Puisi-puisi Ahmad Yulden Erwin dan Iyut Fitra (Kompas, 25 November 2017)

”Les Oignons” ilustrasi Isabelle Fournier Perdrix - Kompas
”Les Oignons” ilustrasi Isabelle Fournier Perdrix/Kompas

Semesta Karatsu

 

1/

Tak ada kilat atau tanda api

Kecuali hangus pasir

Atau cemas yang lingsir

 

Saat kutatap prana berayun di dinding

Cawan itu, sebelum percik dingin

Bermain dalam mataku, menduga-duga

 

Taksa pada rumpun bambu

Atau padang yang jauh, tentu,

Kau tahu, waktu bisa setipis embun

 

Atau haru yang rimbun, tetapi kita

Tak mampu menolaknya, semesta hadir

Bahkan dalam sebulir pasir, dan semua

 

Akan berakhir tepat ketika kita membuka mata

 

2/

Penafsir Tua, dulu kau pernah berkata

Dunia adalah mimpi di kala jaga, dan kami

Hanyalah bagian dari mimpi lainnya

 

Namun di sini, kami percaya, dunia tak lain fakta

Atau semacam permainan tanda, atau sekadar

Temaram cahaya, jadi siapa sebenarnya

 

Kami ini, Penafsir Tua? Apa sebenarnya mimpi ini?

 

3/

Sayang, apa benar kita masih terjaga?

 

4/

Misalnya cawan ini adalah mimpimu

Misalnya cawan ini adalah hatimu

Siapa yang akan diam-diam menyentuhmu?

 

Kami akan pergi malam ini, dan kau akan

Kembali ke lubuk mimpimu, gemetar

Menatap serbuk matcha di dasar cawan itu

 

Misalnya puisi ini tak lain cawanmu

Misalnya puisi ini tak lain hatimu

Siapa yang akan diam-diam menafsirmu?

 

5/

Sekarang kita tak perlu lagi bermain jigsaw

Atau menduga siklus cemas itu lahir dari

Jejak lampau, meski di bawah kilau parafin

 

Maut bisa tiba-tiba hadir dan menyentuh

Sepasang ruas bambu pada dinding cawan itu

Hingga kita mendadak yakin di luar sisa haru

 

Tinggal kirab angin, atau mungkin takdir

Yang lain, tepat saat murai kuning itu hinggap

Di ranting kaliandra, sebelum kita tertawa

 

Dan mendadak terjaga dalam mimpi lainnya

 

Pintu

 

Ada

satu

pintu,

bila dibuka, diriku

akan ikut terbuka.

 

Ada

satu

pintu,

bila ditutup, diriku

akan tetap terbuka.

 

Ada

satu

pintu

dalam diriku.

 

Jalan Lain Musashi

 

1

Berkerut kening Daruma

Menatap sepasang angsa

Termenung di sisi telaga

 

2

Patung dewa pedang

Memandang angkasa –

Tersenyum pada musuhnya

 

3

Buddha tertawa

Menatap pralaya

Dua ayam jantan

 

4

Burung pingai tertancap pedang

– Sebuah lukisan tinta, tertanda

Fudo Myo-o (dewa pedang) –

 

5

Ia letakkan pedangnya

Ia raih kertas, kuas, dan tinta –

Pelikan menatap angkasa

 

Kecambah

Kau

telah tumbuh

di lembah tertinggi,

kau telah luruh

ke puncak terdalam,

kecambah! kecambah!

tumbuhlah, tumbuhlah,

biarkan daunmu

menyentuh tungku matahari,

biarkan kau terbakar,

biarkan kau tinggal abu,

dan dari abumu

tumbuh kembali

kecambah baru,

biarkan

kini

akarmu

menjulur                     menggali

tanah gembur waktu

l

a

l

u

dari tangkai mungilmu

menyulurlah semesta baru:

sehelai bulu lenganku.

 

Ahmad Yulden Erwin lahir di Bandar Lampung, 15 Juli 1972. Ia telah menerbitkan kumpulan puisi Perawi Tanpa Rumah (2013) dan Sabda Ruang (2015).

