Saat kami berjalan beriringan meninggalkan tempat Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang berlangsung di sebuah mushala, sekitar jam setengah sepuluh malam.

Ia biasa menyapa saya dengan sebutan “Pak” meskipun sudah saya ingatkan beberapa kali agar memanggil dengan nama panggilan saja. Mungkin karena dalam benaknya, seorang laki-laki seusia saya (25 tahun saat itu) paling tidak seharusnya sudah punya satu atau dua orang anak balita. Ya, bagi para pemuda di sana, asal sudah bisa ngarit—mengambil rumput untuk pakan sapi, berarti urusan mendesak berikutnya adalah mencari seorang istri dan menjadi suami.

Melanjutkan studi hingga ke jenjang sekolah menengah apalagi kuliah di perguruan tinggi bukanlah prioritas utama. Atau bahkan sama sekali tak pernah terlintas di pikiran mereka. Sebagian orang tua yang masih menganggap penting arti pendidikan lebih memilih memasukkan anak-anak mereka ke pesantren-pesantren tradisional daripada sekolah umum sejak dari kecil hingga tiba saatnya menikah nanti.

Begitulah pola pikir kolot generasi awal warga Dusun Wedusan Lor pada umumnya. Hingga di masa lalu, bagi seorang warga yang “nekad” melanjutkan pendidikan menengah ke sekolah umum di kota, harus siap-siap ditertawakan dan menjadi objek ejekan orang sedesa.

Dan Mas Slamet, lahir tahun 1975, termasuk salah seorang korban pola pikir warga yang salah kaprah itu. Beliau memang benar-benar tidak pernah mengecap bangku sekolah. Tidak seperti sebagian besar peserta didik lainnya yang rata-rata pernah mengecap bangku SD meski drop-out di tengah jalan.

Satu hal yang saya kagumi dari pribadi sederhana dan murah senyum ini adalah semangat belajarnya yang ternyata sungguh menggebu. Beliaulah peserta didik saya yang paling rajin hadir di kelas. Hingga keuletannya itu mengantarkannya lulus Ujian Nasional di akhir proses KBM dengan memperoleh skor 515 dari skor total 555.

Alhamdulillah, Ayah satu putra yang sehari-hari berprofesi sebagai buruh bangunan itu kini sudah melek aksara. Beliau sudah bisa membaca meski masih dengan terbata-bata. Beliau sudah bisa menulis walau kadang belum sesuai dengan kaidah tata bahasa yang seharusnya. Dan beliau juga sudah lebih paham operasi sederhana angka-angka.

“Semoga anak-anak saya kelak bisa sekolah, Pak. Tidak seperti bapaknya!” begitu tekad yang diproklamirkannya pada saya malam itu. (*)

 

Yogyakarta, 16 Juli 2oo9 o1:31 p.m.

 

Advertisements