Cerpen Artie Ahmad (Jawa Pos, 26 November 2017)

Tarian Biyung ilustrasi Bagus Hariadi - Jawa Pos.jpg
Tarian Biyung ilustrasi Bagus Hariadi/Jawa Pos

BIYUNG dan tari tak ubahnya pohon dengan akar. Biyung tanpa tariannya adalah suatu kehampaan, suatu ketidaksempurnaan.

Sejak dulu, aku selalu merasa bahwa tarian-tarian yang dibawakan Biyung tak ubahnya sebuah kemagisan, jalan spiritualisme yang tak bisa ditempuh semua orang. Biyung selalu menghaturkan sesuatu yang tak bisa ditebak lewat setiap tarian yang dibawakannya. Setiap kali kedua kaki dan tangannya bergerak selaras dalam pakem tandak, setiap kali itu pula seakan Biyung masuk ke dimensi lain. Sebuah dimensi yang berada dalam kotak kaca, hanya dia sendiri yang mampu memahami.

Dulu, beberapa kali aku melihat Biyung mendemonstrasikan tari bedoyo. Dari Bapa aku tahu, bahwa tari bedoyo tak ubahnya menari dengan kelembutan di atas awan. Tiap kali melihat Biyung mendemonstrasikan tarian itu, terkadang aku ketakutan, khawatir jika Biyung benar-benar akan terbang ke awan, dan lesap dalam gumpalan-gumpalan putih yang mirip kapas. Tapi nyatanya Biyung tak pernah terbang, tak pernah lesap ditelan awan. Malahan Bapa yang lebih dulu terbang, meng awal burung-burung belibis terbang di antara awan. Hilang ditelan mega-mega, mencari yang namanya suwarga.

Kematian Bapa adalah segala pusat dari segala kemuraman. Segala hal yang dulu menyenangkan bersamanya menjadi kenangan yang menumbuhkan bibit rindu dalam kepedihan. Kekosongan melanda seluruh penjuru rumah. Bahkan burung beo milik Bapa yang selalu ribut setiap hari akhirnya ikut terbang tinggi. Mati di dalam sangkarnya, tak tahan menanggung rindu yang berkepanjangan.

Kami bertiga, anak-anaknya juga menanggung hal yang sama. Bagiku sendiri, kepergian Bapa adalah kemalangan yang belum siap aku jalani. Kepergiannya yang begitu cepat mengguncang jiwaku yang kala itu masih sangat muda. Betapa kematian menjadi momok yang sangat menakutkan. Tak pernah aku ba yangkan bahwa aku akan kehilangan Bapa secepat itu. Kedua kakakku pun merasakan hal serupa. Keduanya juga sama tak siapnya kehilangan Bapa seperti diriku.

“Kematian adalah awal dari kehidupan yang kekal. Bapa kalian akan lebih baik, dia tak perlu menyandang sakit lagi,” suara Biyung terdengar jernih di telingaku.

“Tapi, kenapa kematian datang sedemikian cepat, Biyung? Kita belum puas diasuh Bapa. Masih ingin berlama-lama bersamanya,” kakakku Nastiti berkata perlahan, air matanya jatuh berlinangan.

“Ya, kita belum puas diasuh Bapa. Seharusnya bertahun-tahun lagi Bapa pergi!” Wikan, kakak sulungku itu menyela.

Aku hanya terdiam. Bagiku kematian adalah hal aneh. Kematian tak ubahnya hal purba, sulit dipahami akan tetapi ada.

“Semakin kalian menyukai sesuatu dengan sangat, maka Gusti tidak akan berlama-lama untuk mengambilnya kembali. Semua yang hidup akan mati, tak terkecuali Bapa kalian.”

Suara Biyung sangatlah tegar. Meski pada kenyataannya, kepedihan lantaran kehilangan Bapa berkali-kali lebih menyakitkan bagi dirinya. Terlihat benar dari dua bola mata Biyung yang kerap basah setelah kepergian Bapa. Demi menghalau rasa galau dan resah di hatinya, Biyung menenggelamkan dirinya dalam gerakan-gerakan tarian. Hidupnya kembali dihiasi pakem-pakem gerak tari dan segala bunyi gamelan yang mengiringi tandak-tandakan yang dihaturkan Biyung di hadapan para murid-muridnya. Tari tak hanya menghaturkan gerak gemulai lenggak-lenggoknya badan, melainkan sebuah jalan spiritualitas.

