Puisi-puisi Ardy Priyantoko (Kedaulatan Rakyat, 26 November 2017)

Pareidolia Hujan, Kereta Akhir September Basah, Dieng ilustrasi Google.jpg
Pareidolia Hujan, Kereta Akhir September Basah, Dieng ilustrasi Google

Pareidolia Hujan

 

Aku tidak percaya

jika hujan lekat dengan kenangan

dan ingatan-ingatan tentang masa lalu.

 

Bagiku, hujan adalah wujud lain dirimu.

Yang pada setiap rinai dan kecipaknya

dapat menerjemahkan wajah tirusmu.

 

Jejak Imaji, 2 November 2017

 

Kereta Akhir September Basah

 

Sekitar Lempuyangan, deret kaki lima begitu ramai

orang lalu lalang datang kemudian pergi,

musik dangdut, koplo, campursari tidak mati-mati.

 

Ini sekian kali kulewati jalan yang terburu-buru,

sesak gelisah, dan sedikit senyum pura-pura.

 

Pada akhir September basah yang sesekali memerah

sebelum kereta melintas di tepi jalan yang resah,

waktu tetap menggulir sebagaimana degup dada berdesir.

 

Di salah satu sudut simpang palang pintu kereta

anak-anak putus sekolah berlarian,

menghitung gerbong yang berlepasan.

 

Mereka tertawa, menyelipkan impian

ke dalam saku celana yang berlobang,

ke dalam kecemasan yang melaju

secepat lintas kereta menuju stasiun selanjutnya.

 

Jejak Imaji, September 2017

 

Dieng

 

Sebentang jalan memanjang.

 

Aroma pupuk kandang dan belerang

seperti kasihku padamu, kangenku.

Tak akan hilang meski embus angin

secepat detik waktu yang terburu.

 

Kesiur pohon dan sayur mayur

tak akan sunyi, meski musim banal

bikin panen gagal dan petani sebal.

 

Kangenku padamu, kasihku

merawat segala yang hangat,

sedang dingin, adalah ihwal

yang membikin kita tetap terjaga.

 

Jejak Imaji, Oktober 2017

 

 

*) Ardy Priyantoko, lahir di Wonosobo 19 Desember 1992. Bergiat di Jejak Imaji dan Komunitas Sastra Bimalukar. Mengabdi di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta.

Advertisements