Puisi-puisi Mutia Sukma (Koran Tempo, 25-26 November 2017)

Jonker Walk ilustrasi Indra Fauzi - Koran Tempo.png
Jonker Walk ilustrasi Indra Fauzi/Koran Tempo

Payudara Ibu

: Shangguan Lu

 

Sebelum menetes susu pada mulut yang

selalu menganga minta dijejali

Langit mula-mula begitu biru

Matahari memantul pada kilauan keringat

Di payudaramu yang selalu kau puja

Dan amini sendiri

Sebagai lembah bergulma yang minta disiangi

 

Kini kamu tutup seluruh jendela

Kamu tutup dari seluruh udara dan gerakan angin

Kamu tutup hingga membentuk ruang baru yang pengap

Yang bebas dimasuki dan dipuja,

Dikulum hisapi anak-anakmu

Selalu siap seperti guci yang menuang air ke dalam kendi-kendi

 

Setelah menetes susu pada mulut yang selalu minta dijejali

Aroma sate di panggangan atau sup lobak yang baru matang

Tak memanggil-manggil perut anakmu untuk diisi

Tapi memandang dadamu,

Manis kurma merekah

Lebih dari candu

 

2017

 

Jonker Walk

 

Seorang pemuda menutup pintu toko sebagian

Para wisatawan genit berjalan mengalungkan kamera di lehernya

Di foto,

Abadikan kesedihan si pemuda

Merenungi nasib yang entah apa namanya

Memandangi tembok yang tergantung jalinan bilahan bambu

Bergambar ornamen cina tua

Yang letaknya masih sama

Sejak ingatan pertama masih menempel di kepalanya

 

Kesedihan bangkit padanya bagai hantu dan dewa-dewa

Di luar jendela,

Toko dan motel melata bagai ekor si naga

Tak ditemukan lagi jejak kaki kecilnya

Atau gantungan karakter fu yang ditulis pada

kertas merah masa kanak

dan remang cahaya lampion

bagai ngilu masa lalu yang begitu samar

 

maka,

di setiap hari yang selalu ribut di luaran

dunia begitu sunyi baginya

 

2017

 

Mutia Sukma lahir di Yogyakarta, 12 Mei 1988. Buku puisinya, Pertanyaan-pertanyaan tentang Dunia, masuk lima besar penghargaan Kusala Sastra Kathulistiwa 2017 kategori Buku Pertama dan Kedua.

Advertisements