Cerpen Fransiska Eka (Bali Post, 26 November 2017)

Lima-Satu-Tujuh ilustrasi Citra Sasmito - Bali Post.jpg
Lima-Satu-Tujuh ilustrasi Citra Sasmito/Bali Post

Musim dingin tiba terlalu awal di Utara. Ia menyalahi jadwal. Orang-orang kembali lebih suka berada di balik selimut. Di kamar tidurnya masing-masing. Terra yang suka menari dan selalu membangunkanmu di pagi hari dengan cara menyanyikan lagu-lagu bertempo rimba, tiba-tiba selalu bangun terlambat. Kau menanyakan penyebabnya. Suaranya yang lengking burung pipit memberi jawaban tak senada. Ia katakan kalau ia sering sakit kepala di sebuah pagi. Di lain pagi, ia katakan kalau ia selalu sakit perut. Kau bosan sekali mendengar alasan yang sama diulang-ulang pada hari yang berbeda. Atau ia yang bosan sekali karena terpaksa menjawab pertanyaanmu yang tak perlu?

“Sahara, lakukan sesuatu yang lebih berguna daripada bertanya-tanya. Mempercepat laju Matahari yang terlalu lambat terbit, misalnya.”

Di atas meja makan ada selai cokelat. Isinya sudah separuh. Terra membuka tutupnya dengan tangan kiri. Ia ambidextrous; makan dengan tangan kiri, cebok dengan tangan kanan. Menulis dengan tangan kiri, melukis dengan tangan kanan. Kadang kau yakin, otak kanan dan otak kirinya berfungsi terbalik; ia membayangkan matematika dan merumuskan puisi. Ini membuatmu yakin bahwa Ia penulis puisi yang buruk sekaligus pelukis yang cerdik meniru Picasso. Salah satu lukisannya menempel di dinding ruang tamu apartemen nomor lima-satu-tujuh. Nomor apartemen kalian yang dijadikan judul cerita. Bagimu, lukisan berbentuk tubuh telanjang seorang lelaki yang seluruhnya terbentuk dari lingkaran dan tabung yang saling menindih dan berpotongan di sana sini nampak seperti permen yang bisa membikin lidahmu berwarna-warni. Permen yang kau gemari saat masih kelas lima SD. Kadang-kadang lidahmu biru. Kadang-kadang lidahmu merah. Sebelum menyesap permen itu kau suka menebak-nebak akan jadi apa warna lidahmu? Sebelum lagi-lagi melihat lukisan itu kau menebak-nebak, akan jadi warna apa lukisan itu di dalam kepalamu? Kadang ia biru. Kacau. Kadang ia merah. Membara. Kadang lukisan itu marah-marah ketika kau terserang insomnia dan matamu mulai menjelajahi ia seperti seorang pemburu yang tengah menelisik apakah hewan buruannya bertubuh lengkap atau cacat. Kadang ia membisu, membiarkan gemanya dicari-cari telingamu yang teliti.

“Di negeriku ada Singa dan Jrapah, dan Gajah dan apalagi ya? Oh, Madiba! Itu yang perlu orang-orang ketahui kan?”

Madiba yang tercinta. Terra menjilati selai cokelat dengan jari telunjuk kanannya. Matanya bundar lucu seperti kanak-kanak. Ia perhatikan lanskap di luar jendela. Putih dan berkabut. Salju turun, kalian murung. Ada dua pohon Oak di seberang jalan; sepasang kekasih abadi, menurutmu. Keduanya kini gundul bugil. Tupai-tupai yang sering bermain petak umpet di bawah naungan keduanya telah sembunyi. Betapa pada musim panas yang seperti baru sekejap lewat kau memekik girang! Hollyshit! Banyak sekali tupainya!

“Tapi di negeriku tidak ada dia! Look at him, Sa.”

Ia selalu disebut-sebut. Dua belas kali sehari di apartemenmu yang jika sedang ramai menjelma panggung sandiwara ribut. Lengkap dengan aktor dan aktris pendukung. Ashley, Kyle, Anna, Liza, Sarah, Brandon. Nama-nama asing. Dua nama terakhir adalah teman sekelasmu. Sarah percaya pada karma. Brandon percaya pada Alien. Kau percaya pada takdir. Kelompok kecilmu—kau, Sarah dan Brandon—kau beri nama Destiny’s Child. Sisanya, teman-teman Terra yang seluruhnya pirang lucu, kau beri julukan Be Group. Mereka gemar mengoceh. Juga menggilai dia yang namanya disebut dua belas kali sehari. Ia tinggi. Ia tegap. Ia atletis. Ia tampan. Ia cerdas. Ia fasih berbahasa Perancis. Ia membaca buku-buku filsafat. Ia pandai menulis puisi. Ia seorang pianis.

