Cerpen Agung Zakaria (Pikiran Rakyat, 26 November 2017)

Secangkir Ingatan ilustrasi Rifky Syarani - Pikiran Rakyat
Secangkir Ingatan ilustrasi Rifky Syarani/Pikiran Rakyat

HARUM khas tercium dari secangkir ramuan yang tersaji di hadapannya. Ramuan berwarna hijau tua yang masih mengepulkan uap tipis. Lelaki itu menghirupnya dalam-dalam, perlahan. Ia begitu menikmati setiap aroma yang keluar bersama embusan uap. Ramuan hangat yang biasa disebut jamu. Jamu kunci suruh.

KUNCI suruh? Kunci suruh adalah jamu yang dihasilkan dari paduan daun sirih, bunga kenanga, dan kunci. Bukan kunci rumah, kunci mobil, apalagi kunci lemari. Kunci adalah sejenis rimpang, bentuknya mirip jahe namun lebih kecil, dan beraroma segar.

Orang-orang percaya dengan meminum jamu kunci suruh dapat membuat tubuh lebih tenang, termasuk lelaki itu. Ia sudah terbiasa meminumnya sejak usia remaja, sejak banyak hal yang dirasa memberatkan kepalanya.

Panggil saja lelaki itu Zafran. Ia adalah mahasiswa semester tujuh teknik arsitektur di salah satu perguruan tinggi ternama di Yogyakarta. Lelaki asal kota dingin di bagian timur Pulau Jawa yang terkenal dengan kulinernya, bakso.

Menginjak semester tujuh adalah fase paling sibuk bagi seorang mahasiswa. Tugas akhir memaksa jemarinya senantiasa bermesraan dengan keyboard, tak jarang kepalanya pun dibuat pusing olehnya.

Di tempat itu, warung berdinding bambu beratap anyaman daun tebu kering di ujung jalan.

Lelaki itu biasa menghabiskan waktunya di kala weekend, rehat sejenak dari segala aktivitas yang membuatnya pening. Yang dipesannya selalu sama, sejak pertama kali ia datang. Mbok Jum, pemilik warung, sudah mengerti apa yang harus dihidangkan saat Zafran mampir ke warungnya. Secangkir jamu kunci suruh, tanpa mendoan ataupun roti goreng. Hanya secangkir jamu.

Zafran meneguk jamu itu, setelah cukup lama menikmati aromanya. Gleg. Tegukan pertama mengingatkannya pada sosok wanita yang senyumannya adalah obat, peluk tangannya adalah penawar rindu. Ia adalah ibu.

Dahulu waktu kecil ia sering berlarian di antara rimbunnya pohon-pohon kenanga. Memunguti setiap bunga matang yang berjatuhan. Bermain bersama kumbang macan yang hinggap di dedaunan. Menyapa kupu-kupu yang tengah bercengkrama dengan kuningnya mekar bunga kenanga.

Memetik bunga kenanga adalah hal yang menyenangkan baginya. Kakinya yang kecil dengan lincah memanjat dahan kenanga yang pendek. Satu tangannya berpegang erat pada dahan, sedangkan tangan yang bin sibuk memetik bunga-bunga. Sering kali ia harus berkelahi dengan semut, saat tanpa sengaja tangannya menyenggol istana mereka.

Ketika matahari naik setinggi tombak, sinarnya mulai menembus celah-celah dedaun, saatnya mereka pulang. Zafran dan ibunya kembali ke rumah dengan membawa sekantung bunga kenanga, daun sirih, dan kunci yang telah mereka kumpulkan dari kebun.

Sesampai di rumah bahan-bahan yang sudah dikumpulkan dicuci bersih. Bahan- bahan itu ditiriskan, kemudian dihaluskan bersama air. Ibunya lebih memilih blender daripada menumbuknya secara manual, karena lebih cepat dan mudah. Bahan-bahan yang sudah halus lalu disaring, ditambah madu, gula, dan sedikit garam. Ramuan kunci suruh pun siap.

Biasanya, tiap sore hari akan banyak tetangga yang datang ke rumahnya, meski sekedar untuk mencicipi jamu buatan ibunya. Zafran hanya bergidik geli melihat ibu-ibu tanpa ragu meminumnya. Ramuan bunga, daun, dan rimpang yang dipadukan secara harmonis.

