Cerpen Junaidi Khab (Kedaulatan Rakyat, 26 November 2017)

Tiang Lampu ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyat.jpg
Tiang Lampu ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat

RUANGAN itu tampak dipenuhi oleh sanak keluarga Kurnia yang sedang sakit. Tetangga dekatnya pun ikut membesuk ke rumah sakit. Kurnia kecelakaan di salah satu jalan pelosok saat mengendarai mobil. Jalan itu tidak ramai, juga ada banyak polisi tidur. Tapi, Kurnia bisa menabrak tiang lampu. Mobilnya penyok dan Kurnia harus dirawat di rumah sakit. Sementara teman-temannya baik-baik saja.

“Kamu tak perlu berusaha bunuh diri kalau bawa lari uang ayahmu,” kata Sumina, ibu Kurnia saat hanya tinggal berdua di rumah sakit. “Kalau begitu, kan begini jadinya, kamu harus masuk rumah sakit.”

“Iya, Bu,” kata Kurnia merengak kesal. “Tapi, uangnya sudah habis.”

Sumina terdiam mendengar Kurnia berkata jujur. Uang itu bisa buat kuliah sampai S3. Tapi meski Sumina curiga, saat itu dia tak membicarakan kecurigaan dalam kecelakaan anak semata wayangnya.

“Untung kamu tak menabrak tiang listrik,” kata Sumina mencoba memancing Kurnia agar bercerita.

“Tiang listrik, Ma…”

“Bukan, itu tiang lampu,” kata Sumina sedikit kesal. “Coba kamu tabrak tiang listrik yang ada gardunya itu. Kamu bisa mampus!”

Kurnia tertegun. Dia tak habis pikir rencananya sebodoh itu. Hanya menabrakkan mobil pada tiang lampu. Itu pun dilakukan di jalan sepi yang tak mungkin pengemudi mobil menabrak dengan cepat. Kecuali memang disengaja. Dia sedikit cemas, takut rencananya terbongkar. Teman-temannya belum diberi tahu agar tak buka mulut jika ibunya menanyakan peristiwa ganjil itu.

***

Advertisements