Cerpen Abu Rifai (Suara Merdeka, 26 November 2017)

Sukarni ilustrasi Hery Purnomo - Suara Merdeka
Sukarni ilustrasi Hery Purnomo/Suara Merdeka

Namanya tak ada di buku-buku pelajaran, tak juga di daftar pahlawan nasional, bahkan mungkin tidak di batu nisannya. Namun hingga kini namanya tetap harum.

Nama sederhana itu tak disertai makna indah atau gelar kehormatan. Sukarni, itulah nama perempuan cantik berkulit kuning langsat yang tinggal di sebuah desa kecil di Blora. Orang-orang menjuluki dia kembang desa.

Dia tak hanya cantik, tetapi juga sopan, tak banyak bicara, penurut, dan penyayang. Hampir semua orang di desa tergila-gila. Para lelaki ingin meminang Sukarni menjadi istri. Mereka dari berbagai latar belakang, menawarkan uang, tanah, perhiasan, hingga nyawa.

Tentu cuma seorang yang beruntung. Dia lelaki biasa, tidak kaya, tidak rupawan. Namun dia tangguh, pekerja keras, dan menyayangi Sukarni sepenuh hati. Dialah Kasdi, sahabat Sukarni sejak kecil.

Mereka pun menikah dengan mas kawin sebuah cincin tembaga. Cincin yang Kasdi peroleh dengan keringat, cincin yang memunculkan segores senyum Sukarni saat memakai. Walau sederhana, pernikahan mereka berjalan khidmat.

Alam pun tampaknya merestui, sehingga kemarau berubah menjadi musim hujan seminggu setelah mereka menikah. Tak ada hari tanpa hujan mengguyur. Keadaan itu menyenangkan bagi Kasdi dan Sukarni. Mereka bisa menghabiskan waktu di kamar. Setiap jengkal tanah di rumah pun menjadi ranjang berbulan madu. Ah, betapa bahagia mereka.

Namun kebahagiaan itu hanya bertahan sebentar. Pada minggu ketiga pernikahan, Kasdi pamit pergi ke kota untuk menjual hasil ladang. Dua hari setelah kepergian Kasdi, pasukan Belanda memasuki kampung.

Para serdadu bertubuh besar itu bersenjata lengkap. Tak seorang pun warga berani melawan. Para serdadu leluasa bertindak apa saja; keluar-masuk rumah penduduk, tak terkecuali rumah Sukarni.

Lima orang tentara Belanda memasuki rumahnya. Mereka menjumpai Sukarni yang gelisah. Kegelisahan itu tertangkap mata para serdadu. Mereka senang karena itu berarti bertambah lagi pribumi yang tunduk. Senyum mereka melebar ketika melihat wajah cantik Sukarni.

“Cantik, dia cantik,” bisik serdadu berkumis tebal kepada rekannya.

Rekannya mengangguk setuju. Dengan langkah tak sabar, mereka mendekati Sukarni.

“Kamu cantik!” ucap seorang prajurit.

Sukarni diam, gemetar.

“Kamu harus menghibur kami,” lanjut prajurit itu sambil menarik Sukarni dari kursi. Teman-temannya membantu, lalu mereka pun memerkosa Sukarni ganti-berganti.

Di antara tawa dan desah mereka, Sukarni menangis menggerung-gerung. Tubuh dan batinnya terluka.

“Lain kali kami ke sini lagi, Cantik! Ha-ha,” ucap seorang serdadu.

Sukarni menangis tak henti-henti. Dia menyeru-nyeru nama sang suami. Sukarni ingin menangis di pelukan Kasdi, menceritakan kebiadaban yang baru saja terjadi. Namun juga takut Kasdi tahu dia tak lagi suci. Pedih, hati Sukarni pedih.

Dua hari kemudian Kasdi pulang. Awalnya Sukarni tak menceritakan soal pemerkosaan oleh serdadu Belanda. Ia takut suaminya pergi dan dia makin terguncang. Namun karena tak ingin terus-terusan membohongi Kasdi, dia pun bercerita.

“Begitulah, Mas…,” lirih suara Sukarni sambil terisak-isak.

“Bajingan! Kubunuh mereka semua!” teriak Kasdi.

Lelaki itu berlari keluar rumah sambil menggenggam parang. Sukarni mencegah, tetapi tak ia pedulikan. Kemarahan Kasdi meluap dan hanya bisa reda bila melihat serdadu yang memerkosa sang istri mati mengenaskan. Kasdi bisa membunuh seorang serdadu dan melukai dua orang lagi. Namun dia tewas, tertembak kepalanya.

Kabar tewasnya Kasdi sampai ke telinga Sukarni. Perempuan itu kini makin tak berdaya. Semua telah menghilang: kehormatan dan cinta. Batin Sukarni memedih, jiwanya makin terguncang. Apalagi setelah kematian sang suami, serdadu Belanda makin sering datang ke rumah.

