Cerpen Mashdar Zainal (Lampung Post, 26 November 2017)

Hikayat Kakek tentang Lapar ilustrasi Sugeng Riyadi - Lampung Post
Hikayat Kakek tentang Lapar ilustrasi Sugeng Riyadi/Lampung Post

DI beranda rumah yang sangat sederhana itu, seorang bocah yang sedang kelaparan, tengah dihibur kakeknya dengan sebuah cerita. Sebuah hikayat. Hikayat tentang lapar.

“Jika ada sebuah cerita yang bisa membuatmu kenyang, apakah kau mau mendengarkan cerita itu?” Sang kakek memulai cerita itu dengan sebuah pertanyaan.

“Apakah ada cerita yang seperti itu, Kek. Cerita yang bisa membuat seseorang menjadi kenyang?” si cucu balas bertanya.

“Mari kita buktikan,” kata sang kakek kemudian. Dan sang kakek pun memulai hikayatnya.

Ada sebuah kota di mana penduduknya selalu merasa lapar, jangan kau kira mereka tak pernah makan. Mereka makan. Mereka selalu makan. Makan apa saja. Seolah-olah perut mereka bisa menampung semua makanan yang ada di muka bumi ini. Tapi begitulah, mereka selalu merasa lapar. Mereka tak pernah merasa kenyang.

“Apakah penduduk kota itu para raksasa?” si cucu bertanya karena merasa penasaran.

“Kau simpan saja pertanyaanmu untuk nanti,” sahut sang kakek.

Bocah itu terdiam, memperhatikan. Dan sang kakek pun melanjutkan ceritanya…

Kota itu dulunya sangat permai, dipimpin oleh seorang paduka yang tidak rakus lagi bijaksana. Sudah lama sekali kota itu melestarikan budaya dan tradisi yang dicipta leluhurnya, salah satunya adalah berpuasa pada waktu-waktu tertentu. Ya, berpuasa.

Seperti pemimpin-pemimpin sebelumnya, sang paduka pun mewajibkan seluruh rakyatnya untuk berpuasa pada waktu-waktu tertentu. Bertahun- tahun lewat dan mereka hidup berdampingan, dengan damai. Mereka menjaga alam dan sesamanya, mereka menjaga petuah dan nasihat-nasihat. Hingga sang paduka menua kemudian meninggal, dan kedudukannya digantikan oleh putranya.

Putra sang paduka ini dipanggil paduka muda, dan ia memiliki tabiat seperti musang. Kau paham tabiat musang? Ya, rakus.

Begitulah, dalam memimpm rakyatnya, sang paduka muda ini selalu berbuat sesuka hatinya. Ia akan melakukan apa saja untuk menyenangkan hatinya. Dan ia adalah orang pertama yang membenci kebiasaan berpuasa. Maka, di bawah kepemerintahannya tradisi puasa yang dilakukan beberapa waktu sekali itu pun dihapuskan.

Tradisi leluhur itu pun dimusnahkan. Maka, sejak saat itu, para penduduk tak pernah lagi berpuasa. Dan karena mereka telah menyalahi tradisi, mereka pun mendapat sebuah cobaan dari langit berupa rasa lapar yang begitu dahsyat. Rasa lapar yang seperti kutukan. Rasa lapar yang terus melilit perut warga kota.

Maka, lambat laun, para penduduk kota itu menjelma menjadi binatang semacam tikus besar. Semacam musang. Semacam binatang-binatang yang hanya tahu makan dan makan. Maka, tak bisa dicegah, warga kota pun mulai memakan apa saja, mulai dari pepohonan, batu-batu, tanah, rongsokan besi, dan bahkan bangkai.

Satu perutu apa-apa yang dimiliki kota itu habis karena dimakan oleh penduduknya sendiri. Sesaat saja mereka menahan lapar, perut mereka akan segera berbunyi keras-keras, seperti sebuah ledakan di dalam perut, dan mereka akan segera merasa kesakitan.

Dan tahukah kau apa yang terjadi kalau sudah begitu? Ya. Setiap orang akan berlomba-lomba untuk mencari sesuatu yang bisa mengisi perut mereka. Mereka akan saling menyikut, mendengkul, menyodok, dan bahkan saling membunuh.

Mereka lupa pada keluarga dan sanak saudara. Karena mereka telah menjelma binatang pengerat. Mereka selalu berada di jalan-jalan dengan mulut terus bergerak mengunyah sesuatu. Perut mereka membesar dan menggelambir karena terlalu banyak makan.

Mereka beristirahat makan hanya ketika sedang tidur. Jadi, mulai bangun tidur sampai tidur kembali, penduduk kota itu akan berjibaku untuk mencari sesuatu yang bisa mereka gunakan untuk mengisi perut mereka.

Mereka akan menyebar seperti layaknya binatang pengerat dan mulai menggerogoti apa saja yang ada di kota itu. Pohon-pohon telah habis, rumah-rumah pun telah ludes, bahkan tanah-tanah pun berkubang-kubang karena dikeruk oleh perut-perut yang lapar.

Beberapa penduduk lemah yang tak pernah mendapat jatah makanan secara cukup lebih memilih untuk tertidur sedikit lama, hingga tanpa sadar beberapa dari mereka mati dalam tidur mereka. Mati dalam keadaan lapar. Mati oleh rasa lapar. Jasad mereka pun segera raib dicabik dan dimakan oleh saudara mereka sendiri yang selalu lapar.

Itu memang menyeramkan. Sangat menyeramkan. Rasa lapar memang lebih menyeramkan dari hal paling menyeramkan sekalipun.

Sang paduka muda tak pernah bisa mengendalikan rakyatnya, karena ia sendiri telah menjadi binatang pengerat paling kuat yang mulutnya paling lebar dan giginya paling runcing dan perutnya paling besar. Benar-benar sebuah kota yang menyedihkan.

Sang kakek terdiam dan memandangi raut cucunya yang perlahan mulai tenang. Tidak lagi meringis menahan lapar.

“Apa yang kemudian terjadi pada kota itu dan penduduknya? Apakah mereka masih terus saling memakan?” si cucu bertanya ingin tahu.

“Begitulah dan akhirnya kota itu pun binasa oleh penduduknya sendiri,” sang kakek mengakhiri ceritanya dan sang cucu hanya terbengong-bengong.

“Tak ada akhir yang bahagia?”

“Takkan pernah ada akhir bahagia bagi sesuatu yang salah.”

Si cucu mengangguk-angguk seolah paham.

“Apa sekarang kau masih merasa lapar?” Tanya sang kakek kemudian.

“Sedikit,” sahut si cucu.

“Kau tahu mengapa manusia selalu merasa lapar?”

Si cucu menggeleng, maka sang kakek menjawabnya sendiri, “Karena dalam perut manusia ada makhluk manja bernama lambung, lambung itu melar seperti karet. Jadi. sebanyak apa pun kau mengisinya, ia akan selalu mempunyai sisa tempat untuk kau isi lagi dan lagi hingga lambung itu sendiri meledak dan rusak.”

Si cucu mengernyit ngeri.

“Lambung itu, Nak,” lanjut sang kakek, “seperti binatang piaraan yang manja, kita tak punya cara yang lebih baik untuk mengendalikannya selain berpuasa. Seperti yang kita lakukan hari ini. Jadi, apa kau masih sangat lapar?”

Si cucu menggeleng dan tersenyum, “Cerita kakek membuatku kenyang,” singkatnya. ■

 

Malang, 2015

Advertisements