Cerpen Anggi Nugraha (Media Indonesia, 26 November 2017)

Matinya Sang Penulis ilustrasi Pata Areadi - Media Indonesia.jpg
Matinya Sang Penulis ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

Kisah ini bermula di penghujung musim dingin. Saat bunga-bunga violet mulai kembali bermekaran di kota Tavuliaprovinsi Presaro, Italia. Di satu hari yang cerah di dermaga Venesia, Armanno Arrigo kehilangan cintanya.

“Berjanjilah untuk kembali!” teriaknya pada sang kekasih, tak lama setelah perempuannya itu menginjakkan kakinya di sebuah kapal yang hendak berlayar menuju Cina.

Dari ratusan orang yang melambai-lambaikan tangan, kekasihnya itu menjadi satu daripadanya. Semakin lama, lambaian itu terlihat semakin mengecil. Dan akhirnya benar-benar menghilang. Sedangkan Armanno masih saja mematung. Seketika saja ia merasa, seperti ada yang mengalir deras melewati pipinya.

Namun itu semua dulu. Jauh sebelum kedatanganku ke rumah Armanno untuk bekerja sebagai pembantu. Demikianlah yang ia kisahkan padaku di waktu-waktu terakhirnya. Mungkin, karena tak lagi ia punya sanak saudara di Tavulia. Atau sebagaimana banyak para penulis yang bercumbu dengan kesunyian, Armanno, seperti menyadari, bahwa denganku, ia memiliki sahabat untuk berbagi.

Armanno memang seorang penulis. Meski pada saat itu, tak satu pun karya tulisnya dimuat di koran. Tak juga ada penerbitan yang berminat akan karya-karyanya. Bila malam, ia selalu membaca buku hingga larut. Saat pagi menjelang, adalah waktu terbaiknya untuk menulis. Tak lupa, sebuah Flat Cap usang berwarna abu-abu selalu saja ia kenakan manakala ia hendak menulis. Aku sempat bertanya padanya dulu ihwal ritual unik itu.

Advertisements