Puisi-puisi Mohammad Isa Gautama (Padang Ekspres, 26 November 2017)

Kopi Sebelum Kau Lupa, Luka Kata, Sangkar Bibir, dan Lainnya ilustrasi Google.jpg
Kopi Sebelum Kau Lupa, Luka Kata, Sangkar Bibir, dan Lainnya ilustrasi Google

Kopi Sebelum Kau Lupa

 

kekasih, akulah serbuk yang sabar dalam luka menyamar

setiap pagi runtuh, cintamu tak utuh

di gelas cawan

 

bulan bertengger, kopi mendingin

comberan meluap, drainase penuh

kenangan melibas, keinginan berpiuh

 

menyiram kepedihan

menimbun luka penguasa, kopi tersedu sebelum berkubur

di balik marka merekam kelu bohemian

 

memadatkan percumbuan, berita tergagap

TV tak pernah berjanji

kebun tempat kopi

 

adalah lapangan tempat anak-anak bermain bola

kecemasan para demonstran

merayap mencuri jadwal

 

di sela percintaan para pemangsa

lupa cara menyeruput kopi

adalah setiap pagi belajar kesetiaan

 

Padang, Desember 2016

 

Luka Kata

 

malam menyelusup ke ceruk terdalam jantungmu

ingin jadi burung yang terbang ke lembah diriku

kutolak, menukarnya dengan puntung kelu

 

lantas laron pun paham, kenapa setiap perhentian

adalah jurang yang menitipkan gelombang awan

tak henti bergerombol dalam topan

 

membiarkan jalan terentang ke gebalau arah, tanpa alarm

meski kau pancang demarkasi perpisahan

terus menggerus humus bagai lampion merawan

 

merasa hampa bersua, di jalan tanpa udara

 

luka tertambat di kapal lama

tempat seluruh jantung berhenti

menulis alamat kata

 

Padang, Desember 2016

 

Sangkar Bibir

 

kenapa tak pernah kau peluk aku dalam rekah bibirmu

bukankah sudah kuperkenalkan tempat orang tak henti mengaum

memamah ransum

 

di mana-mana kamera manusia memungut recehan

bagai mengepung murung

berpesta dalam warna tak berujung

 

tak secuil pun lisptikmu terseka

dalam terowongan waktu tak berjarum

kita tarikan penuh khidmat etalase majnun

 

dan orang-orang dari surga hinggap mengipaskan hawa

esok harus tetap terjaga, duduk menukar huruf

karena malam semakin cepat, pagi selamanya ada

 

terpenjara dalam sangkar bibir sesiapa

yang selalu punya jawab seluruh mimpi penguasa

melempangkan karpet merah kepura-puraan yang kau sulap jadi tembaga

 

Padang, Desember 2016

 

Burung-burung Pantai (2)

 

seseorang merasa burung dalam dadanya telah terbang

mengitari pantai paling sunyi

 

padahal belum sempat dilukisnya matahari yang menangis

ditinggal percakapan Nabi

yang mengajak manusia gemar

menulis riwayat kebaikan

 

seseorang merasa kebaikan-kebaikan telah meleleh

menjadi sumpah serapah yang bertebaran dalam gawai

karena gawai yang terbeli kala kerusuhan

menjanjikan surga paling berkilauan

 

Nabi-nabi tak pernah merasa bahwa burung-burung telah

bersua dengan kesedihan para gawai

karena gawai-gawai itu tercipta bukan dari benih-benih

luka yang sembunyi di rusuk air mata para Nabi

 

Batusangkar, Juni 2017

 

Bukan Karena Darah

 

ini bukan karena darah yang kusimpan

adalah bait-bait yang tertulis di musim lampau

melainkan karena kecambah yang kau rawat di pori hitam

meriap bau tanahnya, hinggap di musim sengau

 

lalu waktu membentangkan persimpangan pertemuan

bagai ular meranggas di balik bisa kata

terluka menatap jantung dengan rupa drakula

bersemi dalam rumah penuh badai lama

 

ini bukan berarti mataku berhenti menjilat wajahmu tirus

tapi sajak mesti selesai di nada tak berbentuk

suatu waktu kau tak butuh lagi kalimat berawalan ‘harus’

karena siapa pun selalu butuh terantuk

 

mencungkil seluruh lembah yang pernah terhampar

bukan untuk menerka seberapa dangkal kau lempar kepurapuraan

dunia akan terus berputar dengan banyak dentuman

Tuhan pun kadang tak ingin membuatmu temukan jawaban

 

Padang, September 2017

 

 

Mohammad Isa Gautama, kelahiran Padang, 1976, adalah penyair yang kini berkhidmat sebagai pengajar di Universitas Negeri Padang. Sajak-sajaknya dimuat di Republika, Media Indonesia, Majalah Sastra Horison, Bali Pos, Indo Pos, Lampung Post, serta 20-an antologi bersama, di antaranya Slonding (Yayasan Selakunda, Bali, 1998), Dari Bumi Lada (Dewan Kesenian Lampung, 2000) dan Origins (Ubud Writers and Readers Festival 2017).

Advertisements