Kau mengingat fakta-fakta tentangnya meskipun hal itu membosankan sekali. Apa Terra tidak bosan ya? Lelaki itu tidak pernah sekalipun mengetuk pintu apartemen kalian; lima-satu-tujuh yang dijadikan judul cerita. Penghuninya dua orang perempuan. Yang seorang suka menari dan bergerak-gerak lincah seperti kucing betina yang sedang birahi. Yang lain lagi seseorang yang membenci gerak dan berjalan dengan gelisah seperti anak anjing yang kehilangan induknya. Lelaki itu juga tak pernah menelepon. Padahal kalian bertiga mengambil dua kelas yang sama di semester gugur ini.

“Kau ternyata ingin jadi penulis kan? Ey, latihan! Ceritakan sebuah kisah cinta dimana kami berdua menjadi tokoh utamanya. Yang berakhir bahagia. Dan, ingat…ia harus belutut di antara kedua lututku.”

Terra mengerling jenaka lantas tertawa. Kalian sering sama-sama bosan mendengar lenguhan tetangga di apartemen nomor lima-satu-empat, Mereka selalu bercinta gaduh tiap jam tujuh malam di hari Selasa. Suara si perempuan lancang sekali. Ia teriakkan Ah dan Uh yang panjang. Terra suka sekali menirukan Ah dan Uh seolah-olah ia sendiri yang bercinta. Sang Pianis itu ada di kepalanya.

Kau bosan sekali. Karena itu kau ucapkan saja sebuah cerita yang tiba-tiba muncul di kepalamu. Lelaki muda itu akan mengetuk pintu apartemen kalian. Tok.tok.tok. Tiga kali saja. Sebab Terra akan segera berlari menuju pintu. Ia bukakan pintu dengan segera. Lalu dikecupnya pipi sang pianis. Voila! Tiba-tiba, mereka sudah jadi sepasang kekasih.

Terra tertawa riang sekali. Ia jilati selai cokelat itu sekali lagi. Kau bosan sekali. Atau, ia yang sedang bosan ya? Padahal baru jam sembilan pagi.

“Oh..Look at that boy! Damn!”

Ia berjalan pelan-pelan. Jalanan memang licin sekali. Terra menjilat selai cokelat itu lagi.

Lirikan centil para perempuan yang sering dihadiahkan secara cuma-cuma ke arahmu tak lebih seperti seringai zombie dalam sebuah serial televisi. Kau tak menyukainya. Tapi para perempuan itu menggemarimu karena (menurut dugaanmu) mereka membaca artikel di internet tentang panjang kemaluan pria dari negerimu yang di atas rata-rata Temanmu, Vlad – yang bahasa inggrisnya terpatah-patah dan kulitnya pucat seperti Vampir, suka sekali menonton serial Zombie. Kau juga tak menyukainya, ia dan serial Zombie itu. Kau lebih suka mendengarkan cerita tentang Ukraina. Oh, negerimu sedang mengalami perang saudara itu. Ya. Ya. Di negerimu sendiri terjadi revolusi Arab Spring tujuh tahun lalu. Orang-orang turun ke jalan. Menuntut pemerintahan demokratis seperti di negeri ini. Ayah ibumu lebih dulu menjadi imigran ya? Oh, kau tinggal sendiri selama dua tahun ? Ya. Aku mengerti. Lalu bagaimana kucingmu bisa ikut ? Oh, jadi kau harus membayar biaya penerbangan lebih untuk mendatangkan Bella kemari ya ?

Kau angkuh sekali. Vlad juga selalu terlihat angkuh. Karena tulang pipinya tinggi, kau berdalih. Atau hidungnya yang runcing tipis ?

“Ada dua mahasiswa asing di Gedung seberang. Kukira mereka sekampus denganmu.”

Vlad jarang terlibat dalam usaha untuk memperhatikan manusia lain di sekelilingnya. Kau terkejut mendengar perkataannya. Jam delapan pagi lewat dua puluh menit. Sepagi ini?

“Sahara. Terra.”

“Yang berkulit cokelat Asia ?”

“Sahara.”

“Kudengar perempuan Asia manis, ramah.”