Begitulah yang diucapkan Biyung kepada para muridnya, ketika mereka bertatap muka. Perlahan, kesepian Biyung lantaran kehilangan Bapa terkikis, meski nyatanya kehilangan jauh lebih besar menanti Biyung di kelokan jalan hidupnya. Kehilangan kami anak-anaknya, yang bisa dipandang, didengar suaranya, namun tak bisa disentuhnya dengan leluasa ketika kami bertiga beranjak dewasa.

***

SUDAH hampir satu jam Biyung mengamati foto keluarga. Kenangan lima manusia dalam bingkai kaca yang tergantung di dinding ruang keluarga. Ruang keluarga yang dulu selalu semarak dengan kebersamaan, kini sangat terasa senyap. Dulu, kami berlima seringkali menghabiskan waktu di sana. Biyung akan mendemonstrasikan sebuah tarian, Bapa akan bersemangat memberi pujian dalam nada riuh rendah.

“Kapan kakak-kakakmu pulang?” suara Biyung terdengar.

Aku mengangkat kepala, perlahan aku menatap Biyung.

“Entah, mungkin Minggu depan.”

“Beberapa waktu lalu mereka bilang akan pulang hari Sabtu kemarin. Tapi nyatanya tak pulang. Sebenarnya mereka masih mau bertemu Biyung atau tidak?” pertanyaan yang keluar dari bibir Biyung tak bisa kujawab.

Sudah beberapa tahun belakangan kedua kakakku hidup memisahkan diri dari kami. Si sulung Wikan memilih pekerjaan di tengah laut lepas, menjadi insinyur di perusahaan pengeboran minyak. Sejak gagal dalam pernikahannya, Wikan seakan ingin lenyap dari riuhnya dunia.

Kakakku Nastiti memilih jalan sebagai peneliti. Menikah dengan teman kuliahnya dan sangat menggemari penelitian-penelitian keluar negeri. Tinggalah aku sendiri di rumah, menemani Biyung yang masih menekuni dunia tari.

Aku dan Biyung kembali terperangkap dalam sepi. Tak ada lagi suara dari kami untuk se kadar bercakap-cakap guna berbasa-basi. Aku terjebak dalam pikiranku sendiri. Duniaku yang sekarang jauh lebih rumit ketimbang duniaku yang lama. Pekerjaan, meneruskan tingkat pendidikan, asmara, melebur menjadi satu, berubah menjadi polemik bagi diriku sendiri.

Biyung kembali ke dunia tari. Dunia spiritualitas yang tak dimiliki banyak orang. Lemparan sampur, gerak dalam pakem tandak diiringi suara gamelan masih selalu tampak selaras dibawakannya. Nyata, meski dicekik segala macam rindu dan kesepian, Biyung masih prima dalam menari. Kemampuannya belum luntur meski usianya selalu bertambah, bahkan senja usianya sudah lama terlewat.

Kini, ruang keluarga adalah tempat paling sunyi bagi Biyung. Rindu seakan selalu menampar-nampar dirinya tiap kali duduk sendirian memandang foto keluarga yang tergantung di dinding. Aku sendiri tak bisa banyak membantu, menyelamatkan Biyung dari racun kesunyiannya.

***

AKU melihat Biyung menari di ruang keluarga. Sampurnya berwarna biru. Suara gending dari gamelan terdengar. Aku mengintip dari balik pintu kamar. Semakin lama, langkah kaki Biyung seakan terlihat begitu ringan. Perlahan tubuh Biyung melayang. Aku tergagap, tak percaya dengan apa yang aku lihat. Biyung masih menari meski kini badannya terbang. Biyung terbang melayang-layang, nyaris menyentuh langit-langit, tapi kemudian tubuhnya menerobos pintu yang terbuka. Biyung terbang melayang tinggi, menuju langit. Melihat Biyung terbang, aku pun ikut terbang. Aku turut melayang-layang. Biyung masih menari mesti kini berada di balik awan.

