Cerpen Nofri Pratama (Rakyat Sumbar, 25-26 November 2017)

Jane ilustrasi Rakyat Sumbar.jpg
Jane ilustrasi Rakyat Sumbar

SUARA alunan nada yang mendayu-dayu itu adalah suara harmonika seorang pria tua yang sedang memainkannya yang duduk di atas gedung bangunan tua, berada di dekat pantai. Sambil menatap sang surya yang akan tenggelam, pria tua selalu datang dan menikmati senja di sana.

Konon itu dilakukannya—untuk menghibur diri sejak hatinya hancur dan sakit hati—setelah mengetahui wanita pujaan hatinya, meninggalkan dirinya untuk menikah dengan orang lain. Tanpa dia ketahui apa penyebabnya mengapa kekasihnya itu melakukan hal itu kepadanya.

Sejak saat itu, ia selalu menghabiskan waktu hanya untuk bermenung dan memainkan sebuah alat musik kesayangan: Harmonika.

Jane duduk termenung di dekat beberapa orang yang sedang asyik menceritakan sosok pria tua itu. Jane adalah perempuan bersuami, suaminya bernama Danu, yang baru bekerja sebagai wartawan di sebuah kantor media cetak di kota tua ini.

Jane yang tidak mempunyai pekerjaan tetap, ia seringkali bosan tinggal sendirian di apartemen mereka. Ia belum memiliki teman di kota ini, karena mereka baru pindah ke sini. Tiga tahun sudah umur pernikahan mereka, namun belum juga dikaruniai seorang anak sampai sekarang.

Inilah yang sering membuat mereka tidak harmonis, saling menyalahkan di antara mereka, yang ujung-ujungnya akan membuat pertengkaran. Mereka tidak tahu apa yang terjadi pada diri mereka, mereka berdua baik-baik saja. Namun, karunia itu belum berpihak kepada mereka berdua.

Jane menaiki bangunan gedung tua itu, langkah demi langkah, ia langkahkan menaiki anak tangga gedung tersebut. Gedung yang nampak pembangunannya terkendala itu, dan sudah lama ditinggalkan. Jane terus telusuri hingga ia sampai di atas bangunan, ia melihat seorang pria tua duduk menatap ke arah hamparan laut yang sangat indah sekali, untuk dipandang dari atas gedung ini.

Dalam hatinya bertanya, “Apakah itu pria tua yang mereka maksud,” pertanyaan itu pun terjawab setelah pria itu memainkan harmonikanya. Suara yang sangat merdu mendayu-dayu terdengar hingga membuat hati yang resah gelisah seperti yang Jane rasakan saat sekarang ini. Hilang, dan menjadi sedikit tenang dibuatnya. Ditambah pemandangan indah suasana kota tua ini. Jane pun menikmati itu dan melupakan masalahnya sejenak.

Jane melanjutkan langkahnya, mendekati pria tua itu. Kaki Jane tidak sengaja menendang sebuah kaleng bekas minuman bersoda. Dan membuat pria tua itu, kaget. Dan menghentikan aktivitasnya. Suasana pun hening seketika.

Jane terdiam dan merasa cemas dan takut pria tua itu marah kepadanya.

“Siapa dirimu?” Suara serak pria tua itu mengejutkan Jane.

“Maafkan aku, sudah mengganggu ketenanganmu,” ucap Jane dan mendekati pria tua itu. “Aku baru pindah ke kota ini. Aku tinggal bersama suamiku di apartemen sana,” ujar Jane, sambil menunjuk sebuah gedung yang tidak jauh letaknya dari gedung tua tempat mereka sekarang berada.

“Aku tidak punya teman di kota ini, tadi saya mendengar suara nada yang sangat merdu. Saat aku duduk di bawah sana. Dan aku juga sudah mendengar cerita, sedikit tentang Anda. Yang aku dengar dari beberapa orang,” papar Jane.

“Suamimu mana?” ucap pria tua itu, sambil membuka topi hitam yang ia pakai.

“Akhir-akhir ini kami sering bertengkar.”

“Kenapa?”

“Hanya masalah sepele.”

“Masalahnya?”

“Hanya sampai sekarang kami belum dikaruniai anak,” mata Jane pun mulai berkaca-kaca.

“Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Masalah hanya bumbu hidup, yang harus kita nikmati. Kalau tidak, hidup ini hanya akan terasa hambar,” ujar pria tua itu, dan pria tua itu pun memainkan harmonikanya kembali.

Jane hanya diam menatap kearah hamparan lautan yang luas dan sangat indah dipandang dari atas gedung tua itu. “Lalu, bagaimana denganmu?” ucap Jane, membuat pria tua itu menghentikan kembali aktivitasnya dan menatap dengan pandangan tajam seperti kaca yang tergeletak di tanah dan ujungnya yang sangat runcing, siap menusuk dan menyayat siapa saja kaki yang menginjaknya. Terhadap Jane.