“Oh ya?”

“Informasi dari internet.”

“Wow! Riset.”

Vlad mengatakan sesuatu tentang pinggul besar, rambut hitam sewarna sayap burung gagak, kulit cokelat yang manis. Tetapi telingamu seperti didatangi tuli yang terpaksa hadir. Kau mendengar kata-kata soal kultur dan submisif. Kau tak suka. Ingatanmu seperti didatangi tamu yang tak mau pergi.

Ia menyapamu di Kafetaria kemarin pagi. Namanya adalah nama Gurun yang sering kau jelajahi. Matanya berkabut. Rambutnya digelung karena kusut. Tangannya memeluk setumpuk buku-buku. Hamlet. Matamu menangkap salah satu judul. Ia ucapkan hai yang buru-buru. Sepatu bootnya selutut. Jaket musim dingin yang ia pakai berwarna cokelat tanah. Tidak juga ia lepas jaket itu meski sudah di dalam ruangan. Mungkin karena lengannya sudah penuh memeluk buku-buku. Ia menyapamu di kafetaria kemarin siang, dan suaranya kini menggema dalam ingatanmu. Ia selalu berjalan menunduk. Tetapi kemarin ia menyapamu di Kafetaria dengan punggung tegak. Matanya menatap langsung ke dalam matamu. Ia berlalu buru-buru setelah kembali menunduk. Kau berbalik dan memperhatikan punggung itu. Yang seperti membungkuk. Ia duduk di salah satu meja yang letaknya paling sudut. Ia berteman lampu meja dengan sinar berwarna kuning keemasan. Ia lepaskan jaketnya. Ia memakai baju lengan panjang sewarna pasir putih di pantai. Dengan anggun ia sampirkan jaket itu di kursi sebelahnya. Lalu dia membuka halaman buku pada bagian yang nampaknya telah ditandai dengan sebuah lipatan di sudut bawah. Hamlet. Judul yang sempat ditangkap matamu. Matanya alpa menangkap tubuhmu yang dua kali melewatinya. Kau ingin menanyakan kabarnya setelah terakhir kali kalian duduk bersebelahan pada pertemuan mahasiswa internasional. Tapi lidahmu menjadi kaku, dan lututmu enggan menekuk untuk duduk. Kau putuskan melewatinya saja.

Vlad angkuh sekali. Ia sesumbar akan mampu mengajak perempuan itu minum-minum di musim dingin, orang-orang akan mudah merasa kesepian. Akan mudah. Terlalu mudah. Apalagi perempuan dari negeri tropis yang tak terbiasa menghadapi suhu udara yang terlalu dingin. Kau bergerak ke kamar mandi. Butuh lima belas menit untuk bersiap-siap pergi. Sepatu bootmu berwarna cokelat tanah. Jaket musim dinginmu berwarna hijau rumput musim semi, kau ingat meninggalkan apa yang kau sebut sebagai kostum itu di kamar mandi. Kau melihat wajahmu di cermin. Kau punya mata ibumu dan jakun ayahmu. Kau angkuh sekali. Ia menyapamu kemarin siang di kafetaria. Hai yang buru-buru. Lalu ia menunduk.

Kau melihat jam tanganmu. Jam sembilan pagi. Waktu yang tepat untuk bertamu ke apartemen seseorang yang sekampus denganmu. Kopi? Teh? Ia akan menawarimu minuman karena seperti itulah kebiasaan orang Asia, seperti yang juga kau baca dari beberapa artikel di internet. Kau akan mengetuk pintu. Tok.tok. Dua kali saja.

Dia tentu akan membukakan pintu lalu berkata, “Baru jam sembilan pagi, Muhammad. Kau mau minum kopi?”

Atau, ia akan mengatakan hai yang gugup dan menanyakan urusanmu. Kau mulai gugup. Mungkin kau akan berkata : Hai, aku cuma ingin memastikan kalau kalian tahu bahwa hari ini akan terjadi badai salju. Sebaiknya jangan kemana-mana.

Kau berjalan, menuju nama yang ingin kau jelajahi setiap aksaranya. Temannya menunjuk ke arahmu. Ia baru saja mengarang cerita tentang kau dan temannya yang tiba-tiba menjadi sepasang kekasih. Melihat sosokmu, ia mengetik sebuah kalimat di memo ponselnya;

Lima satu tujuh; pekan ketiga bulan November – tanah air adalah tubuh.

 

Penulis saat ini berdomisili di Ende

Advertisements