Apa yang ada di benak anak umur delapan tahun tentang jamu yang berwarna pekat? Pahit?

Gak enak? Itu pula yang ada di pikiran Zafran. Suatu ketika ia pernah minum jamu di pasar bersama ayahnya. Cangkir milik Zafran tertukar. Ia meminum jamu pesanan ayahnya yang tanpa gula. Seketika bocah itu muntah-muntah di depan lapak pedagang. Ayahnya hanya tertawa melihat anaknya seperti itu. Sejak kejadian itu Zafran enggan meminum jamu lagi, bahkan melihat orang-orang meminumnya pun ia merasa geli.

Namun saat Zafran sudah duduk di bangku kelas dua SMP, ia terserang diare. Perutnya terasa mulas setiap saat, seperti rasa ingin muntah dan buang air. Tubuhnya lemas dan pucat.

Melihat kondisinya yang lemah, dengan sigap ibunya membuatkan jamu kunyit asam.

Ibunya menghampiri Zafran yang terbaring lemah di kamar, dengan secangkir jamu yang dibawanya. Ia bangunkan Zafran dari tidumya. Ia sodorkan secangkir ramuan itu dan menyuruh Zafran meminumnya habis. Zafran menurut saja. Melalui jamu kunyit asam yang diminumnya, sehari kemudian ia sembuh. Sejak saat itu ibunya selalu membuatkan jamu spesial untuknya. Rasa phobia terhadap jamu sudah hilang, bahkan sekarang ia begitu menggemarinya.

Tak pernah luput secangkir jamu kunci suruh dari menu hariannya. Ibunya memang selalu membuat jamu, setiap hari. Jamu diyakininya sebagai obat paling mujarab tanpa efek samping. Selain itu jamu juga bisa menjaga kesegaran tubuh, terutama kunci suruh.

Kandungan sirih dalam jamu dipercaya dapat membunuh bakteri dalam tubuh, kunci untuk menyegarkan badan, sedangkan kenanga untuk memberikan efek harum dalam tenggorokan setelah meminumnya.

Jamu juga bisa jadi teman saat galau. Ia bisa merelaksasi tubuh. Menenangkan syaraf yang tegang akibat beban pikiran yang berat, juga menambah stamina. Banyak sekali macam jamu dan juga manfaatnya. Yang jelas manusia harus back to nature, tidak menggunakan obat-obatan kimia jika tidak diperlukan. Dengan meminum jamu berarti turut melestarikan warisan budaya bangsa.

Tiba-tiba saku celananya bergetar. Zafran tersadar dari lamunannya. Ia tarik sebuah HP warna putih darinya.Terlihat di layar bahwa ada pesan masuk dari Rara, adiknya.

Mas, besok aku, ibu, dan bapak mau berkunjung ke sana. Sudah setahun lebih Mas ndak pulang ke Malang. Kita kangen, ibu yang paling kangen. Oh ya, Mas mau dibawakan oleh-oleh apa?

Membaca pesan singkat itu Zafran bagai kejatuhan durian runtuh. Hatinya berbunga-bunga. Tak sabar rasanya ingin segera berjumpa dengan keluarga yang selama ini ditinggalkannya demi menuntut ilmu. Masalah- masalah yang memenuhi kepalanya seakan menguap terbang bersama hembusan angin malam. Terasa plong. Hilang segala beban. Tanpa pikir panjang ia segera membalas pesan itu.

Bawakan jamu kunci suruh saja! Mas kangen sekali dengan jamu racikan ibu. Kalau bisa sama kering tempe, biar bisa jadi lauk kalau Mas mau puasa.

Ia masukkan HP ke dalam sakunya kembali. Wajahnya tampak sumringah. Senyum simpul tersungging di wajah manisnya. Ia hirup aroma secangkir jamu di hadapannya dalam-dalam, perlahan. Ia teguk lagi. Terbayang wajah ibu dalam setiap tegukan, setiap tetes jamu yang mengaliri kerongkongan. ***

Advertisements