 

Orang-orang Bukit Tui

 

dalam lingkup kabut. ia bukan orang selatan

yang memecah dan membakar batu kapur

antara rao-rao hingga tanahhitam. udara bercampur sengat asap

“inikah bukit tui?”

ia lihat wanita-wanita perkasa menantang peluh

barisan laki-laki penambang tak akan pulang sebelum petang

berjuang di antara lapar dan sesak napas

lembab gerimis tak reda-reda

 

ketika hujan tumpah ruah. ia tak sedang di telaga

tapi tahun 1987. bulan ramadhan yang menggamit lebaran

tanah bergulingan dari puncak bukit

pohon-pohon menghalau rumah-rumah dan sawah

lalu orang-orang bercerita di lepau-lepau

di lapangan bahkan surau

tentang seorang kakek tua yang berkunjung sebelum senja

tentang para pejudi yang tiada peduli tinggi hari

tapi ia hanya melihat bayangan cukong-cukong kayu yang bergegas

juga para penebang yang tertawa

 

ia bukan pencari pakis dan rotan

tapi ia melihat di utara tambang tak lagi ada

orang-orang bukit tui meninggalkan kampung entah ke mana

meninggalkan bukit cinta

 

Payakumbuh, 2017

 

Alor dan Gadis-gadis Takpala

 

matahari bersengat gagah. kemarau memang selalu panjang

sungai-sungai kering dan sempit. melagukan musim berbeda rupa

seolah kisah dua raja yang tercebur ke dalam perang magi

di mana angin topan bergulung-gulung dari pedalaman pegunungan alor

lebah berdengung-dengung dari ujung timur pulau pantar

mengitari sudut-sudut abui dan munaseli. hingga ada pedang yang tercampak

“selalu ada yang kalah! selalu ada yang disimbah darah!”

orang-orang bersorak meratapi kehilangan

orang-orang menekuri kemalangan

 

tapi di takpala. gadis-gadis terus menari

sebelum masuk ke hutan-hutan

menyerahkan hidup pada pencarian

lihat. rentak kaki dan riuh tetabuhan menyambut kedatangan

moko bertingkahan mengiring kaki-kaki mungil berlingkaran

“ayo menari. marilah menari

lego-lego kita mainkan sebelum hari dijemput malam!”

sejenak mereka lupa cerita-cerita hasil hutan

mereka lupakan pula jalan-jalan tanah serta pendakian

 

lalu segala susut. waktu setia beringsut

alor pun berjalan menuju masa depan

 

2017

 

Anak-anak Pukat

 

apa daya si tukang pukat

biduk tersorong air laut kering

 

lagu orang pantai. gemanya pecah di bibir buih

sepanjang pesisir

anak-anak berkulit kelat melawan matahari. anak-anak pukat

yang tak letih menjala-jala hari

sekian depa jaring terkembang. sebegitu pula kadang nasib terjerat

tebuslah peluh demi pembayar utang

lepau nasi. juga teh kopi barang segelas

tapi rantau pariaman adalah cinta pada laut

seasin-asin garam. sekuat terjang pasang

orang-orang tak mengaku kalah pada ombak ataupun gelombang

 

anak-anak yang bermimpi jadi nakhoda

turun ke bandar-bandar

air bangis, sibolga, bahkan ke ujung singkil

perahu dan pincalang penuh barang

menyinggahi pekan dan harapan

sementara di pantai panas sengat tak redup-redup

entah bila rasian itu akan tiba

 

anak-anak yang besar dari kaba

dari teluk singalai tabang papan

bidurai putih menghela empat putri

jelita yang lahir dari kebun dan tambang

tapi laut segera beriak. “nan tongga, nan tongga…!”

suara angin berkeriuhan. semisal riuh tabut diarak-arak

“mana kapalmu? usirlah panglima yang datang!”

 

pantai sepi. pantai tak mati

anak-anak pukat

tak pernah takut pada siang terpanggang

bahu yang melepuh

juga pada topan malam datang

 

2017

 

Iyut Fitra lahir di Payakumbuh, Sumatera Barat. Lelaki dan Tangkai Sapu (2017) adalah buku puisi mutakhirnya.

Advertisements