Cerpen Faris Al Faisal (Padang Ekspres, 26 November 2017)

Mayura ilustrasi Orta - Padang Ekspres
Mayura ilustrasi Orta/Padang Ekspres

GADIS kecil itu terus berlari menerobos perlintasan kereta yang sedang ramai, mengejutkan beberapa pengendara mobil dan motor yang tengah melintas, sehingga membunyikan klakson berkali-kali.

“Cari mati kamu!” maki seorang pengendara mobil yang hampir saja menabraknya.

“Setan kecil!” gerutu pengendara lain yang hampir jatuh karena mengerem paksa motornya, demi menghindari menabrak gadis itu.

Bocah kecil itu tidak mempedulikannya, ia terus berlari menyusuri jalur rel menuju sebuah jembatan kereta yang kanan dan kirinya berdiri rumah-rumah kumuh. Keracak hujan sepertinya tak menyurutkan langkah kakinya yang tanpa alas kaki itu. Mayura ingin segera sampai ke tempat tinggalnya untuk memastikan bahwa ayahnya yang sedang sakit itu tidak terbawa arus sungai yang selalu meluap bila hujan turun.

Mayura dan ayahnya, sudah tiga tahun ini menempati kolong jembatan kereta, setelah rumah sengnya di bantaran sungai terkena normalisasi sungai oleh Pemda setempat. Karena mereka menempati bangunan liar, tak serupiah pun uang gusuran diterima. Keluarga Mayura kemudian migrasi ke tempat yang tidak lebih baik dari semula. Tinggal di kolong jembatan kereta, yang setiap kali hujan turun, mereka harus segera mengangkut barang-barang berharganya ke atas jembatan. Barang berharga itu tidak lain adalah hasil pulungannya yang belum dikilokan.

Semula Mayura tinggal berempat bersama ayah ibu dan adiknya yang masih balita. Namun peristiwa tragis memporak-porandakan keluarga yang memang sudah berantakan dari sisi kehidupan sosial, ekonominya dan budayanya. Adik lelaki Mayura yang ditinggal pergi memulung oleh ayah dan ibunya hanyut saat air sungai meluap. Mayura sendiri lalai dalam menjaga adiknya karena ia sendiri ikut terbawa arus namun sebuah tiang penyangga jembatan kereta dapat diraihnya sehingga ia dapat bertahan dengan berpegangan tangan pada lenganlengan penyangga jembatan. Mayura dapat diselamatkan karena ayahnya datang ke kolong jembatan pada saat ia sendiri merasa akan terbawa arus sungai yang begitu deras. Dengan perasaan kelam ayahnya berteriak-teriak histeris mencari adik Mayura yang ikut tenggelam.

Peristiwa tragis itu membuat Ibu Mayura meninggalkan suaminya yang dianggap tak becus menjadi kepala rumah tangga. Tak mampu memberikan penghidupan yang layak sebagaimana tugas kepala keluarga. Tak ketinggalan istrinya juga memaki-maki pemerintah yang bukannya membantu masyarakat kecil seperti mereka, malah yang ikut serta memiskinkan orang-orang menjadi lebih fakir lagi. Ayah Mayura terpukul dengan kepergian istrinya. Dalam enam bulan kesehatannya menurun drastis. Ia sering sakit-sakitan tanpa mendapatkan pertolongan obat dan tenaga medis. Sebagai pendatang kota yang diharamkan kedatangannya, ayah Mayura bersama jutaan urban lainnya sering menjadi buronan Satpol PP.

Sesampainya di jembatan kereta, Mayura menuruni bantaran sungai, tangannya menyibak-nyibak ilalang yang kuyup karena hujan dan mendapati tempat ayahnya berbaring telah diluap air sungai yang kian meninggi.

“Ayah… ayah….,” teriak Mayura panik, matanya terus menjelajah air sungai yang bergelora melibas tempat tidurnya yang merupakan tumpukkan kardus bekas dan koran-koran ibu kota yang tak pernah memberitakan duka cita orang-orang pinggiran.

Tak sepotong pun sahutannya dibalas ayahnya, kecuali suaranya sendiri yang menggema dipantulkan kolong jembatan kereta yang mulai gelap dan pekat. Mayura menangis meratapi ayahnya, ia bersimpuh dengan lutut berlumuran lumpur bantaran sungai yang makin tergerus air hujan. Tangannya memerah karena meremas daun ilalang yang tajam. Mayura terkulai di tempatnya.

