Cerpen Etik Nurhalimah  (Republika, 26 November 2017)

Impianku-2 ilustrasi Rendra Purnama - Republika.jpg
Impianku ilustrasi Rendra Purnama/Republika

(HABIS)

“Tuan, kalau ada kiriman barang atas namaku tolong terima dan simpan dahulu ya. Nanti jam istirahat, aku akan turun untuk mengambilnya,” ucapku pada satpam apartemen.

“Oh iya, Nona. Kalau boleh tahu, bentuk paketan apa itu?” tanya lelaki paruh baya itu.

“Hanya berupa buku kok. Dan tidak perlu membayar.”

“Oke, kalau begitu.”

“Terima kasih, Tuan. Ini ada sedikit camilan untuk nanti sore,” seraya kusodorkan bungkusan kecil berisi biskuit dan kopi.

“Wah, terima kasih, Nona.”

“Sama-sama, Tuan,” balasku, sambil berlalu untuk naik ke apartemen.

Ini bukan sogokan, hanya tanda terima kasih. Satpam itu kerap membantuku menyelamatkan buku-buku dan modul sekolah, yang dikirim pihak pengajar untukku.

Ujian di ambang mata. Lagi-lagi aku masih bingung, bagaimana harus mendapatkan izin agar bisa libur dua kali di bulan ini. Karena, sebenarnya tuan hanya memberikan jatah satu kali libur dalam sebulan.

Terpaksa kali ini aku harus meminta bantuan agensi. Beliau baik sekali, memperlakukanku seperti anaknya sendiri. Bahkan, di tengah penentangan yang dilakukan oleh Tuan atas niatku bersekolah, beliau memberi dukungan seratus persen.

“Kuliahlah! Karena hanya dengan ilmu dan pendidikan engkau mampu mengubah dunia. Maka ubahlah duniamu menjadi indah dan penuh warna,” tutur petugas agensi memberi semangat.

Sebenarnya bukan tanpa alasan dia baik padaku. Dahulu, saat kali pertama aku menginjakkan kaki di Formosa, nasibku kurang beruntung. Di dalam job kerja yang kutanda tangani ketika di PJTKI, tugasku menjaga nenek. Ternyata, aku dipekerjakan di pabrik. Harus membersihkan area pabrik yang luasnya seperti lapangan bola, serta berketinggian tingkat lima.

Belum lagi harus memasak untuk tujuh belas orang setiap hari. Tidak ada seorang TKW pun yang betah bekerja di sana terlalu lama. Satu sampai dua bulan pasti mereka kabur. Tetapi aku mampu bertahan hampir dua tahunan.

Oleh sebab itulah agensi mengagumi kesabaranku. Hingga akhirnya ketika aku sudah tidak kuat lagi, ia menjemput dan mempekerjakanku di sini. Bagiku, mimpi buruk itu telah terlewati. Di mana aku terpasung dalam kesunyian, tertekan dalam tahanan, serta tertindas dalam penjajahan.

Pagi cerah, matahari menyapa ramah. Sisa-sisa embun masih menempel di keindahan daun-daun dan kelopak bunga. Hari ini adalah hari liburku, sekaligus pelaksanaan ujian semester akhir. Seperti biasa, sebelum berangkat, terlebih dahulu kubersihkan rumah, membeli koran pagi untuk nenek, sekaligus mengajaknya berolahraga sebentar di lantai bawah. Setelah itu, menyiapkan sarapan untuk nenek.

“Kamu nanti berangkat jam berapa, Ami?” tanya nenek.

“Jam delapan, Nek. Setelah beres semuanya, aku mau bersiap-siap,” jawabku yang tengah menyiapkan obat pagi untuk nenek.

“Kalau libur hati-hati ya. Apalagi di tengah kerumunan orang banyak, kamu harus selalu jeli dan teliti. Jangan hanya bermain HP! Hingga tidak tahu apa yang terjadi.”

“Iya, Nek. Aku pasti berhati-hati. Terima kasih atas peringatannya.”

Akhir-akhir ini memang marak terjadi tindak kriminalitas justru di tempat-tempat umum. Mulai dari pembunuhan terhadap anak balita, penyerangan membabi buta terhadap petugas stasiun, hingga banyak tertangkapnya orang yang membawa senjata tajam saat bepergian. Sehingga membuat pemerintah Taiwan semakin ketat melakukan pemeriksaan.

***

Suasana tegang dan mendebarkan. Lembaran soal ujian ada di depan mata. Berbekal niat dan mengucap bismilah, satu per satu soal kukerjakan. Harapanku satu, mendapat nilai memuaskan yang akan kupersembahkan pada bapak-emak.

“Ami, selesai kuliah mau ke mana?” seloroh Dewi di tengah obrolan bersama kami.