Aku memanggil-manggil namanya, namun sepertinya Biyung tak mendengar. Lalu dari balik awan yang mirip kapas menggumpal, tiba-tiba muncul Bapa. Wajah Bapa sangat semringah, dari bibirnya terdengar tembang Asmaradana. Keduanya bertayub di atas mega-mega.

Aku masih memanggil-manggil Biyung, memintanya kembali bersamaku di rumah. Tapi nyatanya Biyung tak mendengar. Aku mencoba terbang mendekati mereka, tapi mendadak tubuhku kaku. Aku kehilangan kemampuan terbangku. Badanku lunglai, jatuh ke bumi dan menghantam tanah dengan keras.

Aku terperanjat. Mataku membelalak memandangi langit-langit kamar. Suara benda jatuh itu seakan nyata di telingaku. Lalu suara erangan pendek itu terdengar. Aku segera bangun, setengah berlari menuju kamar Biyung. Di dalam kamar aku melihat Biyung terkulai di atas lantai. Matanya setengah terpejam, napasnya memburu. Dengan cepat aku memapah tubuh Biyung kembali ke ranjang. Ambulans segera aku telepon untuk menjemput kami. Malam itu, aku seakan bermain dadu nasib, ketika berlari-lari di samping brankar yang membawa tubuh Biyung ke UGD.

Tarian Biyung di balik-balik mega-mega yang menjadi kembang tidurku tadi tak ubahnya menjadi momok yang menakutkan. Gambaran ba gaimana Bapa yang kasmaran bermain di kelopak mata. Aku mengejap-ejapkan mata, bukan mengusir kantuk yang datang, melainkan untuk menghapus bayangan Bapa dan Biyung yang sedang asyik bertayub di balik awan. Bahwa bagiku, mimpi bukan hanya sekadar kembang tidur, melainkan sebuah perlambang. Entah perlambang tentang keelokan atau hal sebaliknya, sebuah kemalangan.

Malam itu Biyung kehilangan kesadaran. Para medis berusaha mempertahankan nyawa Biyung yang berada di ujung tanduk. Dengan hati patah aku menelepon kedua kakakku. Suara di seberang terdengar putus-putus. Aku berusaha menyampaikan kabar lara itu seterang mungkin. Suara Wikan terdengar gugup, dan dia berjanji akan segera datang esok. Nastiti beda lagi, dia memekik tertahan, lalu terisak. Secepatnya dia mengusahakan kepulangannya.

“Segera kemari, tengoklah Biyung. Jangan sampai terlambat.” Dadaku terasa sesak ketika menyampaikan kalimat itu.

Setelahnya aku merasa hampa. Di ruang tunggu rumah sakit yang senyap, aku hanya merasakan penyesalan, kenapa kemarin-kemarin aku tak bisa membantu menyelamatkan Biyung dari kesepian. Seorang penari seperti Biyung yang selalu dikelilingi murid-murid tarinya dan hentakan-hentakan suara gamelan, bukan berarti tidak bisa disekap kesepian. Mungkin, penyesalan itu nantinya juga akan mendera kedua kakakku.

Tiba-tiba suara Bapa seolah-olah terdengar di telingaku. Tembang macapat Maskumambang terdengar: Kelik, kelik, biyung sira ana ngendi. Sambat welas arsa. Awakku kecemplung warih. Gelagepan wis meh pejah… (Nak, Nak, ibumu ada di mana. Memohon belas kasih pemilik hidup. Badanku masuk ke dalam air. Sulit bernapas hampir mati…)

Suara Bapa yang mendengung di telingaku tak ubahnya halusinasi. Tapi lepas mendengar tembang macapat itu, aku menangis tersedu. Belum siap aku melihat Biyung menari di atas awan. Belum siap aku melihat Biyung menari hanya di dalam mimpi. ***

 

Catatan:

Bapa = Bapak

Biyung = Ibu

 

ARTIE AHMAD lahir di Salatiga, 21 November 1994. Beberapa cerpennya terhimpun di beberapa buku antologi. Dua novelnya terbit tahun lalu.

Advertisements