“Mayura, Mayura.” Sebuah suara yang sangat lemah menyeru namanya dari bawah pohon ketapang yang rimbun, berjarak lebih kurang sepuluh meter darinya.

Mayura menghambur ke arah suara itu, memeluk lelaki kurus yang rambutnya kusut dan sudah ditumbuhi beberapa helai uban. Lelaki itu tengah berkerodong sarung. Tampak di sampingnya sebuah buntalan beberapa potong baju, yang rupanya itu harta yang masih bisa diselamatkan dari air bah tadi.

“Syukurlah ayah masih selamat.”

Lelaki itu mencoba tersenyum, sekali pun ia tahu hidupnya tak pernah bahagia. Mayura terperanjat saat tangannya menyentuh kening ayahnya.

“Ayah demam?”.

“Tidak, Nak, ayah baik-baik saja.”

Tetapi Mayura tahu ayahnya telah berbohong hanya untuk melihat dirinya agar tidak cemas. Mayura diam-diam mengagumi sosok lelaki di depannya.

“Kita kehilangan kompor dan beras,” kata ayahnya sedih. “Malam ini kita tidur tanpa makan malam.”

Malam itu Mayura dan ayahnya tertidur sambil berpelukkan melawan dinginnya udara malam dan gerimis hujan yang belum juga mau reda di bawah pohon ketapang di dekat bantaran sungai di bawah jembatan kereta. Sesekali bunyi kereta yang melintas di jembatan membangunkan tidur keduanya, lalu mereka pun terlelap lagi dengan tetap berpeluk kasih dan sayang.

Esoknya, Mayura bangun lebih awal dari ayahnya dan lebih pagi dari kereta pagi yang selalu melintas di atas jembatan itu. Ia bangkit dengan perlahan dan melepaskan pelukkan ayahnya dengan hati-hati. Tangan lelaki itu tetap saja merengkuh, sehingga Mayura terpaksa menggelosorkan tubuhnya agar bisa lepas dari dekapan ayahnya. Pagi masih gelap sehingga Mayura tak bisa melihat ayahnya dengan jelas.

Di stasiun, Mayura mengais-ngais isi tong sampah untuk memulungi barang bekas. Beberapa benda ia kumpulkan dengan sebuah karung dan pagi ini ia merasa beruntung menemukan tiga buah lontong bekas penumpang kereta api yang dibuang ke dalam tong sampah tersebut. Saat akan menyisir beberapa tong sampah lain petugas stasiun keamanan stasiun mengusirnya.

Setengah berlari Mayura segera menyelinap ke sela pagar stasiun yang memang masih memungkinkan untuk tubuhnya berkelit dari uberan petugas, sementara karung yang berisi barang bekas itu ia lemparkan keluar pagar terlebih dahulu. Perlakuan seperti itu memang sudah tidak lagi membuat Mayura sakit hati. Entah bagaimana hatinya terbentuk, sehingga ia kebal dengan orang-orang tak lagi memiliki rasa sosial.

Di jalanan kota, Mayura menyaksikan beberapa anak seusianya berpakaian merah putih lengkap dengan tas dan sepatunya, dibonceng orang tuanya dengan sepeda motor atau pun naik mobil pribadi. Mayura berkaca-kaca, hatinya menjerit. Ia tak pernah mencicipi rasanya duduk di bangku sekolah dengan gelimang ilmu dan pengetahuan.

Kesedihannya mendadak berhenti saat matanya melihat sebuah dompet perempuan muda berbaju safari, yang melintasinya jatuh dari tasnya yang tak tertutup rapi. Dompet itu tergeletak persis di depannya. Mayura melirik ke kanan dan ke kiri. Jalanan sepi. Hatinya gamang, antara mengambil dompet itu ataukah mengembalikannya. Tiba-tiba ia teringat ayahnya yang sedang sakit dan butuh pengobatan. Mayura memegang perutnya karena sejak sore tadi mulutnya belum tersentuh sepotong makanan pun untuk mengurangi rasa laparnya. Tangan Mayura sudah menyentuh dompet itu, ia memasukkannya ke dalam karung. Matanya masih memandang perempuan tadi dengan rasa bersalah.