“Setiap orang punya hak untuk mencari jawab rasa ingin tahunya, tetapi tidak semua orang punya hak, untuk tahu semua tentang kita. Jadi, kamu tidak perlu tahu tentang diriku,” ucap pria tua itu.

“Baiklah kalau memang harus begitu,” jawab Jane.

“Hanya keegoisan yang membuat kalian begini, memang kita tidak selalu siap dan kuat untuk menghadapi permasalahan yang kita terima. Tapi, cobalah untuk tenang menghadapinya! Pasti perlahan-lahan jalan keluarnya akan ditemukan,” ujar pria tua itu.

“Lalu?”

“Malam kita merindukan matahari, siang kita merindukan bintang. Sayangi dan cintai apa yang ada pada dirimu saat ini, karena jika ia menghilang, maka kamu akan menyesal menahan rindu. Sederhana saja, jangan terlalu memikirkan permasalahan yang ada, karena Tuhan pasti tahu apa yang terbaik untuk kita.”

“Maksud Anda?” ujar Jane.

“Temui suamimu! Dan meminta maaflah kepadanya! Semarah-marahnya lelaki tetapi di hatinya pasti tertulis nama orang yang sangat dia sayangi di dalam hidupnya, dan pastinya kemarahan itu akan berubah jadi kasih sayang,” ucap pria tua itu.

Suasana seketika hening, mereka berdua bertatapan satu sama lain, pria itu memakai topi hitamnya kembali.

Jane pun berdiri, ia bergegas pergi meninggalkan pria tua itu. Dan berjalan menuju tangga gedung tua ini untuk turun kembali.

“Siapa namamu?” teriakan pria tua itu, Jane pun menghentikan langkahnya, “Jane”.

“Nama yang bagus,” pria tua itu pun memainkan harmonikanya, kembali.

Jane berlari menuruni anak tangga gedung tua itu, tanpa menghiraukan keselamatannya, bisa saja kakinya terpeleset dan jatuh terguling melewati tangga. Namun, Jane tetap terus tergesa-gesa menuruninya, anak tangga demi anak tangga dilalui, hingga akhirnya Jane keluar dari kawasan gedung tua itu. Dan terus berlari menuju apartemen tempat mereka tinggal.

Sesampainya di apartemen, Jane langsung membuka pintu dan berteriak memanggil suaminya, sambil mondar-mandir menelusuri ruangan apartemen itu, untuk mencari suaminya. Namun, ia tidak melihat dan menemukan suaminya.

Saat suaminya memanggil namanya dari belakang, Jane pun terkejut dan berbalik arah dan berlari ke arah suaminya, ia pun memeluk suaminya dengan erat. Sambil air matanya berjatuhan membasahi pipinya. Ia pun meminta maaf kepada suaminya. Melihat istrinya begitu, mata Danu pun berkaca-kaca, dan hanyut dalam suasana haru.

Sejak saat itu hubungan mereka berubah, membaik dan tidak pernah ada lagi pertengkaran di antara mereka berdua. Setelah beberapa bulan Jane pun mengandung, mereka berdua sangat bahagia, yang selama ini mereka nanti-nantikan dan mereka impikan sebentar lagi akan terwujud.

Jane teringat kembali dengan sosok pria tua yang pernah ia temui waktu itu. Dia menceritakan semua tentang pertemuannya dengan pria tua itu. Ia pun mengajak suaminya untuk bertemu pria tua yang sudah memberinya semangat dan pelajaran yang sangat berharga dalam hidupnya itu.

Saat mereka berdua menaiki tangga gedung tua itu, sesampainya di atas mereka tidak menemukan siapa pun. Pria tua yang Jane ceritakan pada suaminya pun, tidak tahu entah ke mana. Namun mereka tetap menunggu sampai pria tua itu datang.

Detik demi detik dan menit pun berlalu. Tanpa terasa mereka sudah berjam, menunggu di atas gedung ini. Hingga matahari mulai terbenam dan perlahan-lahan mulai lenyap. Namun sosok pria tua yang mereka tunggu tak kunjung datang.

Mereka berdua pun memutuskan untuk turun dari atas gedung tua itu. Akhirnya mereka sampai di bawah dan segera pulang, namun Jane melihat seorang laki-laki yang saat itu ikut duduk bercerita tentang sosok pria tua itu, dia pun menghampiri laki-laki itu dan bertanya tentang pria tua itu. Namun, alangkah kagetnya Jane mendengar ucapan laki-laki itu, yang mengatakan bahwa pria tua itu telah meninggal dunia beberapa bulan yang lalu. Ia seakan tak yakin dengan kabar berita itu. Ia pun menangis, Danu pun menenangkan istrinya itu. Dan membawanya pulang.

Memang semua pertemuan akan berakhir dengan perpisahan, dan akan membuat sesuatu kenangan yang menciptakan rindu. Ciptakan sesuatu yang baik dalam hidup, untuk dikenang sebagai pengobat rindu apabila seseorang mengingat kita. Setelah kita menghilang dari hadapannya kelak.” (*)

Advertisements