“Kita makan ke toko Indo saja ya. Soalnya kalau di rumah aku tidak pernah makan menu itu,” jawabku penuh semangat.

“Oke. Si nona ternyata kalau di rumah kelaparan ya, he … he … he …,” ejek Dewi menggoda.

Kami pun pergi ke area toko Indo untuk mencicipi masakan nusantara. Kebetulan matahari mulai condong meninggi serta perut kecilku sudah kelaparan. Pada saat inilah aku bisa merasakan menu makanan.

Kembali aku sendiri bersama malam, langit jernih yang mengumbar bintang-bintang. Remang-remang lampu menghiasi pinggir-pinggir jalan. Kusandarkan tubuh lelahku di kursi bus bernomor 215 yang akan membawaku pulang ke tempat kerja.

Sesegera mungkin inginku menuju kantung tidur dengan membawa enaknya cita rasa nasi Padang yang kunikmati di toko Indo tadi ke alam mimpi. Agar besok pagi aku tidak perlu kelaparan. Karena hanya disiapkan selembar roti tawar tipis dan segelas air putih, menu sarapan pagi setiap hari.

Kutekan bel pintu rumah karena nenek tak pernah membiarkanku membawa kunci jika bepergian. Aku bercedak kaget. Saat mengetahui anak bungsu neneklah yang membukakan pintu untukku.

“Cece, apa kabar?” sapaku, dengan menyuguhkan senyum ramah terbalut letih.

“Kabar baik, Ami. Sudah pulang liburannya?” tanyanya berbasa-basi.

Perasaanku tidak nyaman. Kenapa semua anak nenek berkumpul di rumah? Sebenarnya apa yang terjadi? Mungkinkah ada hubungannya dengan uang nenek yang ia bilang hilang tempo hari lalu? Belum sempat kuletakkan tas punggung berisis buku dan alat lainnya.

Tiba-tiba Cece memanggilku untuk duduk di ruang tamu. Seketika itu juga perasaan was-was menyelimuti. Jangan-jangan mereka akan memulangkanku ke Indonesia sekarang juga? Belum sirna rasa penasaranku, Cece dengan cepat membuka percakapan.

“Ami, atas nama nenek saya minta maaf, karena telah berburuk sangka padamu. Sebenarnya kalau saya pribadi yakin benar, kamu tidak mencuri uang itu,” terangnya, “karena kamu sudah lama bekerja di sini, serta merawat nenek dengan baik-baik.”

Aku terdiam, bingung. Kenapa Cece berkata seperti itu? Ia tahu dari mana jika bukan aku yang mengambil uang itu. Belum hilang sejuta tanya dalam hati, Cece langsung menjelaskan; jika tadi nenek sempat tidak enak badan. Tensi darahnya mencapai 185.

Dengan cepat Tuan Shu menelepon anak-anak nenek yang lain agar turut serta mengantar ke rumah sakit. Setelah mium obat dari dokter, tensinya kembali normal. Hingga tidak perlu menjalani rawat inap dan diperbolehkan pulang.

Berhubung kamar nenek sempit, sedangkan anaknya berjumlah empat orang datang semua, terpaksa bantal-bantal yang berada di samping kanan-kiri nenek tidur, ditumpuk menjadi satu. Ketika itulah tumpukan uang itu ditemukan di bawah bantal oleh anak kedua nenek yang kupanggil Er Keke.

Aku pun terharu mendengar cerita itu, tak sadar telaga ini berkaca-kaca. Kemudian buliran bening itu jatuh. Bahagia. Kebenaran akan tetap tampak, meskipun harus mengalah beberapa saat. Serta sebuah usaha dan kesabaran pasti akan berbuah manis. Terima kasih, Tuhan, akhirnya Kau jawab semua doaku.

Dengan langkah gontai aku menuju kamar nenek. Ia tengah tergolek lemah di tempat tidur. Matanya yang sayu mengingatkanku pada sosok emak. Wanita yang selama ini sangat kurindukan.

 

Taiwan, 27 Mei, 2017

ETTY DIALLOVA (NAMA ASLI ETIK NURHALIMAH) adalah seorang buruh migran Indonesia (BMI) yang tinggal di Taiwan. Di tengah kesibukannya sebagai BMI, Etty juga aktif sebagai jurnalis untuk media BMI di Taiwan dan rajin menulis cerpen. Hidup dan bekerja di negeri orang, justru mendorong Etty untuk meningkatkan ilmunya. Ia kuliah di Universitas Terbuka. Cerpen “Impianku” berhasil menjadi pemenang ketiga Bilik Sastra VOI Award 2017 yang diadakan oleh RRI Siaran Luar Negeri.

Advertisements