Di dalam karung, dompet itu dibukanya. Mayura terbelalak karena tersembul beberapa uang seratus ribuan dan lima puluh ribuan yang tidak sedikit. Nampak pula beberapa buah kartu berjejer rapi yang Mayura sendiri tidak tahu apa fungsinya. Tiba-tiba Mayura teringat pesan ayahnya untuk tidak pernah memulung barang yang bukan dibuang di tong sampah, karena perbuatan itu dapat terkategori mencuri atau mengambil milik orang lain, sekali pun tergeletak di jalan.

Mayura berlari mengejar perempuan itu yang mulai memasuki halaman sebuah kantor Bank. Karung yang di gendongnya telihat terpontal-pontal. Beberapa pengguna jalan yang melintas menengok ke arahnya.

“Bu, ibu…,” seru Mayura dengan gugup.

Perempuan muda itu membalikkan badannya yang sangat indah menurut penilaian anak kecil sekali pun. Ia mengkerut melihat gadis kecil pemulung mendekatinya. Tangannya yang putih segera merogoh sesuatu dari tasnya, tetapi ia terkejut seperti merasa ada sesuatu yang tidak tersentuh oleh jemarinya.

“Ini dompet ibu. Tadi saya lihat jatuh.”

Dengan perasaan terkejut, perempuan itu tersipu. Tadinya ia akan memberikan uang receh kepada gadis pemulung itu tetapi yang terjadi justru sebaliknya.

“Iya benar, Nak, itu dompet ibu.”

Mayura tersenyum lalu meninggalkan perempuan itu yang masih ternganga tak percaya dengan pandang matanya. Butuh beberapa detik untuk perempuan itu pulih dari kesadarannya.

“Nak, Nak,” perempuan itu mengejar Mayura. “Ini, Nak, sekadar ucapan terimakasih ibu.”

Dua lembar uang seratus ribu ia keluarkan dan disodorkan kepada Mayura.

“Tidak usah, Bu, ayah saya mengajarkan untuk ikhlas menolong orang,” Mayura melangkah meninggalkan perempuan itu yang makin bertambah ternganga dengan kebersihan hati anak kecil seusianya.

“Sebentar, Nak! Terimalah, ibu ikhlas memberikannya,” sembari uang itu dilekatkan di genggaman Mayura.

Mayura terdiam. Perempuan itu menganggukkan kepalanya lalu tersenyum meninggalkannya.

***

Mayura bergegas kembali ke bantaran sungai dekat jembatan kereta. Ia baru saja membelikan obat demam dan sebungkus nasi uduk dengan lauk ayam goreng untuk ayahnya. Mayura sendiri akan makan lontong yang ia temukan di tong sampah stasiun. Sementara sisa uang yang diberikan perempuan muda tadi akan dijadikan simpanan jika sewaktu-waktu hasil memulungnya tidak beruntung, maka dapat ia pergunakan untuk membeli makanan.

Pagi itu tak seperti biasanya. Jalan menuju jembatan kereta dikerumuni lelaki dan perempuan serta anak-anak. Tampak beberapa petugas seperti ikut membaur di tengahnya. Mereka sedang melihat-lihat ke arah bantaran sungai di bawah pohon ketapang.

“Ayah.”

Seketika Mayura teringat tempat yang dipenuhi orang-orang itu adalah letak ayahnya tertidur. Gadis kecil itu meletakkan karung yang berisi barang bekas ke tepi rel kereta lalu berlari menerobos kerumunan orang-orang. Seorang lelaki tampak meringkuk dengan kedua tangannnya seolah-olah sedang memeluk, sedang merengkuh, mirip saat pagi tadi ia dengan hati-hati meloloskan tubuhnya dari dekapan ayahnya itu.

“Ayah, ini Mayura datang membawa sarapan pagi dan obat. Ayo bangun ayah, nanti ayah pasti sembuh,” berkali-kali Mayura menyeru, memeluk-meluk dan membangunkan ayahnya.

Akan tetapi lelaki itu tetap diam. Orang-orang terenyuh menyaksikannya. Seorang petugas mendekati Mayura dan membujuknya dengan sangat halus.

“Ayahmu sudah tenang dipelukkan Tuhan. Ikhlaskan saja ya, Nak, agar ayahmu segera menuju surganya,”

Mayura kemudian jatuh terkulai. (*)

 

CATATAN

Untuk halaman ini, redaksi menerima cerpen. Redaksi juga menerima bahan ceria dengan mengirimkan foto disertai dengan narasi seperti ceria yang sudah dimuat. Redaksi berhak mengedit karya tanpa bermaksud mengubah isi. Kirim ke email: ceriapadek@gmail.com

Advertisements