Awalnya Sukarni pasrah. Ia kehilangan gairah hidup. Beberapa kali dia hendak bunuh diri. Namun suatu hari, ketika mengingat kematian sang suami, dia membuhulkan tekad untuk balas dendam.

Sukarni memikirkan cara untuk melawan serdadu Belanda. Karena tak mungkin berkelahi, dia memanfaatkan kecantikan dan tubuhnya. Sukarni pun makin rajin bersolek. Dia tak cuma membedaki wajah, tetapi juga melumuri tubuh dengan racun mematikan. Dia meracik racun tak berwarna dan tak berbau itu berdasar resep mendiang sang nenek. Jika racun itu terjilat bakal mematikan atau setidaknya membuat sang penjilat sakit berbulan-bulan.

Suatu malam, dia merias diri begitu anggun. Dia mengenakan kebaya paling bagus dan parfum paling wangi. Sukarni duduk di ruang tamu, menembang. Ketika para serdadu datang, dia membiarkan mata mereka menelanjangi tubuhnya. Mereka, para bangsat itu, terperangkap jebakan yang dia buat.

Rencana demi rencana pun ia lakukan. Ia kini rajin menggoda pasukan Belanda. Dan tepat seperti rencananya, para pemuja berahi itu pun masuk ke dalam jerat.

“Nikmati tubuhku, Setan! Nikmati! Jilat semua racun itu! Matilah kau, matilah!” Begitulah batin Sukarni setiap serdadu Belanda menggagahi tubuhnya. Sekarang tak ada lagi rasa sakit atau hina, yang ada hanya desah perjuangan.

Peristiwa tempo hari agaknya jadi titik balik kehidupan Sukarni. Dulu ia pendiam, sekarang liar. Dulu ia wanita yang pasrah, sekarang ia melawan.

Perlahan-lahan perlawanan itu pun membuahkan hasil. Banyak serdadu Belanda mati keracunan, sebagian sakit parah. Hari demi hari para prajurit yang datang menyurut. Ia pun bosan, merasa kehilangan tantangan.

Karena tak lagi banyak mangsa dan untuk menghindari penyelidikan, Sukarni memutuskan hengkang ke pusat kota. Sekarang tujuan dia bertambah: semula hanya membunuh pasukan Belanda, sekarang mengorek informasi sebanyak mungkin. Sukarni kini jadi sekspionase.

Pelan-pelan dan sembunyi-sembunyi Sukarni mengajak penduduk melawan, tentu dengan jalan berbeda. Ia membujuk para pemuda mengangkat senjata. Ia juga membagikan sebanyak mungkin informasi dari sekspionasenya.

Sukarni barangkali memang berjuang, tetapi karena melalui jalan asusila, selalu ada yang mencemooh. Namun Sukarni bergeming. Ia masa bodoh. Orang-orang boleh mengangkat parang, tombak, atau bambu runcing. Dia berhak menggunakan senjatanya sendiri.

Setelah cukup lama di kota, Sukarni berjumpa pemimpin pasukan tingkat kota, Van Brown. Itu bukan nama asli, nama samaran entah karena alasan apa. Ia melancarkan aksi seperti biasa. Kini dia memakai cara lebih halus, tanpa olesan racun ke tubuh. Dia lakukan itu semata-mata untuk mengorek sebanyak mungkin informasi dari Van Brown.

Berbekal kecantikan dan keterampilan berbahasa Belanda pasaran, Sukarni cukup mudah menaklukkan hati Van Brown. Lebih tepatnya menaklukkan nafsu berahi lelaki itu. Dia berhasil memperoleh banyak informasi. Dia bagi info itu kepada rekan-rekan seperjuangan di kampung.

Setelah merasa cukup memperoleh informasi dan muak pada mulut buaya Van Brown, Sukarni berencana membunuh dengan racun seperti dulu. Dia berhasil! Dia puas. Menang. Namun dua hari setelah keberhasilan itu, Sukarni ditangkap. Identitasnya sebagai pembunuh sekaligus sekspionase terungkap.

Sukarni terciduk. Dia diborgol dan dibawa pergi entah ke mana. Sukarni lenyap, seolah-olah tak pernah ada di bumi ini.

Berbulan-bulan setelah itu, rekan-rekan seperjuangan di kampung akhirnya tahu dia telah ditangkap dan tak mungkin bisa keluar dari cengkeraman Belanda.

Mereka bersedih. Seorang pelawan sudah pergi dan tak akan kembali. Untuk mengenang dan menghormati perempuan itulah mereka mengukir namanya di hati masing-masing. Mereka menceritakan kisah patriotiknya kepada anak-cucu.

Namanya memang tak ada di buku pelajaran, tak juga di daftar pahlawan, bahkan juga tidak di batu nisannya. Nama sederhana itu tak punya makna yang indah atau gelar kehormatan. Namun nama itu akan selalu dikenang, dihormati, segenap orang. Kisahnya akan abadi. Perlawanannya tak akan pernah mati. (44)

 

Sekaran, 10 Oktober 2017: 19.59

Abu Rifai, mahasiswa Sastra Inggris Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang

Advertisements